Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 119


__ADS_3

Wedding Day


Sebuah ballroom hotel bintang 5 kini di sulap dengan sangat cantik dan mewah. Di seluruh penjuru ruangan tak lepas dari dekorasi yang indah dan memukau. Nuansa warna putih sangat kental terlihat. Konsep pernikahan modern internasional benar-benar di tuangkan dalam pesta tersebut. Meja berbentuk bundar yang di lapisi kain putih serta hiasan bunga memenuhi sebagian ruangan. Setiap meja untuk 4 orang tamu dan di atas nya sudah terdapat papan nama kecil serta souvenir masing-masing.


Menu makanan yang akan di hidangkan pun di letakkan di masing-masing tempat duduk lengkap dengan penjelasan kandungan makanan tersebut. Tidak ada tempat duduk pengantin maupun kedua orang tua mempelai di tengah-tengah ruangan. Semua terkonsep dengan rapih selayaknya yang Ian inginkan.


Di ruang rias, Ian yang sedang melakukan finishing pada riasannya benar-benar menatap refleksi dirinya di cermin. Ia sedari tadi meyakinkan dirinya bahwa ini semua nyata. Ia akan menikah lagi dan kali ini dengan Rio. Pria dari masa lalu nya.


Pria yang bersikeras ingin mewujudkan pesta pernikahan impian Ian sejak remaja. Walaupun Ian merasa itu berlebihan mengingat ini adalah pernikahan kedua untuknya dan Ia pun sudah menjadi seorang ibu bagi 2 anak. Ia merasa tidak pantas namun Rio maupun orang-orang di sekelilingnya meyakinkan bahwa dirinya pantas untuk mendapatkan itu semua.


"Kamu benar-benar cantik sayang...." Ucap Gaby seraya menatap Ian dengan tersenyum.


"Lihat lah anakmu.. Walau sudah menjadi ibu tapi aura nya sama sekali tidak berubah". Ucap Gaby lagi beralih pada Dewi.


Dewi dan Gaby berada di belakang Ian dan menatap ke arah cermin. Kedua wanita paruh baya tersebut tersenyum haru. Mata Ian berkaca-kaca. Ia mengambil sebuah tisu dan menghapus pelan air mata yang jatuh di pipi.


"Jangan menangis.. nanti riasan mu hancur. Tersenyum lah.. Mulai hari ini mama harap bisa selalu melihat kamu tersenyum dan tertawa bahagia". Ucap Dewi.


"Jika putra ku menyakiti mu, bicara lah padaku. Aku akan langsung menendang bokongnya. Jika dia menyakitimu lagi kedua kalinya, datanglah padaku dan tinggalkan dia". Ucap Gaby serius.


Ian tertawa namun air matanya tumpah begitu saja. Ia tidak bisa menahan haru atas ucapan kedua ibu nya. Ia bersyukur di karunia orang-orang yang begitu baik mengelilinginya. Dengan semua badai yang telah Ia lalui, apakah Ia layak mendapatkan kebahagiaan kali ini? Ia pernah merasa dirinya sama sekali tidak berharga, Ia pernah merasa tidak di inginkan, Ia merasa paling hina dari semua orang. Apakah Ia layak menerima curahan kasih sayang kali ini?


Jujur saja Ia merasa ini terlalu cepat. Menikah kedua kali nya dalam waktu berdekatan dengan pernikahan pertamanya. Ia takut. Semua hal yang telah Ia lalui dalam pernikahan pertama nya cukup berpengaruh pada pandangan nya dalam melihat sebuah pernikahan. Namun lagi-lagi Rio meyakinkan diri nya dan Ia berharap pria itu tidak memberikan luka bagi hati nya yang belum sembuh sempurna.


Setelah riasan Ian di perbaiki, kini Ia sedang menunggu Rio mengucapkan akad nikah di depan penghulu. Ia ingin sekali melihat raut wajah Rio ketika mengucapkan ijab qabul, namun para orang tua memerintahkan Ian untuk menunggu di dalam ruang rias.

