Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 118


__ADS_3

Pesta Lajang


Di sebuah hotel mewah bintang 5 yang terletak di pusat Ibu Kota, Rio dan para sahabat pria menyewa 1 kamar yang berada di lantai 20. Hingar bingar musik dari sebuah speaker menggema ke seluruh penjuru ruangan. Rio berdiri tepat di balik jendela menatap gemerlap nya lampu kota dari berbagai gedung pencakar langit di sekeliling hotel. Ia beralih menatap ke bawah di mana lalu lintas terlihat cukup padat.


"Minum, Bro!". Sahut Eki seraya memberikan segelas wine.


Rio menerimanya dan menyesap nya perlahan. Pria itu masih berdiri menatap ke arah luar.


"Mikirin apa sih lo? Santai lah! Ini pesta lajang lo. Nikmatin malam ini, Bro". Ucap Eki.


Rio menoleh ke arah Eki dan tersenyum masam. "Gara-gara lo semua nih si Ian marah sama gw!".


Eki tertawa keras. "Udah lah nanti juga baikan! Anggap ini malam terakhir lo jadi bujangan. Habis ini kita juga gak mungkin ngajakin lo yang udah punya istri ke pesta seperti ini".


Rio mendesah pelan dan menatap ke arah luar.


Malam semakin larut namun hiruk pikuk di dalam sebuah kamar hotel justru semakin meriah. Bukan hanya sahabat pria huru hara saja yang datang, namun beberapa teman kuliah Rio yang cukup dekat dengan nya pun datang ikut memeriahkan.


Bel kamar berbunyi. Salah seorang pria terlihat berjalan ke arah pintu dan membukanya. Rio yang sedang duduk mengobrol dengan beberapa teman nya pun terbelalak kaget ketika melihat 3 orang wanita berpakaian minim datang.


"Siapa raja pesta malam ini yang harus kita servis?". Ucap salah seorang wanita.


"Eh tunggu, setahu gw kita gak sewa wanita untuk malam ini". Ujar Rivan.


Rivan, Gilan dan Eki pun saling pandang. Sahabat Rio dari Huru Hara tentu saja merupakan sahabat Ian juga. Mereka bertiga sudah berjanji tidak akan melibatkan wanita di dalam pesta lajang Rio malam ini. Namun siapa yang memanggil 3 wanita yang ada di kamar hotel saat ini?


"Gw yang manggil mereka kesini. Ini hadiah dari gw untuk lo, Bro!". Ujar seorang pria yang bernama Adam.


Raut wajah Rio terkejut. Adam. Teman Rio saat berkuliah S1 dahulu yang sempat Rio minta bantuannya untuk mencarikan sebuah klinik dokter kandungan yang bisa melakukan aborsi. (Ada di bab awal). Tentu saja rahasia itu Adam pun mengetahui nya.


"Makasih sebelumnya, Bro. Tapi gw gak suka melibatkan wanita di sini". Ujar Rio akhirnya seraya menatap Adam.


Adam menghampiri Rio seraya tersenyum. Pria itu menepuk punggung Rio. "Nikmati aja Bro. Mereka hanya penghibur aja di sini. Kita batangan semua di sini. Gak seru lah! Lo mau pakai atau gak, itu terserah lo". Sahut Adam.


Rio mendesah kasar mendengar penuturan Adam.


Kalau Ian tahu, bisa habis di cincang gw!


Rio pun memutuskan untuk membiarkan ketiga wanita panggilan itu melaksanakan tugasnya. Namun tak di biarkan satupun dari mereka untuk mendekati apalagi menyentuh dirinya. Rio hanya memberi arahan pada ketiga wanita itu untuk menghibur teman-teman nya.


Dini hari pukul 2 malam, suasana semakin panas. Hanya ada 2 orang wanita yang tengah meliuk-liukkan tubuh di ruang tengah kamar hotel tersebut. Kemana 1 wanita lagi? Oh tentu sedang men'servis' di atas ranjang yang empuk.

__ADS_1


Rio lama-lama semakin jengah berada di dalam kamar. Tentu Ia adalah pria normal. Ketika melihat wanita meliukkan tubuh di hadapan nya dengan tubuh yang polos tentu saja itu memancing diri nya. Namun selama ini Ia masih bisa mengontrol nya agar tidak mudah terbuai, ketika akal sehatnya mulai redup dan mulai terpengaruh, Rio selalu mengingat kembali raut wajah Ian yang sangat menyayat hatinya. Pancaran mata kesedihan dan terluka dari wanita yang amat di sayanginya selalu Ia ingat hingga Ia tak mampu untuk terbuai oleh wanita lain.


Tiba-tiba bel kamar berbunyi. Siapa lagi larut malam begini? Batin Rio.


Rio melangkah melewati dua wanita dan beberapa teman nya yang sedang membelai tubuh polos kedua wanita tersebut. Rio membuka pintu dan raut wajah nya terkejut bukan main saat melihat Ian lah yang berada di balik pintu.


Rio memindai penampilan Ian yang hanya memakai piyama satin berwarna merah yang di balut oleh jaket jeans, rambut di gelung asal serta sandal jepit. Tak lupa tas kecil melingkar di tubuhnya.


