
Malam Pertama Yang Bukan Pertama
Pesta pernikahan keduanya telah usai di selenggarakan. Para tamu pun sepenuhnya sudah meninggalkan ballroom hotel dan kini tinggal lah keluarga dan kerabat kedua keluarga saja yang masih berada di sana.
Ian di temani oleh Manda dan Eca melangkah menuju ruang rias untuk membuka mahkota kecil serta gelungan rambutnya.
Rio yang sedang bercengkerama dengan beberapa sepupunya melihat ke arah Ian yang terlihat meninggalkan ballroom. Pria itu pamit terlebih dahulu pada para sepupu dan segera menyusul Ian.
"Sayang!". Panggil nya pelan.
Ian, Manda dan juga Eca menoleh ke belakang dan mendapati Rio melangkah dengan cepat ke arah mereka berdua.
"Mau di bawa kemana istri gw?". Tanya Rio menatap Ian dengan tatapan yang sulit sekali di artikan.
Hati Ian berdesir manakala Rio menyebut nya dengan 'istri'. Aaahhh... Yaaa gw memang isttinya sekarang.. Ian bergumam dalam hati.
"Mau kita bawa kabur pengantin lo!". Sahut Manda asal.
Rio lantas dengan cepat menarik Ian mendekat padanya. "Enak aja lo berdua! Baru aja gw kawin, udah mau di bawa kabur!". Ucap Rio.
Ian, Manda dan juga Eca pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi di wajah tampan Rio.
"Lo berdua pulang aja. Ian biar gw yang urus". Ucap Rio menatap kedua sahabat nya.
Manda dan Eca saling berpandangan dan mengulum senyum seakan tahu apa maksud dari ucapan Rio.
"Ya udah kita pulang aja beb. Si Rio gak akan biarin kita bantuin lo lepas ini semua kayaknya. Tugas dia aja deh sekalian ehem". Ucap Eca tertawa.
ian melotot kesal dan mendelik pada Rio yang menaikkan sebelah alisnya seakan bertanya 'apa?'.
Selepas Manda dan Eca pergi, Ian tetap melangkahkan kaki nya menuju ruang rias namun dengan sigap Rio menarik lengan Ian dan memegang pinggang nya dengan erat.
"Mau kemana sayang? Tujuan kita bukan ke arah sana. Tapi ke...." Ucap Rio dengan jari telunjuknya mengarah ke atas.
"Tapi gw harus buka ini semua. Gw juga harus ambil ponsel gw di ruang rias, Yooo". Ucap Ian.
Rio menarik tubuh Ian yang masih Ia genggam erat pinggang nya agar tidak menjauh. "Ngapain lo minta tolong orang lain untuk buka ini semua kalau gw juga bisa buka, hm?". Ucap Rio menyentuh dagu Ian sehingga wanita itu mendongakkan kepala ke arah nya.
"Tapi ponsel gw...."
"Nanti di kamar gw telfon Ifan untuk ambil di ruang rias. Ada lagi?".Tanya Rio menatap lekat manik mata Ian.
"Varo dan Kai........."
"Mereka berdua udah sama para nenek dan kakek nya sayang..."
__ADS_1
Ian mendesah pelan seraya menatap Rio yang membuat pria itu tersenyum lebar. Keduanya pun segera menuju lift dan memencet lantai 21 di mana kamar pengantin yang sudah di siapkan untuk mereka berada.
Di dalam kamar Ian benar-benar terpukau melihat dekorasi yang begitu indah. Ranjang king size dengan sprei putih khas hotel di hias dengan kelopak mawar merah dengan bentuk love. Di sepanjang lantai kamar pun di taruh banyak sekali lilin aromatherapy dengan wangi vanilla yang lembut sehingga membuat suasana semakin sensual.
Ian yang masih terpukau dengan keindahan kamar pengantinnya pun sampai tak sadar jika Rio melangkah ke arahnya dan memeluk tubuh rampingnya dari belakang. Pria itu mendaratkan ciuman-ciuman kecil di tengkuk leher Ian yang mampu membuat bulu kuduknya meremang
Ian menggeliatkan tubuhnay dan berbalik ke arah Rio. "Yoo, Mandi dulu ah gak enak. Lengket banget rasanya nih badan..."
