Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 98


__ADS_3

Keesokan harinya


Matahari di pagi hari cukup malu untuk menampakkan sinar dan membagi kehangatan nya ke muka bumi. Namun hal itu tidak menyurutkan Ian untuk mengajari Varo berenang di kolam halaman belakang rumahnya. Ia sudah berjanji pada putra sulung nya sejak beberapa hari yang lalu. Namun karena suasana hati nya sedang kacau, barulah terealisasi di pagi hari ini.


Selama 2 jam Ian mengajarkan Varo berenang di temani oleh Kai yang duduk bermain di gazebo seraya di suapi makan pagi oleh Bik Sum. Sebuah senyuman terbit di bibir Ian kala melihat melihat kedua putra nya tumbuh dengan baik dan sehat.


Ian yang sudah selesai mengajarkan Varo lalu memutuskan untuk segera membersihkan diri nya. Ia membilas tubuh nya di pancuran samping kolam renang dan tak lama kemudian Ia mengambil bathrobe miliknya yang tergantung di dinding dan melangkah masuk ke dalam rumah melalui area dapur.


"Nanti ke ruang kerja papa ya. Ada yang mau papa bicarakan". Sahut Imran saat Ian melewati meja makan.


Ian mengangguk. "Iya, Pa. Aku mandi dulu ya". Ian pun segera melangkah menuju kamar nya di lantai atas untuk mandi.


Setengah jam kemudian Ian yang sudah harum dan mengeringkan rambut nya dengan hair dryer segera ke luar kamar dan melangkah menuju ruang kerja Imran yang hanya berjarak 2 kamar dari kamar tidur nya.


Tokk.. Tokk..


Ian mengetuk pintu ruang kerja Imran dan terdengar sebuah sahutan dari dalam. Ian meraih kenop pintu mendorongnya dan melongokkan kepala nya mengintip ke dalam.


Imran yang sedang duduk di kursi kerja dan sedang menelfon seseorang pun memberikan intruksi dengan lambaian tangan nya meminta Ian masuk dan menutup pintu kembali.


ian melangkah masuk dan mendekati Imran. Ia melihat-lihat berbagai deretan buku milik papa nya tersebut.


"Sini kamu duduk.." Ujar Imran setelah selesai menelfon meminta Ian untuk duduk di kursi depan meja kerja nya.


"Kemana suami kamu?". Tanya Imran tanpa basa basi setelah Ian duduk di hadapan nya.


Ian diam membeku. Hatinya dalam sekejap terasa tak karuan.


"Di mana suami kamu? Kok selama kamu di sini, dia gak pernah muncul hanya untuk sekedar menemui anak-anak nya?". Tanya Imran lagi.


Ian menatap Imran dengan gugup. Aura intimidasi sangat terasa dari pancaran mata Imran.


"Dia sibuk kerja.. Papa tau lah gimana dia kalau kerja. Gak kenal waktu kan? Pulang tinggal tidur. Besok nya kerja lagi.."


"Masa sampai gak bisa menyempatkan diri untuk datang sekitar 1 atau 2 jam kemari? Pekerjaan dia itu mobile. Bisa saja suatu waktu dia berada dekat sini.. kan bisa berkunjung sebentar.. Ini papa perhatikan sama sekali tidak ada". Ujar Imran.


Imran menautkan kedua tangan nya di atas meja. "Kalian ada masalah?".


Ian menghela napas pelan. Apa gw harus buka semuanya sekarang? Apa gw siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi? Tapi cepat atau lambat gw memang harus menghadapi apapun segala resiko...


Ian menatap Imran sejenak. Otak nya sungguh berperang saat ini. Namun Ia memantapkan hati untuk bercerita saat ini juga pada Imran.


"Kami bertengkar hebat, Pa.." Gumam Ian sambil menundukkan kepala.


"Bertengkar hebat yang bagaimana maksud kamu?".


Ian beralih menatap Imran seraya menghembuskan napasnya. Jari-jarinya saling bertaut di atas paha yang menandakan Ia sangat gugup.


"Ilham selingkuh..." Ucap Ian akhirnya.