__ADS_1


Di sisi lain, Rio yang sudah duduk di sebelah Gazy berhadapan dengan Imran dan Penghulu tengah di landa rasa gugup yang luar biasa.


"Apakah anda siap?". Tanya Penghulu pada Rio.


Rio diam sejenak. Lengan nya lalu di tepuk pelan oleh Gazy. Pria itu lantas menepuk kedua pipi nya. Tingkah Rio tak ayal membuat Gazy dan Imran tersenyum geli. Kau sudah 35 tahun bagaimana bisa gugup seperti itu?! Mungkin itu yang ada di dalam pikiran Gazy maupun Imran saat ini.


Rio lalu berjabat tangan dengan Imran. Kedua manik mata nya menatap calon mertua nya dengan serius. Penghulu terlihat membacakan sebuah doa-doa dan terlihat penghulu tersebut mengintruksikan pada Imran dan juga Rio.


"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Ian dengan mahar 1 unit apartemen dan 100 gram emas logam mulia dibayar tunai." Ucap Imran seraya menatap Rio dengan lekat.


"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah." Ucap Rio lugas dalam 1 tarikan napas.


"Bagaimana saksi? Sah?". Penghulu menatap ke empat saksi dari masing-masing mempelai.


Rio mengatupkan kedua tangan ke wajah nya seraya mengucap syukur. Terlihat air mata di sudut kedua matanya. Gazy mengusap punggung putranya seraya mengulas senyum bahagia.


"Sayangilah istrimu dan jaga Ia dengan penjagaan sebaik-baiknya yang kamu bisa". Pesan Gazy pelan pada putranya.


Rio memeluk Gazy dengan erat. "Terima kasih, Pi".


Rio lantas menghampiri Imran dan memeluk pria paruh baya tersebut. "Terima kasih, Pa sudah mengizinkan aku untuk menikahi Ian".


Imran menepuk punggung Rio dengan pelan. Senyum terukir jelas di bibirnya. "Aku percayakan putriku padamu. Tolong jangan sakiti hatinya. Anakku terkadang keras kepala, tapi kamu pasti sudah tau bagaimana cara menghadapinya bukan?".


Rio tertawa seraya menganggukkan kepala.

__ADS_1


Imran meminta Dewi untuk memanggil Ian keluar karena ijab qabul sudah sukses Rio lakukan. Dewi dan Gaby lalu bergegas untuk menjemput Ian.


"Ayo sayang kita keluar... Rio sudah mengucapkan ijab qabul". Ucap Dewi.


"Benarkah, Ma? Apa dia mengulang ijab qabul nya?". Tanya Ian.


"Tidak. Suami mu mengucapkan nya dalam 1 tarikan napas". Gaby mengulas senyum.


Gaby lantas memeluk Ian dengan sangat erat. "Kamu benar-benar menjadi putriku".


"Ayo nanti Rio menyusul kita kesini. Kamu seperti tidak tahu saja putra mu itu pada menantu mu". Ucap Dewi mengusik pelukan Gaby dan Ian.


Ketiganya tertawa dan segera melangkah pelan keluar dari ruang rias di bantu oleh dua orang yang mengangkat gaun Ian dari belakang.


Dari kejauhan Ian bisa melihat Rio yang tengah menatap ke arahnya. Semakin dekat Ian bisa melihat raut bahagia terukir jelas di wajah tampan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Ian berhenti tepat di hadapan Rio. Manik mata pria itu terlihat berkaca-kaca menatap Ian. Senyum mengembang tak henti-henti terukir di bibirnya.


"Gak ada 1 kata pun yang bisa mewakili apa yang gw rasakan saat ini..." Ucap Rio pelan.


"Akhirnya lo menjadi istri gw... Lo selamanya terjebak dengan gw. Gw pastikan lo akan terjebak selamanya dan gak akan ada jalan keluar..." Lanjut Rio menatap lekat ke arah Ian.


......__________________......


👰🤵

__ADS_1


__ADS_2