"Nanti aja lah sayang.. Habis tempur kan mandi lagi..." Ujar Rio mengecup wajah Ian.
ian mendorong tubuh Rio dengan pelan. "Mandi dulu atau lo nganggur malam ini".
Rio mendesah pelan dan mengecup kening Ian. "Ya udah sana mandi duluan..."
Sebelum beranjak masuk ke kamar mandi, Rio membantu untuk membuka riasan di kepala dan membuka gaun pengantin yang membalut tubuh Ian dengan tangkas.
20 menit kemudian Ian keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe . Tubuhnya terasa segar dengan rambut setengah basah yang di gelung dengan handuk di kepalanya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar hotel dan tidak mendapatkan Rio di sana.
Namun selang 10 menit kemudian, bel pintu kamar hotel nya berbunyi. Ian pun melangkah membuka pintu dan melihat Rio berada di baliknya.
"Dari mana?". Tanya ian saat Rio melangkah masuk ke dalam.
Rio tak menjawab namun dengan cepat menggotong tubuh Ian ke dalam kamar dan merebahkan nya dengan pelan ke atas ranjang.
"Gw dari kamar Ifan numpang mandi hehehe".
Sial..gw gugup banget padahal ini bukan yang pertama sama dia!
Ian mengumpat dalam hati seraya mendesah pelan.
Rio tersenyum dan mengecup seluruh wajah Ian dari kening, kedua kelopak mata, hidung, pipi dan saat di bagian bibir pria itu diam sebentar menciptakan jarak setipis kertas di antara mereka. Ian yang sudah terbuai suasana pun menarik tengkuk leher Rio ke arahnya sehingga kedua bibir mereka beradu.
Rio dengan lembut menyesap, mengulum dan me****** bibir Ian sehingga membuat lenguhan yang terdengar seksi bagi siapapun yang mendengarnya.
Ciuman Rio pun turun menuruni leher jenjang Ian dan menghisap kecil sehingga menimbulkan jejak kemerahan. Tangan Rio menyusup ke balik bathro**be yang di pakai Ian dan tersenyum samar saat menyadari Ian tak memakai apapun di baliknya. Rio menyentak bathrobe tersebut sehingga menampakkan tubuh ramping Ian yang polos.
Pria itu berlutut dan membuka kaus yang membalut tubuhnya sehingga menampakkan tubuh atletis dengan tonjolan otot-otot yang tak berlebihan. Rio membungkukkan badan nya kembali ke atas tubuh Ian dengan senyuman nakal.
"Hanya lo yang bisa membuat gw bergairah sayang..." Ucap Rio mengecupi leher Ian dan meremas salah satu gunung milik Ian. Rio lalu mengulum dan menghisap kecil puncak gunung tersebut yang sontak saja membuat tubuh Ian menggeliat geli.
Pria itu terus mengulum, menghisap dan memainkan lidah nya di atas puncak gunung. Tangan Rio turun ke bawah menuju area sensitif Ian yang sudah lembab. Pria itu mengecup perut Ian dan membelai lembut bekas samar operasi caesar yang ada di bawah perut istrinya. Pelan namun pasti kini wajah Rio tengah berada tepat di hadapan area paling sensi*tif milik Ian.
Ian yang malu dan tak terbiasa mencoba untuk menarik pundak Rio namun pria itu tak bergeming sedikitpun.
"Yooo.. Jangan.. Gw malu..." Ucap Ian tertahan.
Namun Rio malah dengan cepat membenamkan wajah nya ke area lembab tersebut. Lidah nya dengan lihai nya bermain. Menji*lat area lembab itu sehingga mampu membuat tubuh Ian melengking ke atas. Ian meremas rambut Rio namun tanpa sadar Ia pun makin menekan kepala Rio semakin dalam ke area sensi*tifnya.
__ADS_1
Tak lama Ian merasakan desakan yang sangat hebat di dalam tubuh nya dan pelepasan pertama terjadi yang membuat tubuhnya bergetar.
