
Tepat pukul 8 malam Ilham benar-benar menampakkan wajah nya di hadapan Ian. Pria itu baru saja sampai dan datang ke rumah mertua nya yang tak lain adalah rumah kedua orang tua Ian.
Varo dan Kai dengan antusias berlari menghampiri Ilham. Pria itu memeluk kedua putra nya.
"Papa kok lama banget sih pergi nya? Kata mama hanya sehari kok sampai 7 hari?". Tanya Varo tanpa basa basi.
"Tugas papa gak bisa selesai dalam sehari.. jadi terpaksa papa harus selesaikan dulu di sana". Jawab Ilham.
Ilham beralih melihat Ian yang sedang berdiri menunggu teras. Pria itu pun mengajak kedua putra nya masuk. Saat melewati teras, Ilham berucap pada Ian.
"Kita langsung pulang aja malam ini ke rumah ya.. Kamu siapin baju anak-anak untuk di bawa pulang".
Ian mengerutkan kening. "Pulang? Ke rumah? Aku udah di rumah.. Mau pulang ke mana lagi?".
"Ke Bekasi lah. Mau kemana lagi?".
Ian menatap Ilham dengan intens. "Kamu... Apa gak ada yang mau kamu jelasin sama aku kah?".
"Apa?".
Ian menghela napasnya kasar. Ian menatap Varo dan Kai yang sedang berada di belakang Ilham.
"Varo bisa tolong bawa adekmu ke lantai atas dulu? Mama mau ngomong dulu sama Papa.. Tolong ya?". Pinta Ian dengan lembut.
Varo mengangguk dan mengajak Kai untuk pergi menjauh dari Ian dan Ilham.
Setelah di rasa sudah aman dari jangkauan anak-anak. Ian menatap Ilham dengan tajam. "Kamu merasa gak melakukan kesalahan?".
"Kesalahan? Kamu jangan pancing aku.. Aku capek ya habis nyetir dari pagi. Bisa di omongin nanti gak?".
Ian menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa tunggu lagi. Cukup 7 hari nungguin kamu dan hubungin kayak orang gila tapi nol jawaban. Sebenarnya kamu ngapain ke lampung? Pekerjaan apa yang kamu lakukan di sana? Dan kenapa semua panggilan telfon dari aku gak kamu jawab? Aku yakin kamu gak selalu nyetir. Kamu bisa pegang ponsel kamu untuk pesan hotel, tiket dan berbagai macam hal!". Cecar Ian.
"Tau dari mana kamu kalau aku pesan hotel?". Ilham mengerutkan keningnya.
"Dari email kamu yang ada di ponsel aku".
Raut wajah Ilham nampak terkejut. "Kamu nguntit aku?!".
"Siapa yang nguntit? Aku maksud kamu? Email kamu yang ada di ponsel aku tuh gak pernah kamu log out. Aku punbaru sadar kalau email kamu masih terhubung di ponsel aku ketika aku dapat nottifikasi berbagai hal selama kamu di Lampung. Apa itu nguntit?". Tanya Ian seraya menatap Ilham.
"Mana ponsel kamu. Log out email aku sekarang".
"Itu gak penting untuk saat ini... Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kenapa kamu gak angkat telfon aku atau kabarin aku?". Tanya Ian.
__ADS_1
Ilham menatap Ian dengan membisu dan menghela napasnya perlahan.
"Aku kerja. Mobil aku tuh di sewa orang sepaket dengan supirnya yaitu aku. Jadi aku di sana sering banget nyetir.. gak bisa pegang ponsel".
"Tapi untuk cari-cari hotel di aplikasi bisa? Apa itu namanya gak bisa pegang ponsel?".
"Yang pesan lewat ponsel aku tuh orang yang nyewa mobil aku". Ucap Ilham.
Ian mengerutkan kening. "Hah? Se-akrab apa kamu dengan pelanggan kamu sampai kamu serahin ponsel kamu segala ke dia".
Ilham mengusap wajah nya kasar. "Bisa gak kita obrolin nanti? Kita......"
Ucapan Ilham terputus karena Ia melihat Dewi berjalan menghampiri dari arah belakang. Ian yang melihat Ilham salah tingkah pun segera mengikuti kemana arah mata Ilham menatap. Ian menoleh ke belakang dan mendapati Dewi hendak menuju ke arah mereka berdua.
"Kita belum selesai bicara". Ujar Ian pelan.
"Ilham... kapan sampainya?". Tanya Dewi saat dirinya berada tepat di depan Ian dan Ilham.
"Kok gak masuk sih, Teh? Malah berdiri di tengah pintu begini..." Dewi beralih menatap Ian.
