Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 85


__ADS_3

Dua bulan setelah melahirkan Ian harus pulang pergi Rumah Sakit karena anak kedua nya di rawat secara intensif hingga berat badan nya mencapai batas minimum yang wajar untuk bayi baru lahir dan memastikan organ pernapasan nya optimal. Dua bulan itu Ian tidak bisa menyusui bayinya secara langsung. Ia harus memompa air susu miliknya dan di berikan kepada suster jaga. Di malam hari Ia menangis memikirkan bayi nya, di lain sisi Ia pun harus menahan sakit di payudara nya ketika air susu milik nya sudah sangat penuh.


Beberapa kali Ia demam menggigil dan payudara nya sekeras batu jika di sentuh. Dua bulan pertama setelah melahirkan adalah masa terberat untuknya. Suami nya pun tidak bisa selalu menemani nya karena pria itu pun kembali bekerja seperti sedia kala. Namun Ian merasakan perubahan sikap suaminya yang lebih perhatian pada dirinya dan Varo setelah melahirkan anak kedua mereka.


Melihat Ian yang kerepotan, kedua orang tua Ian pun akhirnya melunak. Imran memberikan seorang baby sitter yang dulu mengasuh Varo untuk mengurus segala keperluan Varo sekolah dan selama Ian tinggal pergi ke Rumah Sakit. Imran pun memberikan kembali mobil yang dulu Ia beri untuk memudahkan mobilitas Ian.


Hari ini Ian pergi ke Rumah Sakit lagi untuk memberikan stok ASI untuk putra keduanya. Ia masuk ke ruang bayi namun tidak Ia tidak melihat putranya di dalam inkubator. Ian menoleh ke kanan kiri mencari suster jaga. Ia melangkah keluar ruangan dan bertanya pada seorang suster yang berada di depan ruangan.


"Permisi Sus, anak saya gak ada di dalam inkubator.. Bisa kasih tau saya di bawa kemana?".


Suster tersebut nampak berpikir sejenak. "Oh, Bu Ian ya?".


Ian dengan cepat mengangguk.


"Anak Ibu lagi di observasi oleh Dokter Rika yang selama ini menangani anak Ibu di Rumah Sakit. Kemungkinan anak Ibu sudah boleh di bawa pulang.. Tapi tunggu keputusan Dokter Rika dulu aja ya, Bu.. Mari ikut saya..." Jelas Suster tersebut.


Raut wajah Ian terkejut. Betapa senangnya Ia saat mendengar bahwa putra keduanya bisa di bawa pulang ke rumah. Ia tidak sabar ingin memeluk bayi mungilnya dan tidur bersama!.


Ian mengikuti sustet tersebut masuk kedalam sebuah ruangan yang tak jauh letaknya dari ruang NICU. Ian mendengar suara tangisan kencang bayi dari dalam. Apa itu tangisan anak gw?


Mata Ian berbinar-binar tatkala membayangkan bahwa tangisan kencang yang Ia dengar saat ini adalah tangisan putranya. Itu artinya organ pernapasan putranya sudah sangat sehat!


Ian melangkah masuk ke dalam dan melihat ada Ifan, adik nomor 2 tengah berdiri seraya menggantikan popok seorang bayi. Ifan menoleh pada Ian dan memberikan kode untuk menunggu. Ian pun mengangguk dan memilih duduk.


Tak lama Ifan menghampiri Ian dengan menggendong seorang bayi. Ifan menyerahkan bayi dalam gendongan nya pada Ian. Dengan raut wajah bingung Ian mengulurkan tangannya.


"Dia udah bisa lo bawa pulang, Teh. Semuanya udah normal dan sehat". Ucap Ifan.

__ADS_1


Ian melongo. "Hah? Apa? Jadi ini anak gw?".


"Ya iyalah anak lo! Masa anak gw?!".


Ian terkekeh seraya beranjak berdiri. "Sorry mukanya kan tadi gak keliatan kalau lo posisi berdiri sedangkan gw duduk, dek".


Ian dengan tangkas mengambil alih putranya dari gendongan Ifan. Senyuman merekah terbit di bibirnya. Ian mencium pipi bayi mungil itu.


"Siapa sih namanya?". Tanya ifan.


"Kai. Ponakan kedua lo ini namanya Kai". Ucap Ian tanpa menoleh pada Ifan. Ia masih betah memandangi putranya.


