
Anin mengedip cepat, membayangkan apa yang akan dia lakukan untuk membatalkan kontrak Zeline, makian dan bentakan sutradara juga produser sudah pasti akan dialamatkan kepadanya belum lagi kedepannya Zeline akan dianggap tidak profesional dan gosip itu akan menyebar kepada sutradara lain yang akan membuat Zeline sepi job itu berarti ia akan mengemis job seperti dulu saat Zeline baru pertama kali menginjak dunia hiburan.
Anin menelan salivanya dengan susah payah dan peluh mulai menetes dari keningnya.
"Kamu tenang saja, Elgi sudah mengatur semuanya dan tidak akan membuat karir Zeline hancur, cukup temani Elgi saja" King seperti bisa membaca kekhawatiran Anin.
"Baik Tuan..., " Anin menjawab dengan meremas ujung kemejanya.
"Tolong seleksi kontrak kerja Zeline mulai sekarang jangan sampai dia kelelahan dan menyita banyak waktunya... Mulai sekarang saya yang bayar gaji kamu dan Joe, saya naikan 2x lipat dari sebelumnya. Tolong jaga Zeline dengan baik ya, Nin" Tutur King dengan suara rendah tapi terdapat penekanan dalam kalimat tersebut.
"Baik Tuan, terimakasih..., ada lagi?"
"Apa yang Zeline suka?" tanya King lagi
"Heuh?" Anin melongo
"Misalnya bunga apa atau dia suka coklat apa ngga, kalau lagi marah apa yang buat dia berenti marah..." tanya King lagi dengan kaku dan sedikit pelan.
Anin mengulum senyum, merasa lucu dengan pertanyaan dari pria penuh wibawa dihadapannya. Sebagian hati nya merasa lega karena merasakan perhatian King kepada Zeline.
"Zeline anak manja, Tuan... Dia ingin selalu disayang dan dimanja, tapi Zeline juga bukan orang yang spesifik dia akan menghargai semua pemberian apa pun itu" tutur Anin.
"Baiklah... Kamu boleh pergi"
"Terimakasih Tuan..., " Anin berdiri dari duduknya kemudian membungkuk sedikit dan keluar dari ruangan King.
Setelah menutup pintu, Anin baru bisa bernafas lega. Ternyata Tuan Muda yang menjadi suami Zeline itu cukup ramah dan memperdulikan istrinya. Ia pun heran mengapa Zeline seperti tidak menyukai pria baik seperti King.
"Nona Anin..." suara lembut Elgi membuyarkan lamuman Anin.
"Ah.. I.. Iya..." saut Anin terbata karena terkejut disuguhkan pria tampan berjas di hadapannya.
"Apa Tuan Muda sudah menginstruksikan mengenai kontrak film Nona Zeline?"
Anin mengangguk cepat.
"Kalau begitu, apa kita sudah bisa pergi sekarang?saya sudah menghubungi sekertaris produsernya untuk membuat janji" ucap Elgi
"Ah ya.. Bisa...ayo" saut Anin kemudian.
Keduanya beriringan berjalan menuju lift.
*****
Seharian ini King sangat sibuk dengan meetingnya, tanpa bantuan Elgi yang sedang ditugaskan menyelesaikan permasalahan kontrak Zeline membuat pria itu melakukan semuanya sendiri.
Sepertinya ia harus mempekerjakan satu sekertaris lagi bila Elgi sedang melakukan tugas penting.
Matahari sudah kembali keperaduannya berganti dengan rembulan yang menemani sang malam, tapi kepadatan jalanan di pusat perkantoran itu masih belum juga mereda, lampu-lampu dari kendaraan yang berlalu lalang berpadu dengan lampu dari gedung-gedung yang menjulang tinggi terasa sedap di pandang dari ruang King yang berada di lantai 35.
Sudah waktunya pulang menemui istrinya, menyelesaikan masalah pagi ini dengan mengumpulkan sisa-sisa kesabaran yang masih ia punya.
__ADS_1
Ia memiliki segalanya, tapi ia tidak bisa membeli stock sabar untuk menghadapi istri keras kepalanya itu.
Beberapa menit berlalu sampailah ia di lobby apartemen mewahnya.
Setelah memberikan kunci pada petugas valet, pria itu melenggang masuk dengan sebuket bunga di tangan kiri dan sekotak coklat di tangan kanannya.
Klik... Tanda pintu apartemen terbuka, seharian ini ia tidak mendengar kabar dari istrinya. Dan saat ini rasanya King merindukan gadis keras kepala itu.