Rio merangkak kembali ke atas tubuh Ian seraya mengusap bekas-bekas cairan kenik*matan milik Ian yang berada di wajahnya. Pria itu menyeringai nakal menatap manik mata istrinya. Ian memalingkan wajahnya malu.
Rio mengecup kening Ian. "Kenapa harus malu? Kita udah pernah melakukan ini sebelumnya..."
"Lo milik gw seutuhnya. Apapun yang pernah terjadi, yang penting sekarang lo adalah milik gw". Ucap Rio seraya mengulum kembali puncak gunung Ian.
Keduanya kini sudah telan*jang bulat tanpa ada sehelai benangpun membalut tubuh mereka. Pedang milik Rio sudah berdiri tegak sempurna siap menggempur ke dalam sarangnya.
Rio mencium kembali bibir Ian seraya pedang miliknya Ia gesekkan ke area sarang. Gesekan di antara kedua inti tubuh mereka membuat gelenyar aneh seperti sengatan listrik.
Rio melepas pagutan mereka dan menatap lekat manik mata Ian saat pedang nya mencoba melesat masuk.
Jleb!
Pedang miliknya kini telah masuk sempurna ke dalam sarang lembab itu yang membuat Ian memejamkan mata.
"Buka matanya sayang..." Ucap Rio pelan.
Ian dengan pelan membuka matanya. Ia takut menghadapi sorot kecewa pada tatapan suaminya saat keduanya sudah menyatu. Ia takut Rio kecewa ketika mengingat Ia sudah pernah melahirkan dan pastilah akan terasa berbeda dari terakhir kali mereka melakukannya.
"Masih tetap sempit...". Racau Rio ketika mulai memompa dengan pelan.
Ian mencengkram kedua lengan kekar Rio saat pria itu menghujamkan inti tubuhnya lebih dalam. Rio terus memompa sarangnya dengan cepat. Manik mata pria itu menatap Ian dengan penuh cinta.
Rio menginginkan Ian lebih dari sebelumnya. Ia bertanya-tanya dalam hati seberapa dalam Ia bisa memasuki tubuh istrinya. Ia ingin menaklukan Ian sepenuhnya.Mendengarkan jeritan penuh nikmat dari mulut wanita itu. Dua bagian tubuh mereka menjadi satu siap memangsa dan saling menghisap satu sama lain.
Ian menjerit hebat ketika merasakan pelepasan nya yang kedua kali. Sungguh pedang milik Rio yang berukuran di atas rata-rata pria lokal benar-benar mengoyak inti tubuh nya. Menyalurkan kenik*matan tiada tara ke seluruh nadi.
Rio menarik tubuh Ian sehingga kinj posisi mereka terbalik. Ian berada di atas tubuh kekarnya. Posisi ini membuat Rio leluasa menjelajah kedua gunung favoritnya.
Ian mulai menggerakkan pinggulnya dan mendesah pelan. Kedua tangan Rio meremas dua gunung menantang yang naik turun mengikuti gerakan tubuh Ian. Dengan posisi ini tentu saja pedang milik Rio benar-benar menghunjam masuk sepenuhnya ke dalam sarang sehingga terasa sangat penuh di dalam sarang.
Rio ikut menggerakkan pinggulnya ke atas menghunjam lebih dalam. Keduanya saling bergerak menikmati pergulatan panas dengan tubuh yang sudah banjir keringat. Ian menaruh kedua telapak tangan nya di dada bidang Rio. Ia menggeleng-gelengkan kepala nya ketika merasakan desakan yang amat hebat ingin meledak untuk ketiga kalinya dari dalam tubuhnya. Rio terus mengangkat pinggulnya ke atas. Pedangnya terus melesak masuk. Pria itu semakin memompa sarang milik Ian dengan tempo yang cepat.
"Sayang.... aaaaakkkhhhh!". Rio melenguh ketika mencapai puncak. Ia melepaskan lahar kenik*matan dalam sarang nya.
Tubuh Ian menggelinjang hebat. Ia jatuh begitu saja ke atas tubuh Rio dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Rio memeluk erat tubuh Ian yang masih berkedut karena mencapai puncaknya.
"I love you sayang....." Ucap Rio pelan saat kedua inti tubuh mereka masih menyatu.
......______________......
🏳🏳🏳
__ADS_1