Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 113


__ADS_3

Keesokan Harinya


"Apa lo yang kirimin semua foto-foto gw ke Rio selama dia di Amerika?". Tanya Ian to the point pada Rivan.


Rivan terlihat salah tingkah. Pagi ini Ian dan Rivan sedang sarapan bersama dan duduk santai di gazebo yang berada di halaman belakang rumah Ian.


"Gw gak akan marah kok kalau memang lo yang melakukan itu". Ujar Ian lagi seraya tangan nya memotong sebuah pancake di piring yang menjadi menu sarapan nya pagi ini.


"Sebenarnya bukan hanya gw. Tapi semuanya juga turut andil hehehehe". Rivan terkekeh.


Ian mengerutkan kening. "Semuanya?".


"Semua sahabat Huru Hara Squad juga ikut mengirimkan foto lo ke Rio".


"What?! Lo semua penguntit ya!". Ucap Ian seraya melemparkan serbet ke arah Rivan.


"Yaaaa gimana dong? Dia mohon-mohon ke gw dan sahabat-sahabat yang lain untuk terus jagain lo, kasih tau keadaan lo, bahkan ketika lo nikah pun tadinya gw gak mau kirimin foto lo... Gw takut dia sakit hati. Tapi dia bersikeras karena ingin lihat lo jadi pengantin, yaaa lo akhirnya taulah bagaimana... udah lihat semua kan foto-fotonya?".


Ian mengangguk. "Udah.. Gw gak tau harus gimana sekarang?". Tanya Ian seraya tersenyum tipis.


"Ikuti kata hati lo, Ian. Lo harus dalam keadaan tenang dalam mengambil keputusan". Ucap Rivan.


Ian mengedikkan bahu.


"Rio udah cerita ke gw... Apapun keputusan lo dia akan terima". Lanjut Rivan.


"Benarkah? Bahkan jika gw menolak dia?". Ian menatap serius pada Rivan.


"Ya.. Dia menerima keputusan apapun bahkan jika lo menolak dia.."


Ucapan Rivan membuat Ian termenung. Benarkah Rio sepasrah itu? Batin nya.


"Bilang sama dia, jangan hubungin gw via chat atau telfon. Bahkan jangan muncul di hadapan gw selama gw memikirkan keputusan apa yang akan gw ambil dalam satu minggu ini". Ucap Ian menatap Rivan.


Ia memang benar-benar perlu memikirkan semuanya dengan jernih. Ian tidak ingin salah melangkah lagi. Hati nya yang masih hancur tidak cukup kuat menahan segala rasa sakit jika Ia salah memilih kedua kalinya. Walau Ia pernah menjalani sebuah hubungan di masa lalu dengan Rio, tapi bagaimanapun Ia perlu memikirkan segalanya dengan sangat matang.


Sore hari Ian menghabiskan waktunya untuk berkeliling kota seorang diri. Ia menatap langit yang memunculkan semburat merah kekuningan. Langit senja selalu memukau indera penglihatannya. Ian membuka kaca jendela mobil dan menikmati hempasan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Ia menekan pedal gas semakin dalam dan mobil melaju semakin kencang di jalan bebas hambatan.


Tepat pukul 7 malam, Ian memarkirkan mobil nya tepat di depan sebuah pujasera. Ia mengamati seluruh aktifitas setiap orang yang berlalu lalang di tempat makan tersebut. Ian ingin sekali mencicipi berbagai makanan kecil yang di jajakan di pujasera ini.


Saat Ia hendak turun dari mobil, ponselnya pun berdering. Ian menatap layar ponsel yang sejak tadi berada di genggaman nya. Ia mengerutkan kening ketika melihat nama yang tertera di layar.


Karin?

__ADS_1


Ponsel nya terus berdering di saat Ian menimbang apakah akan menjawan panggilan tersebut atau mengabaikan nya. Namun nurani nya berkata untuk menjawab. Ian pun menekan tombol hijau dan segera mendekatkan ponsel tersebut ke telinga.


"Halo.." Ucap Ian saat panggilan mereka terhubung.


"Hi... Ian.. Apa kabar?" Terdengar suara karin di seberang telfon.


"Baik... Lo sendiri gimana kabarnya?".


"Aku baik juga.. hehehe.." Terdengar kekehan renyah Karin.


"Kita bisa ketemu gak? Lanjut Karin.


Ian mengerutkan kening nya. Ada apa dia tiba-tiba mau ketemu gw? Batin Ian.


"Hmm.. Bisa aja sih. Kapan?". Ucap Ian akhirnya.


"Malam ini bisa? Kita ke cafe di senopati aja".


Ian terdiam sejenak.