"Kai.. Nama yang bagus. Oh ngomong-ngomong lo harus ngobrol dulu sama Dokter Rika terkait urusan si Kai. Gw tadi hanya bantuin aja karena Dokter Rika tau gw Om ganteng si bayi ini". Ucap Ifan seraya mengelus pelan pipi Kai.


Ian mengangguk antusias.


Ian keluar ruangan seraya menggendong Kai di temani oleh Ifan. Baru beberapa langkah keluar ruangan Dokter Rika, Ia berpapasan dengan Rio. Ian cukup terkejut meluihat Rio berada di Rumah Sakit.


"Yo? Ngapain lo di sini?". Tanya Ian.


"Jemput lo lah.."


Ian melongo tak mengerti. "Hah? Gw bawa mobil sendiri".


"Terus anak lo mau di taro mana pas lo nyetir?".


Ian termenung. Ia baru sadar bahwa Ia tidak membawa baby seat di dalam mobilnya. Karena semua serba mendadak. Ia pun tidak tahu kalau Kai bisa langsung di bawa pulang hari ini juga!

__ADS_1


"Gw yang nelfon Bang Rio, Teh. Sebelum gw nelfon Bang Rio, gw nelfon Bang Ilham dulu.. Tapi saat gw telfon Bang Ilham dia lagi bawa penumpang ngarah ke tanjung priok katanya. akhirnya gw minta izin dia untuk minta tolong Bang Rio buat temenin lo pulang. Bang Ilham izinin.. Gw 1 jam lagi ada operasi soalnya jadi gak bisa antar lo pulang". Ifan menjelaskan secara detail mengapa Rio bisa tiba-tiba berada di hadapannya saat ini.


"Terus lo naik apa ke sini, Yo?". Tanya Ian.


"Ojek online hehehee". Rio terkekeh geli.


Ian geleng-geleng kepala melihat perilaku Rio yang tidak kenal waktu atau lokasi. Kapanpun Ia perlu pertolongan, pria itu pasti selalu datang.


ian dan Rio pun melangkah menuju tempat parkir. Ian memberikan kunci mobil miliknya pada Rio. Tujuan pertama Ian adalah rumah kedua orang tuanya. Imran dan Dewi pasti sangat bahagia ketika melihat cucu keduanya sudah pulang. Ifan tadi memberi tahu bahwa Imran dan Dewi belum mengetahui kabar bahagia ini.


Satu jam kemudian mereka pun telah sampai. Ian dengan penuh suka cita melangkah masuk ke dalam rumah. Dewi yang sedang menyulam di ruang tengah pun terkejut melihat Ian datang dengan menggendong seorang bayi.


Wanita paruh baya itu sontak saja menghampiri Ian. "Ini.. cucu mama? Udah boleh pulang?". Tanya Dewi dengan haru.


Ian mengangguk seraya tersenyum. Dewi langsung saja naik ke lantai atas hendak menghampiri Imran yang sedang berada di dalam ruang kerjanya.


Ian duduk di ruang tengah. Matanya tak lepas menatap putra keduanya yang tertidur lelap. Rio mengulas senyum melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.


"Lo ternyata punya naluri seorang Ibu yang sangat kuat.. Gw suka ngeliatnya".


Ian menoleh ke arah Rio dan tersenyum. "Suatu saat lo juga pasti bisa ngerasain gimana rasanya punya anak..."


Rio mengedikkan bahunya. "Gw gak berharap akan menikah apalagi punya anak.. Gw hanya mengikuti kemana alurnya semua ini..." Rio menatap intens manik mata Ian.


"Yaaa jangan teburu-buru lah kalau lo belum siap. Lo baru 32 tahun..zaman sekarang angka bukan patokan lagi untuk cepat menikah hehee". Ian terkekeh geli.


"Kalau gw gak pernah nikah dan punya anak biologis, anak-anak lo yang akan gw jadiin ahli waris hahhaa" Rio berkelakar seraya tertawa.

__ADS_1


"Boleh banget dong, Om Yoyo. Auto tajir anak-anak gw hahahhaa". Ian dan Rio tertawa terbahak-bahak tanpa menyadari bahwa Imran dan Dewi sedari tadi memperhatikan keduanya dari tangga.


__ADS_2