
Imran keluar dari ruang kerja nya dan melangkah dengan cepat menuju kamar Ian. Pria paruh baya yang masih gagah pada usianya segera membuka pintu kamar Ian. Ian yang sedang duduk termenung di sisi ranjang sontak saja menampakkan raut wajah yang terkejut. Ian refleks berdiri menatap Imran yang melangkah mendekatinya.
"Apakah yang di katakan oleh Ilham tadi benar?". Tanya Imran.
Ian menunduk. Ia hanya bisa menatap jari jemarinya yang saling bertaut.
"JAWAB!".
Ian menganggukkan kepala nya sedikit.
"Dengan siapa kamu melakukan nya? Apakah Rio?".
Ian menganggukkan kepala nya lagi. Imran mengusap wajah nya kasar. Pria paruh baya itu hanya bisa menatap putri sulung nya dengan tatapan kecewa.
"Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk melakukan hal seperti itu sebelum menikah!".
"Papa selalu mengajarkan kamu untuk menjaga diri dalam pergaulan! Dan ternyata kamu melempar kotoran pada wajah orang tuamu sendiri!". Cecar Imran.
Ian menunduk tak berani menatap wajah Imran. Ia lebih memilih diam dari pada menimpali segala ucapan Imran. Biarlah... Dia memang pantas mendapatkan segala makian. Apalagi jika Imran mengetahui perilaku nya dahulu dengan Rio yang sampai...........
Bulu kuduk Ian meremang. Membayangkan nya saja Ia tak sanggup.
"Panggil Rio sekarang juga ke sini!".
Ian mendongakkan kepala terkejut dengan perkataan Imran. "Untuk apa, Pa? Ini semua sudah terjadi. Jangan bawa-bawa Rio. Aku hanya ingin fokus pada masalah rumah tangga ku".
"Cepat telfon Rio sekarang!". Imran tak menghiraukan ucapan Ian.
"Pa! Apa yang terjadi antara aku dan Rio itu semua ada di masa lalu!".
"Tapi kalian berdua sudah melempar kotoran pada orang tua! Cepat telfon!". Imran bersikeras.
Ian meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia menatap sekilas Imran yang masih berdiri di hadapan nya menunggu Ian menelfon. Ian menghembuskan napas pelan. Tak ada jalan lain, Ia benar-benar harus membuat Rio datang ke hadapan Imran.
Dalam dua kali panggilan, Telfon pun terhubung.
"Yo... Datang ke rumah gw sekarang bisa?" Sahut Ian seraya menempelkan ponsel nya di telinga.
"Sekarang? Ada apa kok tiba-tiba hm?". Rio menjawab dari seberang telfon.
Ian menatap Imran sekilas. "Nanti juga lo tau di rumah. Bisa gak sekarang?".
Hening. Rio terdiam sejenak tak menjawab apapun.
"Oke. Gw gak ada jadwal meeting hari ini. Tunggu ya". Ucap Rio akhirnya. Ian pun memutuskan sambungan telfon dan menaruh ponsel nya kembali ke atas nakas.
Imran lalu beranjak keluar kamar Ian tanpa sepatah kata pun. Ian menatap punggung Papa nya dan terduduk lemas di sisi ranjang. Ia mengatupkan kedua tangan nya menutup wajah. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
__ADS_1
Apapun yang terjadi.. Hadapi, Ian!
Satu Jam Kemudian....
Ian yang sedari tadi berada di teras duduk menunggu kedatangan Rio langsung berdiri begitu mendengar suara klakson dari balik pagar rumah. Seorang security lalu membukakan pagar.
Ian segera melangkah ke area halaman depan rumah dan menunggu Rio keluar dari mobil nya. Ia meremas ujung kaus putih yang di pakainya saat ini menandakan bahwa Ia benar-benar di landa kecemasan.
Ian melihat Rio yang masih memakai setelan semi formal yang biasa di pakai nya ketika bekerja. Rambut yang di tata rapih memakai pomade membuat aura tampan nya semakin kuat.
"Ada apa mendadak banget manggil gw ke rumah? Ada hal penting?". Tanya Rio saat Ia keluar dari mobil nya.
"Yooo.. Papa mau bicara". Ucap Ian pelan.
Rio mengerutkan kening nya bingung. "Bokap lo?".
Ian mengangguk.
"Bicara apa sampai panggil mendadak begini? Ya udah gw temuin dulu..." Rio lantas melangkahkan kaki nya ke dalam rumah. Namun baru beberapa langkah sudah di tarik kembali oleh Ian.
"Yo.. Gw gak tau harus ngomong dari mana. Tapi inti nya Papa tau masa lalu kita". Ucap Ian seraya menatap manik mata pria itu.
Mata Rio terbelalak. Raut wajah nya terkejut. "Masa lalu.... Semuanya?".
Ian menggeleng pelan. "Gak sampai hal...."
"Gw temuin bokap lo dulu".
Ian memegang lengan jas Rio. Pria itu menoleh ke belakang. "Gw takut papa marah besar sama lo. Tadi Ilham pun datang dan kena tamparan sama Papa.. Gw gak mau lo juga, Yo".