__ADS_1


Raut wajah Imran sontak saja sangat terkejut. Matanya terbelalak mendengar ucapan yang baru saja Ian ucapkan.


"APA?! SELINGKUH?!".


Ian mengangguk pelan.


"Baru prasangka kamu saja atau memang sudah terbukti?!".


"Sudah terbukti, Pa. Aku tau dari 2 tahun lalu. Tapi saat itu aku pikir wanita itu memang benar hanya sekedar penumpang nya aja. Lalu belum lama ini aku mengangkat telfon dari seorang wanita di ponselnya yang ternyata wanita dari 2 tahun lalu itu". Ian menjelaskan secara jujur.


"Apakah ke Lampung kemarin dia sebenarnya pergi dengan selingkuhan nya?".


ian mengangguk lagi namun matanya tak berani menatap ke arah Imran.


"Kenapa kamu sembunyikan hal seperti ini dari papa?!". Tanya Imran tak habis pikir.


"Aku hanya mencoba untuk menyelesaikan masalah rumah tanggaku dulu sendiri, Pa".


"Lalu? Bagaimana hasil nya?".


Ian menggelengkan kepala. "Kami selalu berakhir ribut.. Aku gak tau apa maunya dia. Aku udah turunin harga diriku untuk menemui dia lebih dulu.. ajak dia ngobrol mengenai rumah tangga kami. Tapi dia selalu emosi.. Aku bingung harus bagaimana, Pa".


Imran mengusap wajah nya dan mengambil ponsel nya yang letaknya tak jauh dari dirinya. Tak lama Imran menelfon seseorang melalui ponselnya.


"Datang kemari sekarang juga. Saya perlu bicara dengan kamu". Ucap Imran lalu menutup sambungan telfon begitu saja.


Ian terlihat terkejut. "Papa nelfon Ilham?". Tebak Ian.


"Tapi Pa...."


"Tidak ada tapi-tapi!". Imran memutus ucapan Ian yang membuatnya terdiam begitu saja.


Dua jam kemudian


Ilham baru saja datang ke kediaman Imran. Pria itu lantas di arahkan oleh Dewi langsung menuju ruang kerja Imran. Dewi yang belum tahu apa-apa menyisakan banyak tanda tanya di benak nya. Namun ketika melihat raut wajah Imran maupun Ian di ruang kerja, Ia mengurungkan niat untuk bertanya saat ini.


"Duduk". Ucap Imran pada Ilham yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja.


Pria itu melirik Ian sekilas dan beralih menatap Ilham. Dari raut wajah keduanya, Ilham bisa menebak apa hal yang akan di bicarakan.


"Saya tadi bertanya pada Ian, mengapa kamu tidak pernah datang menjenguk anak-anakmu. Ian bilang bahwa kalian sedang berselisih". Imran menatap tajam Ilham.


"Berselisih dalam hal apa kalau saya boleh tau?". Lanjut Imran.


Imran menghela napasnya dan melirik Ian. Wanita itu membuang muka.


"Jika Papa sudah tau mengapa bertanya pada saya?". Tanya Ilham yang berasumsi jika Imran sudah mengetahui duduk perkaranya.


Imran menyenderkan punggung nya ke kursi. Mata nya tak lepas menatap Ilham. "Jadi kamu tidak akan menyanggah apapun?".

__ADS_1


Ilham mengangguk. "Apapun yang di katakan pada Papa itu benar. Saya berselingkuh itu benar. Namun saat ini semua sudah selesai. Saya sudah mengakhirinya dan menempatkan semuanya kembali pada posisi semula".


Imran dengan cepat beranjak berdiri mencondongkan tubuhnya ke depan dan menampar pipi Ilham dengan sangat keras.


"Kamu benar-benar tidak tahu malu!!! Apa kamu tidak merasa bersalah pada anak saya? Begitu mudahnya kamu berkata seperti itu!". Cecar Imran emosi.


"Apa kurangnya anak saya sehingga kamu berani berselingkuh dari dia? Anak saya bahkan sudah membuang kehidupannya hanya untuk bersama kamu! Bahkan dia melawan saya untuk menikah dengan kamu!".