Ian tak menatap ke arah Rio namun pandangan wanita itu menusuk tajam ke belakang pundak Rio. Ian menatap ke salah seorang wanita panggilan yang ternyata mengikuti Rio membuka pintu. Rio mengikuti arah pandangan Ian dan seketika itu juga pria itu mengusap wajah nya kasar.


"Sayang.. Aku bisa jelasin serius aku gak....."


"Pulang sekarang". Ucap Ian dengan nada dingin memotong perkataan Rio.


Rio dengan cepat menganggukkan kepala dan segera melesat masuk untuk mengambil beberapa barang miliknya. Sebelum pergi, Ia meminta tolong pada Rivan yang sedang mengobrol dengan Eki untuk membereskan semuanya. Permintaan Rio tentu di sanggupi oleh keduanya.


Rio melihat Ian yang sedang memasang wajah super dingin ketika melihat dua wanita penghibur itu. Sungguh hati Rio kini bagaikan tsunami dahsyat menerpa dirinya. Ia bingung bagaimana menjelaskan pada Ian. Ia takut jika wanita itu tal mempercayai ucapan nya.


Rio memilih untuk membungkam mulutnya selama perjalanan mereka menuju tempat parkir. Ian lantas masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi di ikuti Rio yang duduk di kursi penumpang.


Hening. Keduanya hanya diam membisu. Rio diam karena Ia memikirkan bagaimana caranya menjelaskan situasi di kamar hotel sedangkan Ian diam karena wanita itu perlu menetralkan emosinya yang membuncah.


Rio menoleh pada Ian yang tengah menatap ke depan. Jari jemari nya mencengkram kemudi dengan kuat. Rio menghela napas pelan.


Ian diam tak menjawab.


"Sayang.. sumpah gw bisa jelasin..." Ucap Rio lagi.


Ian mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Di manjain banget kan mata lo malam ini sama tubuh yang molek". Ucap Ian ketus.


Rio merubah posisi duduknya hingga menghadap ke arah Ian.


"Sumpah sayang itu di luar kendali. Awal rencana memang gak akan ada wanita penghibur. Gw serius! Tapi teman gw yang manggil untuk kasih kejutan". Jelas Rio kalang kabut.


"Gw gak terima servis apapun dari 3 wanita panggilan itu! Di sentuh aja gw gak mau apalagi servis di kasur. No.. no.. sayang.. serius!". Lanjut Rio.


Ian mendesahkan napas nya dengan kasar.


"Iya gw tau". Ucap Ian masih menatap ke arah depan.

__ADS_1


"Tapi tetap aja gw gak terima kalau lo sedikit banyak pasti melihat tubuh polos ketiganya!!!". Hardik Ian seraya menatap tajam pada Rio.


Glek... Rio menelan ludah melihat ekspresi marah di wajah Ian.


"Gw gak melihat terang-terangan sayang. Habis sepanjang gw mengedarkan pandangan, ya mentok di situ-situ aja". Ucap Rio jujur.


"Lo kan bisa keluar dan pulang!". Ucap Ian kesal.


"Gak sopan sayang. Mereka semua adain pesta itu untuk gw".


Ian terdiam tak menjawab apapun.


"Tapi tadi lo bilang kalau lo tau gw gak ngapa-ngapain di atas, lo bisa tau dari mana?". Tanya Rio ketika pria itu mengingat jawaban Ian tadi.


Ian menyandarkan punggung nya ke kursi kemudi.


"Rivan, Eki dan Gilang yang kasih tau gw. Mereka bertiga non stop kirimin foto atau video lo sejak awal pesta ke gw". Ucap Ian seraya mendesah pelan.


Rio terkejut. "Kok bisa?".


Ian mengedikkan bahunya. "Mereka udah janji sama gw kalau gak akan ada wanita di pesta lajang lo tapi kenyataan nya lain. Jadi demi menjaga kepercayaan gw ke lo, mereka bertiga kirimin bukti-buktinya kalau lo gak ngapa-ngapain walau ada wanita penghibur".


Thanks a lot guys! Sumpah setelah ini lo bertiga gw beliin apapun yang lo bertiga minta! Sorak gembira Rio dalam hati.


"Tapi tetap aja gw kesal membayangkan lo lihatin tubuh polos yang lain!". Ucap Ian cemberut.


Rio mengulas senyum. "Jadi karena itu lo gak bisa tidur dan pilih datang nyusul gw ke hotel hmm?".


"Ya iyalah! Lo gak lihat penampilan gw sekarang?! Mana bisa gw tidur ketika gw tau di depan mata lo ada wanita-wanita ganjen yang siap memangsa!". Ian mencebikkan bibirnya.


Tentu saja tingkah Ian membuat Rio sangat gemas. "Lo tuh udah jadi ibu 2 anak, tapi masih bisa bikin gw gemas bukan kepalang sayang".


"Gak usah gombal. Gw masih marah sama lo". Ucap Ian ketus.


Rio menarik tubuh Ian dan mengulum bibirnya dengan cepat. Pria itu menyesap dengan lembut membuat darah Ian berdesir.


"Makasih sayang udah percaya sama gw..." Ucap Rio saat melepas pagutan nya dan memeluk tubuh Ian dengan erat.


......_____________________......


__ADS_1


End di sini?πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


__ADS_2