Rio menghadap Ian lurus. Kedua tangan nya Ia sampirkan di atas pundak Ian. "Gak apa-apa, Ian. Lo tenang aja ok?". Rio menatap Ian dengan intens.
Ian menghela napas nya dan mengikuti Rio yang sudah melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Keduanya segera naik ke lantai 2.
Ian membuka pintu ruang kerja Imran dan melihat papa nya sedang berdiri menatap ke arah luar melalui jendela.
"Duduk, Rio". Ucap Imran tanpa melihat kedua nya.
"Dan kamu, Teh.. Keluar dulu". Lanjut Imran meminta Ian untuk meninggalkan Rio dan Imran hanya berdua.
Ketika Ian akan menyanggah, Rio memberikan intruksi dengan tangan nya agar tidak menjawab. Ian pun hanya bisa pasrah dan melangkah ke luar.
Imran berbalik badan dan menatap Rio dengan lekat.
"Kamu tau Rio? Kamu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri sejak kamu lahir. Gazy dan Gaby dahulu sering sekali membawa kamu ke rumah ini ketika kamu kecil"..
"Lalu ketika kedua orang tua kamu menitipkan kamu pada saya saat usia kamu 18 tahun karena kamu tidak mau ikut pindah ke Amerika, saya merasa senang sekali. Saya berharap kamu bisa menjadi sosok kakak yang selalu melindungi putri sulung saya. Saya memandang kamu sebagai lelaki yang baik. Kamu tidak pernah membuat saya kecewa bahkan ketika kamu dulu berada dalam tanggung jawab saya pun kamu merupakan anak yang penurut. Kamu selalu memperlakukan anak-anak saya seperti saudara mu sendiri. Tapi hari ini apa yang saya dengar sangat memukul hati saya sebagai orang tua. Kamu dan Ian, kalian berdua merupakan anak saya. Saya mempercayakan penjagaan putri saya pada kamu dahulu, namun ternyata kamu yang merusak putri saya terlebih dulu..."
__ADS_1
Rio sontak saja berlutut di hadapan Imran. Wajah pria itu menunduk. Tangan nya mengepal erat. "Maafkan saya, Om..."
"Saya ingin sekali memukul kamu, menampar kamu, namun itu semua sudah bertahun-tahun yang lalu. Selama menunggu kedatangan kamu tadi, saya berpikir keras adakah semua yang putri saya lakukan saling berkaitan satu sama lain sehingga Ia nekat merusak kehidupan nya sampai seperti sekarang ini..."
"Semua karena saya.. Ian seperti sekarang karena saya. Maaf.. Saya sangat menyesal. Saya berjanji akan mengembalikan Ian ke tempat nya semula. Saya akan memastikan Ia bahagia, Om".
Imran menatap Rio yang tertunduk seraya berlutut di hadapan nya. "Berdiri kamu..."
Rio mendongakkan kepala nya menatap Imran. Lalu Ia pun berdiri dan berhadapan dengan Imran. "Saya janji akan pastikan Ian bahagia. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri.. Bahkan jika hidup saya dan Ian bisa di tukar, saya rela melakukan nya.."
Imran menatap intens manik mata Rio. Terlihat kejujuran di sana. "Apa kamu masih mencintai anak saya?".
Rio tersenyum tipis. "Saya selalu mencintai dia dulu ataupun sekarang, Om.."
Plak!
Imran memukul kepala Rio dengan sebuah buku tebal. "Kamu memang pandai bersilat lidah! Jika kamu selalu mencintai putri saya, kamu tidak akan bisa bertunangan dengan wanita lain!".
"Itu hanya status, Om.. Saya tidak melakukan apapun dengan yang lain kecuali dengan Ian".
Plak! Plak! Plak!
"Berani kamu bicara seperti itu pada saya! Pergi kamu dari sini! Bawa Ian dengan kamu! Berikan ini padanya!". Imran memukul Rio kembali dengan buku dan melemparkan sebuah kartu debit berwarna hitam ke atas meja.
Rio mengerutkan kening nya. "Ini untuk apa, Om? Lalu apa maksud Om untuk membawa Ian?".
"Suruh dia tinggal sementara di hotel. Saya sangat kecewa dengan nya. Jangan bawa kedua cucu saya. Biarkan Varo dan Kai berada di rumah". Ucap Imran seraya meninggalkan Rio yang kebingungan.
"Oh satu hal lagi. Biarkan Ian kembali bekerja di tempatmu". Imran membalikkan badan sejenak dan melanjutkan langkah nya keluar ruangan.
Di lantai bawah Ian yang sedari tadi mondar mandir tak karuan melihat Rio menuruni tangga. Ian lantas menghampiri Rio dengan raut wajah cemas. Mata nya memindai wajah Rio dengan seksama.
"Lo gak kena pukul Papa kan?".
Rio tersenyum. "Gak.. Wajah gw aman. Kepala gw kena sekali pukul lagi mungkin bisa amnesia". Ujar Rio terkekeh.
"Maksud lo?".
"Kemasin baju-baju lo. Ikut gw sekarang". Ucap Rio tak menjawab kebingungan Ian.
Ian mengerutkan kening seraya menatap Rio. "Kemasin baju? Memang mau kemana?".
"Apartemen gw". Ujar Rio seraya mengulas senyum.
......_______________......
__ADS_1