
Keesokan harinya...
Ian yang sedang menyapu teras rumah di kejutkan oleh Ilham yang sudah berdiri di belakangnya. Ian menelisik tampilan Ilham secara menyeluruh. Pria itu sudah rapih dan harum. Ian mengerutkan keningnya heran dengan tampilan Ilham pagi hari ini.
"Kamu mau kemana?". Tanya Ian tanpa basa basi.
"Ya kerja lah.." Ucap Ilham singkat.
"Kerja? Kenapa gak istirahat aja sih? Kamu baru semalam sampai jakarta".
"Aku di rumah juga bingung mau ngapain. Aku liat di grup, katanya lagi ramai orderan dari subuh". Sahut Ilham.
"Aku mau sarapan dulu". Lanjut Ilham seraya masuk kembali ke dalam rumah dan Ian mengekori dari belakang.
"Kamu bilang bingung di rumah mau apa? Di sini ada anak-anak yang bisa kamu ajak main. Setidaknya luangkan waktu kamu untuk mereka".
"Kamu tau kan pekerjaan aku itu harian? Kalau aku gak kerja ya gak dapat uang. Bukan kayak orang lain yang enak dapat gaji bulanan. Aku gak kerja hari ini ya gak makan!". Ucap Ilham seraya menatap Ian.
"Ikut aku ke lantai atas sekarang". Ucap Ian seraya menarik tangan Ilham pelan.
"Mau ngapain ke lantai atas? Aku mau sarapan dulu". Tolak Ilham.
"Ikut aku sekarang! Banyak hal yang harus kita obrolin".
"Ngobrolin apa lagi sih? Kita gak lagi ada masalah. Jadi apa yang mau di obrolin?". Ucap Ilham seraya mengoles selai nanas pada selembar roti.
"Kamu memang gak peka atau memang gak peduli sih sama keluarga ini?".
"Kamu tuh pagi-pagi malah buat mood gak enak aja! Kalau aku gak peduli dengan keluarga, aku gak akan kerja banting tulang untuk penuhin kebutuhan kalian semua!". Bentak Ilham seraya melempar sendok yang di genggamnya tadi untuk mengoleskan selai.
Ian menitikkan air mata namun dengan cepat Ia usap. Ia memang sering menangis ketika di bentak oleh Ilham. Hatinya terass sangat perih ketika mendengar bentakan dari pria itu. Terasa seperti Ia tidak berharga. Namun Ian tetap lah Ian. Walau Ia menitikkan air mata, walau hati nya perih di perlakukan seperti itu, Ia tidak begitu saja diam.
"Kamu tuh dukung aku! Support aku!". Lanjut Ilham lagi.
Ian terbelalak mendengar ucapan Ilham.
__ADS_1
"Kamu pikir selama ini aku gak support kamu? Aku sampai habis-habisan untuk kamu dan itu gak kamu anggap sebagai bentuk dukungan? Aku juga selalu semangatin kamu, sediain segala macam masakan yang kamu suka, bawain kamu bekal, apa itu bukan sebagai dukungan juga? Seharusnya kamu tanya balik ke diri kamu sendiri!!".
"Kamu tuh bisa nya cuma ngomel, nuntut aku harus bayar ini bayar itu, sedangkan kamu di rumah ngapain? Kita harus saling dukung". Ucap Ilham.
Ian termenung. Ia tau kemana arah pembicaraan suaminya.
"Aku tau maksud kamu. Kamu mau aku menghasilkan uang kan? Kenapa? Kamu ngerasa berat hanya kamu yang kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Kamu baru sadar kalau hanya kaki kamu yang bergerak akan terasa sulit? Siapa yang minta aku untuk berhenti kerja? Siapa yang minta aku untuk diam di rumah dan urus anak aja? Dan sekarang kamu tanya aku di rumah ngapain? KAMU WARAS HAH?!". Cecar Ian emosi.
"Setidaknya kamu di rumah pun bisa jualan kan? Itu buat nambah-nambahin pemasukan kita".
"Kamu nyuruh aku untuk jualan nasi uduk seperti yang semua kakak kamu saranin ke aku? Aku tuh udah muak ya dengerin apa kata mereka! Bertahun-tahun aku kamu bawa ke rumah ini aja gak ada sedikitpun di renovasi! Bahkan lantai ruang tamu, kamar mandi pun aku yang akhirnya renovasi pakai uang aku! Padahal ini rumah kalian semua!!!! Sekarang dengan mudahnya nyuruh-nyuruh aku jualan nasi uduk? GILA!".
Ilham diam tak menyanggah apapun yang di lontarkan Ian. Pria itu hanya duduk terdiam.
