Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 105


__ADS_3

Keesokan harinya


Ian yang sedang bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba di kejutkan oleh dering ponsel nya yang Ia taruh di atas meja kerja nya. Ia melirik pada layar ponsel nya dan mendapati nama Rio di sana. Tanpa pikir panjang, Ian segera mengangkat panggilan telfon dari Rio.


"Hmmm..." Sapa Ian seperti biasa.


"Kapan sih di rubah jadi halo sayang?". Terdengar suara Rio yang kesal dengan kebiasaan Ian yang satu ini.


Ian terkekeh geli.


"Ada apa nelfon gw?"


"Cuma mau bilang, gw udah mendarar dengan selamat di LAX". Ucap Rio.


*LAX adalah salah satu bandara yang padat di Los Angeles.


"Baguslah.."


"Cuma gitu aja?". Tanya Rio dari seberang telfon.


"Lalu gw harus bilang apa dong... Baguslah lo udah selamat sampai di sana, Yo". Ucap Ian seraya melirik jam tangan nya.


"Nanti lanjut lagi ya telfon nya? Gw harus ketemu sama orang. Udah telat, Yo". Timpal Ian lagi.


"Ketemu siapa?" Tanya Rio.


"Ilham.. Dia ngajakin gw ketemu di cafe dekat kantor".


Hening. Rio tak menjawab apapun. Hanya terdengar helaan napas dari pria itu. Ian pun hanya diam. Ia menunggu respon dari Rio.


"Ya udah. Hati-hati yaa.." Rio akhirnya bersuara.


Ian lantas reflek mengangguk walau Ia sadar itu tak akan bisa di lihat oleh Rio. Tak lama kemudian, sambungan telfon pun berakhir. Ian segera bangkit dari duduknya dan mengedarkan pandangan ke ataa meia kerja untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal.


Ian memutuskan untuk meninggalkan mobilnya di basement kantor dan Ia akan berjalan kaki saja menuju cafe yang hanya berjarak 2 gedung. Ian menatap langit yang memancarkan semburat kemerahan yang indah. Waktu memang sudah menunjukkan hampir pukul 17.30 yang mana sudah waktunya matahari membenamkan diri.

__ADS_1


Setelah sampai di cafe, Ian memilih untuk duduk di meja yang berada di pojok. Letak meja tersebut memungkinkan minimnya perhatian orang-orang yang akan menuju ke arahnya.


10 menit berselang, Ilham pun sampai ke cafe. Pria itu lantas segera menghampiri Ian. Ian mendongakkan kepala dan tertegun melihat pria yang masih berstatus suaminya itu.


Penampilannya masih rapih. Tak ada kumis atau jenggot yang di biarkan tumbuh di wajah..Namun Ian mendapati.tubuh pria itu lebih kurus dari terakhir kali Ia melihatnya.


Ilham segera duduk berhadapan dengan Ian. Mata pria itu tak lepas menatap Ian dengan sangat dalam.


"Kamu sepertinya bahagia hidup terpisah dengan aku..." Ucap Ilham masih sambil menatap Ian.


Ian hanya mengulas senyum tipis di bibirnya.


"Maafin aku..." Ucap Ilham.


Ian balas menatap manik mata Ilham.


"Maaf untuk apa?". Tanya Ian.


"Untuk semuanya.. aku minta maaf udah buat kamu kecewa. Aku menyesal.. semenjak kamu dan anak-anak pergi dari rumah, aku merasa kesepian. Sejak saat itu aku sadar kalau kalian sangat berharga untuk aku. Aku yang bodoh... Maaf.." Ilham menatap Ian dengan intens.


Ian menghela napasnya. Ia benar-benar perlu merilekskan diri nya agar Ia bisa berpikir dengan jernih dan memakai logika.


Ilham menggelengkan kepalanya pelan. "Gak ada. Kamu gak ada kurangnya untuk aku. Kamu benar-benar memyerahkan hidup kamu untuk aku".


"Lantas mengapa.kamu memperlakukan aku seperti angin lalu? Aku sampai bertanya-tanya dengan diri aku. Apa yang kurang dari aku? Apa yang harus aku perbaiki dalam melayani kamu walau kamu memperlakukan aku semau kamu".


Ilham mengusap wajahnya kasar. "Itu karena aku insecure. Aku frustasi karena gak bisa bahagiain kamu. Aku selalu lihat kamu menangis hampir setiap hari dan itu buat hati aku sakit".


