
Hari yang dinanti oleh seluruh keluarga telah tiba, tapi tidak bagi Zeline dan King.
Pagi itu Zeline dan King sukses membuat Anin, Elgi juga team WO kalang kabut, pasalnya keduanya tidak mau membukakan pintu padahal matahari sudah menampakan cahaya.
Elgi dan Anin terus menggedor-gedor pintu kamar yang sudah 45 menit tak kunjung terbuka.
Mungkin bagi King hanya butuh waktu paling lama 30 menit untuk bersiap tapi bagi Zeline dengan gaun pengantin panjang juga pengaplikasian make up bisa membutuhkan waktu paling cepat 2 jam.
Hampir Elgi dan Anin putus asa, dari arah lift Ken berlari membawa master key pintu kamar kedua calon mempelai tersebut.
"Pakai ini... " Ken memberikan master key pada Elgi dan Anin.
Elgi langsung bergegas membuka pintu kamar King, bau alkohol menyengat masuk kedalam indera penciuman membuatnya refleks menutup hidung.
King sedang terbaring dengan posisi menelungkup disofa besar, berbagai botol alkohol tergeletak di lantai.
Elgi membuka tirai jendela, membiarkan cahaya matahari masuk untuk membangunkan Tuannya.
King mengerjap beberapa kali, ia menggeram saat sinar matahari menusuk matanya, tangan kekarnya menghalau sinar tersebut lalu memaksakan diri untuk membuka mata.
Didepannya sudah berdiri Elgi dengan stelan jas dan terlihat lebih tampan dari biasanya.
"Tuan... Sudah waktunya anda bersiap, beberapa jam lagi anda akan menikah!" Ucap Elgi seraya memberikan obat sakit kepala dan air mineral dan menyimpannya dimeja.
Kemudian Elgi sedikit berlari kearah kamar mandi untuk membuka keran air hangat dan mengisinya kedalam bathub.
"Airnya sudah saya siapkan Tuan, saya akan membawa sarapan pagi anda kesini...," ucap Elgi sekembalinya dari kamar mandi kemudian sedikit membungkuk dan berlari keluar dari kamar Tuannya mengambil sarapan.
Dengan malas King mendudukan tubuh dan bersandar di sofa, tangan kekarnya terangkat memegang sebelah kepala karena pengar ya teramat ia rasakan.
Tadi malam ia begitu frustasi mengingat akan menikah dengan Zeline, bukan karena ia tidak mau tapi ia tak yakin Zeline akan menerimanya dengan baik pernikahan ini. Sedangkan kebutuhan biologisnya selama bersandiwara bertunangan dengan Zeline belum tersalurkan.
Ia trauma dengan jebakan yang pernah dialaminya, tak ingin kejadian itu terjadi lagi padanya sehingga tadi malam ia melampiaskan dengan minuman beralkohol.
King mengambil obat sakit kepala yang disimpan Elgi di meja lalu meminumnya dengan satu kali telan.
Disaat yang sama, Anin menggusur Zeline ke kamar mandi. Kali ini Anin benar-benar memandikannya seperti anak kecil didalam bathub.
"Aku mau minta kenaikan gaji bulan ini, pekerjaan ku double karena harus mengurus pernikaham kamu trus sekarang ditambah harus mandiin kamu!" ucap Anin ketus sambil memakaikan shampo kekepala Zeline.
"Oke... Ambilah sesuka mu dari rekening ku, bahagiakan dirimu belilah tas mahal, liburan atau belilah pria yang kau cintai untuk menjadi suami mu" ucap Zeline meracau.
Anin hanya berdecak kesal.
Kemudian Zeline terdiam dengan tatapan kosong, sebagai seorang pengantin ia tidak terlihat bahagia sama sekali. Berbagai perasaan bergelut dalam hatinya, ia benar-benar benci dengan kondisinya saat ini.
"Nin... Mau gantiin aku menikah dengan playboy cap kampak itu?" Zeline mendongak menatap Anin yang kini sedang membalurkan sabun cair ketubuhnya.
"Mau banget Zeline, aku mau banget andaikan bisa!!" Anin masih menjawab dengan ketus.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Anin langsung menyerahkan Zeline pada team make up. Kamera pun tak henti mengambil gambar dan video, untuk apa lagi kalau bukan untuk kebutuhan media sosial Zeline.
Zeline berusaha profesional dalam pekerjaannya, ya anggap saja didepan kamera yang bisa menghasilkan uang itu merupakan pekerjaan walau itu termasuk dalam kehidupan pribadinya seperti sekarang ini, ia harus bisa tersenyum dengan cantik saat kamera merekam tahap pengaplikasian make upnya.
Karena video dan foto ini akan masukan dalam chanel platform online dan akan menambah pundi-pundi rupiahnya.
"Kau sudah siap?" tanya Ken dari balik pintu.
"Kaka....masuk!" Zeline berteriak senang.
Ken dengan memakai tuxedo lengkap melangkah masuk, pria jangkung dan teramat tampan bak titisan dewa Yunani yang kini memegang salah satu perusahaan terbesar di Inggris itu memeluk adik tersayangnya erat hingga team make up menghentikan aktifitasnya. Mereka sedikit terganggu tapi mulut mereka seolah terbungkam dengan ketampanan pria itu.