Pandangannya langsung tertuju pada sofa, dimana Zeline sedang terbaring dengan selimut membalut pinggang hingga kakinya sambil menonton TV.
Gadis itu menoleh kearah pintu, mendapati sosok suaminya dengan tangan penuh memegang bunga dan coklat.
Zeline membuang tatapannya kearah TV.
Setelah membuka sepatu dan memakai sendal rumah, King menghampiri istrinya.
"Udah makan?" suara lembut itu menggetarkan hati Zeline lalu menurunkan kakinya memberi tempat untuk suaminya.
Zeline membalas dengan mengangguk.
King duduk disamping Zeline masih dengan memegang dua benda sakral yang terkenal romantis itu.
Zeline melirik bunga dan coklat yang dipegang King. Keningnya berkerut karena King malah asyik menonton TV. Ia yakin bunga dan coklat itu untuknya.
"Bunga buat siapa?" tanya Zeline.
"Bukan buat siapa-siapa, tapi kalau kamu mau... Boleh, ini buat kamu!" King menjawab dengan memberika bunga ditangannya pada Zeline dengan menahan senyumnya.
"Ga mau, kasih aja sama Office Girl gedung ini..." ucap Zeline ketus kemudian beranjak berdiri.
Tapi tangan King menariknya hingga gadis itu terjatuh dipangkuan King dengan posisi menyamping.
Wajah keduanya sangat dekat.
"Aku becanda... Bunga ini aku beli khusus buat kamu, baby! Aku minta maaf... " King meletakan bunga itu dalam genggaman Zeline.
"Maaf untuk apa?" saut Zeline datar sembari mencium bunga ditangannya.
"Bentak kamu tadi pagi"
Zeline tidak menjawab, ia masih memperhatikan bunga ditangannya.
Cup.
King mengecup rahang Zeline dan mendapatkan cubitan diperut dari gadis dipangkuannya.
"Paan sih cium-cium!" Zeline menautkan alisnya.
"Aw.. Sakit, baby" ringis King.
Zeline hanya mendelik tajam kemudian perhatiannya kembali pada bunga mawar indah dengan berbagai warna itu.
__ADS_1
"Kamu suka?"
Zeline mengangguk dengan tatapan terpaku pada sebuket bunga ditangannya yang diikat indah dengan pita berwarna pink.
"Sengaja aku pilih yang cantik, kaya kamu" ucap King lirih.
"Heu?" Zeline mengerjap pelan dengan wajah merona.
Kenapa pria ini berubah menjadi gombal dan romantis?
"Lepas, King!" Zeline hendak berdiri dari pangkuan suaminya karena sudah merasakan jantungnya yang mulai berdebar kencang tapi tangan kekar itu tak mengijinkan dan makin mengeratkan pelukannya.
"Makan dulu coklatnya..." satu tangan King terlepas, mengambil coklat disampingnya dan memberikannya pada Zeline.
Gadis itu membuka kotak coklat dan mengambilnya satu butir, ia dekatkan ke bibir suaminya yang dibalas dengan gelengan kepala.
"Buat kamu..." ucap pria itu.
Zeline menggigit sebagian coklat yang diapit jari telunjuk dan ibu jarinya lalu mendekatkan sebagiannya lagi kebibir suaminya.
King masih menggelengkan kepala sambil memperhatikan bibir Zeline yang mengunyah coklat dimulutnya.
Zeline memasukan kembalin potongan coklat kemulut lau menjilat ibu jari dan telunjuknya membuat King menelan saliva.
Satu tangan King merayap naik kepunggung Zeline hingga tengkuk dan menekannya sedikit agar pria itu mudah mengakses bibir istrinya.
Sapuan benda hangat dan kenyal dibibirnya membuat Zeline terbuai hingga membuka sedikit bibirnya memberikan jalan untuk lidah suaminya menyecap manis dan saling menukar kenikmatan dalam kecupan.
Setelah keduanya hampir kehabisan nafas, barulah pria itu menjauhkan bibirnya lalu tersenyum tipis kemudian menyambar bibir istrinya kembali dan kali ini Zeline melingkarkan tangan dileher King dan memberikan cengkraman di sela rambut legam sang suami mengiyakan ciuman manis semanis coklat itu.
.
.
.
.
.
.
Hai readers, chapter kali ini sampe 2301 kata loh, sengaja disatuin biar ga gantung ya...
Ga janji bisa update tiap hari ya karena minggu ini sama minggu depan lagi sibuk banget.
Terimakasih untuk like, coment dan votenya...
Jangan lupa like, comment disetiap chapternya yaaa dan vote disetiap minggunya...
Hug Kiss (^3^)
__ADS_1