
Malam Hari
Imran menghampiri Ian yang sedang duduk santai di gazebo samping kolam renang. Tempat itu adalah tempat ternyaman untuknya saat berada di rumah kedua orang tuanya. Ian memutuskan untuk menginap dan Varo serta pengasuhnya pun telah di jemput oleh Pak Surya dari Bekasi untuk ikut menginap.
"Kai gak rewel?". Tanya Imran saat duduk di sebelah putrinya.
Ian menoleh. "Enggak, Pa. Dia baik banget. Habis minum susu tidurnya nyenyak banget".
"Bagaimana kehidupan kamu selama ini di rumah suami mu? Maaf jika Papa tidak pernah datang berkunjung ke sana untuk menengok.. Tapi kamu pasti tau jika Papa selalu menanyakan kabarmu dan Varo melalui adik-adik mu jika mereke berkunjung ke sana kan.."
Ian tersenyum hangat. "Aku selalu tau kalau Papa terus menanyakan kabarku lewat mereka. Aku pun tau Papa yang selalu menyuruh Mama untuk rutin mengirimkan banyak makanan setiap minggu ke Bekasi. Aku bahkan sampai bingung untuk menaruhnya di mana karena di sana hanya ada kulkas 1 pintu.. hehehee". Ian terkekeh namun air mata telah menumpuk di pelupuk matanya.
"Apa kamu bahagia dengan kehidupan mu? Apa suami mu memperlakukan kamu dengan baik?". Tanya Imran seraya menatap putri sulungnya.
Satu hal yang Ian benci adalah Ia tidak pernah bisa berbohong di hadapan Papanya dengan segala yang Ia rasakan. Ian tidak pernah bisa berpura-pura bahwa Ia baik-baik saja di hadapan Imran. Tidak.
Ian lantas menunduk tak menjawab pertanyaan Imran. Ia dengan cepat mengusap air matanya.
"Papa tidak akan memaki kamu karena kamu salah memilih pasangan. Papa tidak akan memarahi kamu karena kamu tidak mendengar omongan papa sebelum kamu bersikeras menikah, Papa tidak akan menjatuhkan kamu lebih dalam. Semua hal sudah terjadi.." Imran menatap putri sulungnya.
"Kembali lah kepada kami kalau kamu sudah tidak kuat menjalani pernikahan mu.."
Ian mendongakkan kepala menatap Imran dengan mata yang sembab. "Beri aku waktu, Pa untuk memutuskan segala hal yang terbaik.."
"Ilham terlihat sudah berubah. Ia benar-benar memperhatikan aku dan anaknya sekarang. Aku ingin memberikan dia kesempatan demi Varo dan Kai. Aku gak mau egois demi kedua anakku.."
Imran menghela napas pelan. "Semoga saja perubahannya bertahan selamanya.."
ian menoleh. "Pa.. Please.."
Imran menatap putri sulungnya. "Oke..oke.. Papa tau kamu memang keras kepala.."
Ian memeluk Imran dengan erat. Walau Imran sangat keras terhadap dirinya, Ian tahu bahwa sikap itu adalah bentuk kasih sayang Imran untuknya dan Ian susah terbiasa dengan hal itu.
......________________________......
__ADS_1
Dua Tahun Kemudian
"Kamu lihat baju aku yang warna maroon gak? Yang biasa aku pakai sehari-hari". Ucap Ilham seraya memasukkan bajunya ke dalam sebuah tas besar.
Ian yang sedang menyuapi Kai lantas menghampiri suaminya. "Udah cari di ember baju yang belum di setrika?".
Ilham menggelengkan kepalanya. "Belum. Kamu cariin dong. Aku buru-buru banget ini udah telat.."
Ian menghela napas karena kesal dengan tingkah suaminya. "Udah tau berangkat pagi kenapa bangun nya siang sih! Mana dadakan pula perginya. Jadi repot banget kan ngepakin baju".
"Ya udahlah! Udah! Gak perlu kamu cari-in daripada kamu ngomel begitu bikin mood rusak aja pagi-pagi gini!". Ucap Ilham dengan membentak.