"Baru aja sampai, Ma.. Oh ya ini ada sedikit oleh-oleh buat Mama dan Papa ya.." Ujar Ilham memberikan beberapa bungkus plastik yang berada di tangan nya
Dewi menerima bingkisan tersebut dengan tersenyum menatap menantu nya. "Terima kasih ya sudah bawakan Mama dan Papa oleh-oleh".
Dewi beralih menatap putri sulungnya. "Kenapa gak di ajak masuk Ilham nya, Teh? Kok malah berdiri di tengah-tengah pintu begini?".
"Iya, Ma.. Ini juga mau masuk tapi keburu Mama dateng hehehe". Elak Ian seraya terkekeh.
Ian pun segera melangkah masuk di ikuti oleh Ilham dan Dewi.
Di Ruang tengah Ilham menghampiri Imran yang sedang meminum secangkir chamomile tea. Imran mengangguk pelan saat menantunya itu menyalami tangan nya dengan sopan.
"Bagaimana perjalanan dari Lampung ke Jakarta dalam kondisi pandemi seperti ini?" Apakah tidak ada pembatasan?". Tanya Imran.
"Gak ada, Pa. Semua aman. Jalanan pun ramai.."
Imran manggut-manggut mendengar penjelasan Ilham.
"Kata Ian kamu dalam rangka bekerja pergi ke sana, pekerjaan apa kalau saya boleh tau?".
"Bukan pekerjaan penting, Pa. Mobil saya di sewa sama orang tapi minta sepaket dengan supir. Daripada saya lepas kunci, lebih baik saya saja sekalian yang bawa". Jelas Ilham.
"Oh.. Sewa mobil..."
__ADS_1
Ilham mengangguk. "Iya, Pa".
"Teh, Minta Bik Sum ambilkan handuk baru untuk Ilham. Mungkin aja suami mu mau mandi". Ucap Dewi.
"Kami mau langsung pulang ke Bekasi aja, Ma". Sahut Ilham.
Imran menatap menantu nya. "Kenapa terburu-buru? Kamu gak lihat sekarang sudah malam? Kasihan anak-anak. Ini sudah waktunya mereka tidur".
"Iya, Ilham.. Kamu juga baru saja sampai setelah perjalanan jauh. Kok malah mau langsung pulang". Timpal Dewi.
"Aku juga kan bisa nyetir, Ma. Biarin kami pulang dulu ke Bekasi malam ini. Besok-besok aku dateng lagi ke sini. Lagipula Varo juga masih sekolah online jadi bisa di mana aja ". Ucap Ian.
Ya.. Lebih baik gw ikutin dulu mau nya dia. Lagipula kalau di sana gw bebas mau ngomong apapun. Obrolan kita tadi belum selesai!
Batin Ian dalam hati.
Tak lama kemudian, Ian berpamitan pada kedua orang tuanya. Varo dan Kai memeluk kakek nenek nya dengan erat. Ian pun segera menaikkan Kai duduk di kursi belakang dan Varo duduk di sebelahnya. Setelah di rasa kedua anaknya sudah duduk dengan aman, Ian segera masuk ke dalam mobil dan duduk si kursi pengemudi.
"Aku tidur gak apa-apa ya?". Tanya Ilham yang duduk di kursi penumpang.
"Oke". Jawab Ian singkat seraya menyalakan mobil.
Sepanjang perjalanan hanya irama musik dari radio yang menemani Ian menyetir mobil karena baik Ilham, Varo maupun Kai semuanya tengah tertidur lelap.
Ian menatap jalanan yang sudah cukup lengang. Tiba-tiba ponsel Ilham yang sedang di charge berbunyi cukup nyaring mengagetkan Ian.
Ilham sontak saja terbangun dan melihat ponsel nya dan dengan cepat menolak panggilan tersebut. Pria itu lalu menaruh kembali ponselnya dan kembali memejamkan mata.
Tak lama ponsel tersebut berbunyi lagi. Ilham mengambil kembali ponsel itu dan melihat layar.
"Kenapa gak di angkat aja sih? Siapa tau penting malam-malam begini nelfon berulang kali". Ucap Ian seraya melirik Ilham.
Ilham pun mengangkat telfon tersebut.
"Nanti aku telfon". Ucap nya singkat dan mematikan sambungan. Pria itu mencabut kabel charge dan segera mematikan ponselnya.
Ian yang mendengar ucapan singkat Ilham tadi sontak saja berseru dalam hati.
Gw gak salah denger nih? Ngomong apa dia tadi?
Aku? Aku? Aku? Aku?!!
......__________......
__ADS_1
Kecup hangat dariku!😘