"Ya udah Ok". Ucap Ian dan tak lama panggilan telfon pun berakhir.


Cafe


Ian mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru cafe. Suasan cafe yang sangat nyaman di dominasi oleh kayu dan tumbuhan merambat dan pencahayaan yang temaram serta alunan musik classic membuat suasana terasa menenangkan.


Ian menyeruput secangkir cappucino hangat yang sudah di pesan sebelumnya.


"Hi". Suara wanita menyapa nya.


Ian mendongakkan kepala dan melihat Karin berada di hadapan nya. Bibir wanita itu mengulas senyum pada dirinya. Ian balas tersenyum pada Karin dan mempersilakan wanita itu duduk.


"Mau pesan apa?". Tanya Ian seraya mengangkat tangan nya pada seorang waitress.


"Hmm.. Ice lemon tea satu dan chocolate cookies ya". Ujar Karin pada waitress.


Waitress tersebut pun mengangguk dan segera berlalu untuk memproses pesanan wanita tersebut.


Sepeninggal waitress, keduanya terdiam. Suasan canggung sungguh terasa di antara mereka. Ian berdeham untuk menetralkan suasana.


"Ada apa, Rin lo ngajak gw bertemu?". Tanya Ian akhirnya.


"Aku cuma mau pamitan sama kamu hehehe". Karin terkekeh.

__ADS_1


Ian mengerutkan kening seraya menatap Karin. "Pamit? Memang lo mau kemana?".


"Aku mau pindah ke Melbourne 2 minggu lagi. Aku dapat pekerjaan di sana dan kebetulan ada tante ku yang tinggal di sana juga.." Karin mengulas senyum manis.


"Apa...... Rio tahu?".


Karin mengangguk.


"Aku menelfon dia dan ajak ketemu. Sama seperti ke kamu sekarang. Tapi dia menolak untuk bertemu aku hehehee". Ucap Karin tertawa hambar.


ian mengamati raut wajah Karin yang terbesit kesedihan. Ian menghela napasnya. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Tak mungkin Ia menghibur wanita di hadapan nya juga bukan? Saat ini saja Ia sedang di buat pusing tujuh keliling oleh pria yang sama!


"Rio memberitahu aku tentang kalian..."


Karin menatap Ian dengan intens.


"Kasih tau tentang apa?". Tanya Ian.


"Rencana kalian akan menikah".


Mata Ian terbelalak. Yang benar aja! Gw bahkan belum kasih jawaban apapun terkait hal itu! Ian berkata dalam hati.


"Aku turut bahagia, Ian. Jujur aja aku masih mempunyai perasaan pada Rio hingga sekarang, dia pria yang sulit untuk di lupakan hehehee" Karin tersenyum miris.


"Aku tahu dia berusaha untuk membuka hatinya ke aku, tapi dia gak pernah bisa.. Dari awal hatinya sudah terisi sama kamu hingga gak ada tempat lagi untuk aku walau hanya sedikit".


Ian terdiam. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada Karin.


"Rio selalu menjaga hati dan tubuhnya dari wanita lain termasuk aku. Selama dua tahun bertunangan, dia bahkan gak pernah berniat untuk mencium aku..."


Apa Rio tiba-tiba impoten? Ian bergumam dalam hati.


Karin menatap Ian dengan intens. "Aku tahu ini terlambat... Tapi yang mau aku katakan ke kamu sekarang..... Rio gak pernah melupakan kamu walau kamu menjadi istri orang lain, walau dia bertunangan dengan aku, bahkan dia selalu mengutamakan kamu di banding siapapun. Dunianya hanya kamu, Ian".


Ian menghela napasnya pelan. Jari jemarinya bertaut di atas meja. Manik mata nya menatap lekat ke arah Karin.


"Kenapa lo kasih tau gw semua ini?". Tanya Ian.


"Karena ini demi kepentingan aku sendiri. Selama ini aku selalu berusaha keras untuk berpura-pura jika hubungan aku dengan Rio berjalan bahagia di depan kamu. Hati aku gak tenang sebelum aku mengatakan yang sebenarnya.. dan hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Rio... untuk membalas semua waktu yang dia berikan selama dua tahun dengan aku...."


Jawaban yang di lontarkan Karin benar-benar membuat Ian termenung. Mulutnya membisu sedangkan pikiran nya terasa berisik sekali.


......__________________________________......

__ADS_1


Iya sih ian harus mikir panjaaangg dan mataaangggg.. tapi kalau othor punya sosok lelaki kayak rio yg mau nerima othor dlm keadaan apapun dan banyak bonus yg dibawa sama pria itu sih heemmmmmm.......... othor langsung gragaasss ajaaaa🙄✌


__ADS_2