Ian dengan cepat membalikkan badannya menghadap Ilham karena terkejut telah di bentak. "Lho kamu kenapa emosi? Apa yang aku bilang benar kan? Udah tau berangkat pagi malah kamu juga gak bangun pagi! Kamu pun baru ngasih tau aku TADI PAGI SETELAH MANDI kalau kamu mau pergi ke Lampung!"
"Ya udahlah gak perlu di lanjut. Aku pusing".
"Oh kamu pusing? Yaudah urus sendiri urusan kamu". Ian melangkah meninggalkan Ilham dengan jengkel.
Berdebat adalah makanan sehari-hari Ian dalam rumah tangga Ian saat ini. Benar kata Imran bahwa perubahan Ilham hanyalah sementara. Ilham bahkan tidak segan membentak Ian jika istrinya melakukan kesalahan kecil ataupun segala hal tidak berjalan sesuai dengan ekspektasinya.
Ilham selalu sibuk bermain game di ponsel saat sedang berada di rumah atau nongkrong bersama dengan teman-teman nya hingga larut malam. Ian selalu iri ketika melihat seorang ayah yang menemani anak-anaknya bermain sepeda di sore hari ataupun olahraga bersama. Itu hanya sebuah impian belaka bagi Ian!
Tak lama Ilham telah rapih seraya menenteng sebuah tas. Ia berpamitan pada kedua anaknya dan menghampiri Ian.
"Maafin aku tadi ya". Ucap Ilham seraya menatap manik mata Ian.
Ian hanya mengangguk tanpa menjawab apapun.
"Kalau lancar semuanya, besok aku udah pulang".
"Oke.. Hati-hati nyupirnya". Ucap Ian.
Ilham mengelus rambut Ian dan segera pergi melangkah ke mobilnya. Ilham mengklakson dan melambaikan tangan pada Ian juga kedua anaknya. Ian hanya tersenyum tipis.
......___________......
__ADS_1
Satu Minggu Kemudian
Ian melempar ponsel miliknya ke atas kasur. Ia sudah mencoba menelpon Ilham puluhan kali namun sama sekali tidak ada jawaban. Ian meraih kembali ponselnya dan membuka sebuah email yang baru di lihatnya beberapa menit yang lalu. Ia membacanya kembali dengan seksama.
Sialan.. Dari seminggu yang lalu dia bilang besok pulang.. besok pulang.. Tapi nyatanya malah lanjut terus! Sebenarnya apa yang dia lakuin di lampung sih? Bahkan udah beberapa hari gw gak hubungin pun dia sama sekali gak ngabarin gw!
Ian mencoba menelfon nomor Ilham kembali namun hasilnya tetap sama. Pria itu tidak mengangkatnya bahkan tidak mengiriminya pesan.
Tiba-tiba ponsel Ian berbunyi dengan sigap Ian melihat caller ID di layar ponselnya dan ternyata Rio yang sedang menelfonnya.
"Hmm.."
"Hamm.. Hemm.. Hamm.. Hemm.. Bilang Halo kek kalau angkat telfon! Kebiasaaan! Gw udah di luar pagar nih! Cepetan keluar". Belum sempat Ian menjawab, sambungan telfon tersebut telah di putus sepihak oleh Rio.
Ian pun segera melangkah keluar kamar dan menuju ke luar rumah untuk membukakan pintu. Ian memang sengaja minta di jemput oleh Rio untuk pergi menginap ke rumah kedua orang tuanya. Karena mobil miliknya sedang berada di bengkel.
"Laki lo belum pulang juga?". Sahut Rio tanpa basa basi sesaat setelah turun dari mobil.
Ian menggeleng pelan. "Belum. Gak tau kapan pulangnya".
"Tuh laki ninggalin bini yang begini lama-lama nanti di rebut orang baru nyesal deh".
Ian tergelak tertawa renyah. "Siapa juga yang mau sama wanita beranak dua kayak gw, Yo? Hahahaa".
Rio menatap punggung Ian yang melangkah lebih dulu di depan nya. Ada.. Gw orangnya..
Setitik jejak kuselipkan...
Btw, dini hari ini aku udah double up ya! biarkan aku istirahat sejenak dr rutinitas kantor dan menulis di weekend ini ya!๐
Next bab aku up minggu siang/sore/malam..
Kecup hangat dariku!๐
__ADS_1