Ilham menatap Ian dan beralih pada Imran. "Ian memang sempurna untuk saya.. Saya tidak menemukan kurangnya dia dalam melayani saya sebagai suaminya namun justru itu membuat saya frustasi. Saya tidak bisa membahagiakan dia dengan keadaan saya yang jauh berada di bawahnya...."


"Apa anak saya pernah meremehkan kamu? Apa dia pernah melawan kamu?".


Ilham menggelengkan kepala. "Dia selalu melayani saya dengan baik".


Plak!


Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Ilham. Pria itu hanya diam tak berkutik.


"Ceraikan anak saya". Ucap Imran singkat dan tegas.


Ilham beranjak berdiri. "Saya tidak akan menceraikan Ian. Sampai kapanpun dia adalah istri saya!".


"Kalau kamu memang menganggap dia istri kamu, kenapa kamu berani mempermainkan nya?! Saya sangat tidak terima anak saya di perlakukan seperti ini! Kamu bebas bermain di luar sana dan jika sudah berakhir kamu kembali pada anak saya? Begitu?!". Cecar Imran menatap tajam Ilham.


"Saya jaga anak saya dengan baik selama ini. Bodoh nya saya malah membiarkan dia pada lelaki yang salah! Apa kamu tidak merasa berdosa sudah melakukan perselingkuhan?!".


"Di jaga dengan baik..." Gumam Ilham pelan.


"Apakah Papa sudah yakin menjaga Ian dengan baik selama ini?".


Imran mengerutkan kening nya. "Apa maksud kamu?".


Ilham melirik Ian yang tengah melotot ke arah nya seakan tau apa yang akan Ilham bicarakan.


"Kalau Papa sudah menjaga Ian dengan baik, maka tidak mungkin Ia tidak suci lagi saat saya menikahi nya". Ilham menyunggingkan senyuman tipis.


"KAMU!". Ian berdiri dan menatap Ilham dengan tatapan tak percaya. "Ini bukan hal yang penting untuk di bicarakan di hadapan Papa!". Cecar Ian.


"Aku hanya menimpali ucapan papa. Ia bilang kan udah menjaga kamu dengan baik, lalu aku beritau faktanya. Apa salahnya?".


"Ini gak relate dengan yang lagi kita bicarain sekarang ya! Kamu gak mau jatuh sendiri?! Kamu mau ajak aku jatuh sama kamu juga?! Oke! Silakan lakukan sesuka kamu!!!!". Ian emosi dan melangkah keluar ruang kerja Imran.


Kini tinggal lah Imran dan Ilham berdua. Imran menatap tajam pada Ilham. "Apa yang kamu katakan benar?".


Ilham mengangguk. "Saya memberi tahu ini bukan untuk mengungkit masa lalu istri saya. Namun saya ingin memberi fakta pada Papa bahwa apa yang papa anggap sudah baik, ternyata tidak selalu seperti itu. Begitu juga dengan saya. Selama ini saya tau Papa memandang sebelah mata pada saya, namun apakah Papa tau sekeras apa saya berjuang mati-matian untuk membahagiakan Ian? Namun pada akhirnya saya sadar, walau saya berkeringat darah pun, saya tidak akan bisa membahagiakan dia. Ian bukanlah tipe istri yang rewel dalam masalah finansial. Ia selalu menerima berapapun uang yang saya kasih untuk kebutuhan rumah tangga. Ia selalu melayani saya dengan baik tapi di sisi lain saya sering memergokinya menangis diam-diam di belakang saya. Ia berpura-pura bahagia di saat hati nya tidak bahagia. Itu menyakiti saya..."


Ilham lalu beranjak berdiri. "Saya tidak akan menceraikan Ian walau Papa meminta nya". Ilham menundukkan kepala ke arah Imran lalu berbalik badan melangkah keluar.


......___________________......

__ADS_1


MAAAFFF YAAAAA 🙏😅


Aku bilang pagi malah malam begini. Karna aku tiba2 di minta dtg ke kantor yg seharusnya aku jadwal wfh😤


__ADS_2