"Aku gak minta hal apapun dari kamu. Selama kita nikah 9 tahun ini pun aku gak pernah kan minta cincin, kalung atau hal yang mewah? Selama ini bahkan beli untuk keperluan pribadi aku aja dari uang aku sendiri. Beli 1 maskara pun kamu gak pernah kasih kan? Yang kamu tau hanya untuk biaya dapur dan sekolah Varo. Apa aku pernah ngomel sama kamu? Gak kan?". Ucap Ian.
"Yang aku mau kamu lebih bisa meluangkan waktu untuk keluarga kamu. Gak perlu lah aku di pikirin, tapi anak-anak kamu. Mereka butuh kamu juga sebagai papa nya. Mereka butuh sosok kamu juga. Tugas membesarkan anak bukan hanya ada di aku. Tapi aku dan kamu. Kita berdua sebagai orang tuanya". Lanjut Ian meluapkan segala isi hati nya.
"Ya kamu tau kan, aku tuh kerja harian seperti ini. Kalau aku gak keluar, kalian mau makan apa? kalau aku gak kerja ya kita gak punya uang".
"Aku akan terlihat lebih rendah dan gak berdaya kalau mengikuti mereka".
"Kamu lebih mementingkan ego kamu di bandingkan keluarga kamu. Kamu tau? Aku gak bekerja seperti ini aja di rendahin sama keluarga kamu! Di kiranya aku yang mau enak-enak aja dan membebani kamu. Tanpa mereka tau kalau kamu sendiri yang minta aku untuk berhenti. Aku tuh dalam posisi serba salah!". Ucap Ian tak habis pikir.
Tiba-tiba ponsel Ilham berbunyi. Pria itu menolak panggilan masuk tersebut. Namun ponsel nya kembali berbunyi dan dengan sigap Ian merebut ponsel Ilham dari tangan pria itu dan menekan tombol hijau di layar. Ilham dengan cepat hendak meraih kembali ponsel nya namun Ian menggenggam nya erat dan menempelkan nya di telinga.
Dimana? Aku udah siap nih
Terdengar suara seorang wanita di ujung telfon. Ian berdiri terpaku dan menatap Ilham dengan pandangan yang tak percaya. Ilham sontak saja merebut kembali ponsel nya dengan kasar.
"Kamu apa-apaan sih rebut ponsel aku!". Bentak pria itu dehgan emosi.
"Siapa wanita yang nelfon kamu tadi itu?".
"Pelanggan tetap aku". Ucap Ilham singkat.
__ADS_1
"Pelanggan tetap atau lebih dari itu? Apa kamu pergi ke Lampung kemarin selama seminggu dengan dia juga?".
Ilham mengusap wajah nya kasar. "Yang jelas aku kerja. Mobil aku di sewa dan aku bawa uang untuk di rumah kan?".
"Oh. Jadi kamu gak mengelak kalau yang sewa adalah wanita itu dan kalian pergi seminggu ke Lampung? Wow!". Ian berucap kagum seraya menepuk kedua tangan nya.
"Yang penting aku bawa uang kan ke rumah? Kamu dan anak-anak bisa makan".
"Otak kamu di mana sih? KENAPA HANYA UANG UANG UANG UANG! Kalau kamu mau hidup terjamin biarin aku yang kerja! Aku bahkan bisa memenuhi kebutuhan keluarga ini berkali lipat nya dari kamu dengan pekerjaan aku yang dulu!". Maki Ian. Napasnya memburu tak beraturan.
Ilham berlalu meninggalkan Ian tanpa menjawab apapun.
"AKU MINTA CERAI!". Ian berseru keras dan Ilham pun membalikkan badan dan menatap Ian dengan tajam.
"Jangan harap kamu bisa lepas dari aku!". Ilham menatap Ian dengan mata nya yang sudah merah menahan amarah.
"Buat apa aku jadi istri kamu kalau kamu gak bisa menghargai aku? Kamu selalu anggap aku gak ada kan! Bahkan kamu sekarang terang-terangan jalan sama wanita lain di belakang aku! Apa dia wanita dari 2 tahun lalu, hah?!".
Ilham terdiam. Pria itu hanya menatap tajam Ian menusuk.
"Aku minta cerai. Talak aku sekarang". Ian menatap manik mata Ilham. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Sampai kapan pun gak akan ada kata cerai dari mulut aku".
Ilham pun berlalu meninggalkan Ian yang berdiri terpaku. Ian menatap punggung Ilham dengan pandangan nanar. Air matanya sudah tak bisa di bendung. Ia mengusap pipi nya yang basah.
Seperti ini kah nasib gw sekarang?
......_______......
Sorry baru muncul. Lagi kurang fit nih meler2 hidungku🤧🤧
Next bab malam atau dini hari yaaa.. mumpung tanggal merah jadi mau aku manfaatkan buat tiduuuuuurrrrrrr berharap besok kembali kerja udah enakan.
Kecup hangat dariku!😘
__ADS_1