"Aku menangis karena kamu! Karena tingkah laku kamu yang semena-mena dengan aku. Sikap kamu selalu berubah-ubah. Terkadang kamu kasar dan gak segan melontarkan berbagai kata menyakitkan yang tertanam di hati aku, kamu membentak aku karena berbagai hal sepele dan bahkan kamu selalu mengungkit tentang Rio kalau kita lagi ribut. Tapi di lain waktu kamu bisa bersikap baik ke aku. Aku hidup dalam situasi seperti itu selama 10 tahun. Aku berharap kamu bisa lebih baik namun kenyataan nya kamu malah semakin menyakiti aku". Ujar Ian mengeluarkan segala uneg-uneg nya.


Ilham meraih tangan Ian dan menggenggam nya dengan erat. "Maafin aku.. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Kita mulai dari awal lagi.. Ingat ada Varo dan Kai di antara kita".


Ian menarik tangan nya dari genggaman Ilham. "Kalau kamu memang memikirkan anak-anak, kenapa kamu bisa nyaman berselingkuh 2 tahun lamanya di belakang aku? Kenapa kamu memperlakukan ibu mereka dengan semena-mena?".


Ilham tertegun. Manik mata pria itu benar-benar memancarkan sorot mata frustasi.

__ADS_1


"Bisakah kita memulai kembali dari awal? Aku janji akan membenahi segalanya dengan baik. Aku minta maaf untuk semua kesalahan aku ke kamu selama ini..."


"Aku gak mau kehilangan kamu..." Lanjut Ilham.


Ian menghela napas. Punggung nya bersandar ke belakang. Ia menatap Ilham tanpa berkata apapun. Hanya menatap pria yang selama 10 tahun menjalin biduk rumah tangga dengan nya.


"Aku maafin kamu.. Tapi aku gak bisa kembali lagi bersama kamu". Ucap Ian akhirnya. Matanya tak lepas menatap Ilham.


Raut wajah pria itu tentu saja terkejut mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Ian.


"Kamu hanya meminta maaf karena kamu takut kehilangan aku. Kamu gak meminta maaf ke aku untuk rasa sakit yang kamu ukir di hati aku bertahun-tahun lamanya. Kamu gak bisa menyelami perasaan aku sehancur apa. Kamu hanya minta maaf karena kamu gak mau kehilangan aku, kamu gak mau hidup kesepian".


Ilham menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak... Bukan seperti itu. Aku benar-benar menyesal dengan semua hal yang telah aku lakukan ke kamu. Aku mohon.. Beri aku keaempatan untuk memperbaiki hubungan kita".


Ian mencondongkan tubuhnya ke arah Ilham. Jari jemari nya saling bertaut.


"Tanpa kamu minta, aku selalu kasih kamu kesempatan. Tapi kamu selalu abaikan. Maaf, keputusan aku udah bulat". Ian beranjak berdiri bergegas untuk pergi.


Ilham menahan lengan Ian. Pria itu mendongakkan kepala menatap Ian.


"Apa selama menikah dengan aku, kamu pernah merasakan kebahagiaan? Apa kamu pernah sedikit saja mencintai aku?".


ian menundukkan kepala melihat ke arah Ilham.


"Gak mungkin aku bertahan selama bertahun-tahun kalau aku gak pernah merasakan kebahagiaan dengan kamu. Selama ini aku berharap suatu hari kamu akan berubah kembali memperlakukan aku dengan baik. Aku hidup dan bertahan dengan harapan yang ternyata gak kunjung nyata".


"Apa kamu pernah cinta sama aku?". Tanya Ilham mengulang pertanyaan nya yang tidak Ian jawab.


Ian mengulas senyum tipis. "Kamu adalah ayah dari kedua anak ku. Apakah itu tidak menjelaskan apapun ke kamu?".


Ilham tertegun mendengar ucapan Ian. Tatapan nya terasa hampa dan perlahan Ia melepaskan genggaman nya yang menahan tangan Ian sedari tadi. Ian pun melangkah pergi meninggalkan Ilham begitu saja.


Sepanjang kembali berjalan kaki menuju gedung kantor untuk mengambiil mobil nya. Ian menatap langit yang sudah gelap. Hatinya terasa ringan namun hampa. Bising lalu lintas yang padat memenuhi indera pendengaran nya namun Ia tak terusik. Ia terus berjalan di trotoar seraya sesekali menatap langit yang temaram.


Lo hebat Ian... Lo gak nangis sedikitpun walau hati lo terasa perih...

__ADS_1


......__________________________......


Good night!😘


__ADS_2