"Kakaaaak.... " Zeline menjerit gemas.
Setelah dirasa adiknya sudah mulai sesak nafas barulah Ken melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
Ken terkekeh yang malah membuatnya makin terlihat tampan dengan barisan gigi putih bersih berderet rapi disana.
"Kakak tak menyangka kamu akan secepat ini menikah..., " Kini wajah Ken terlihat sendu.
"Kaka harap kamu bahagia sayang.... " Ken beranjak dari duduk kemudian mencium kening Zeline sekilas dan mendapatkan tatapan kesal dari team tata rias Zeline.
Kali ini team rias yang terdiri dari tiga orang itu benar-benar kesal dibuat Ken karena sudah merusak sedikit hasil make upnya.
Tanpa dosa, pria itu kini melangkahkan kakinya ke kamar King, disana sudah ada Azalea dan Elgi sekertarisnya.
Tok... Tok...
"Boleh aku bicara sebentar, King?" tanya Ken dari pintu.
King mengangguk sedikit lalu Azalea dan Elgi beriringan keluar memberikan waktu untuk King dan calon Kaka iparnya.
King sudah menerka-nerka apa yang akan dikatakan Ken, malah ia membayangkan Ken akan mengancamnya dan berakhir dengan adu jotos.
Ken mendudukan tubuhnya di sofa sedangkan King masih merapihkan dasinya didepan kaca besar.
"Aku tau kalian menikah karena kondisi, karena terpaksaan dan bukan karena cinta...., " ucap Ken memulai pembicaraannya.
"Tapi aku harap, kau bisa mencintai Zeline dengan sepenuh hati... Dia gadis yang keras kepala tapi rapuh didalam, aku harap kau bisa bersabar menghadapinya..." tambahnya lagi.
King memutar tubuhnya kemudian duduk di sofa tepat dihadapan Ken.
"Mungkin aku bisa berusaha mencintainya tapi aku tidak bisa memaksanya untuk mencintai ku!"
King menghela nafas kasar.
"Tidak usah dipaksa, nanti juga ia akan jatuh cinta kepada mu asalkan kau bisa bersabar..., aku kasih tau rahasia, dia itu menyukai perhatian walau dalam bentuk hal kecil" tutur Ken seraya berdiri.
King ikut berdiri, dan Ken langsung memeluknya dengan masculin.
"Aku titip adik ku pada mu... Tolong jaga dia dengan nyawa mu!" bisik Ken dengan penuh penekanan.
Setelah Ken keluar dari kamar itu, Papi Zachery dan Mami Azuri masuk kemudian menutup pintu kamar King rapat. Mami Azuri sudah menyeringai dengan memicingkan matanya.
King sudah pasrah, ia tau pasti Mami dan Papinya akan memberikan wejangan dengan ancaman yang tidak akan mampu King tolak.
Sedangkan dikamar Zeline, kehangatan terasa memenuhi ruangan itu saat Papa dan Mamanya berusaha menenangkan, menyemangati dan kata-kata kasih sayang yang tak henti terucap dari mulut kedua orang tuanya.
Suasana menjadi haru saat Mama Rena menitikan air matanya saat akan melepas Zeline untuk menikah.
"Sayang... Maafin Mama kalau belum bisa memberikan yang terbaik selama ini, Mama masih banyak kekurangan menjadi seorang Ibu. Kamu adalah anugrah terindah yang pernah terjadi dalam hidup Mama..., " tutur Mama Rena penuh haru yang langsung mendapatkan pelukan dari Zeline.
"Ma... Aku hanya akan menikah bukan mati!" celetuk Zeline yang disusul dengan gelak tawa yang memenuhi ruangan.
"Kalau Zeline anugrah terindah, lalu Ken apa?" celetuk Ken dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ck... Kau ini... " Mama Rena berdecak sambil memelototkan matanya kearah Ken.
Ken hanya terkekeh.
"Kapan kau akan menikah, Ken? Umur mu tidak semakin muda...!" tanya Papa Andra yang berhasil membuat senyum Ken hilang seketika dari bibirnya.
"Hari sabtu..." jawab Ken datar.
"Ya eyalah hari sabtu, biasanya nikah itu kalo ga sabtu ya minggu!" seru Zeline dengan memutar bola matanya.
Kemudian semuanya kembali tergelak.
Tok... Tok...
"Apa semuanya sudah siap? Ayo... Sudah waktunya!" ucap salah satu team WO
__ADS_1
Papa Andra menggandeng tangan Mama Rena terlebih dahulu keluar dari kamar tersebut, disusul Ken dan terakhir Zeline diikuti Anin dan Joe dengan mengangkat ekor gaun Zeline.
Zeline berjalan menyusuri lorong yang dihiasi bunga hidup berwarna putih dan peach, ada pula bunga panjang yang menjuntai dari langit-langit.
Ruang ballroom tersebut tidak kalah indahnya dengan dihiasi full bunga hidup hingga wanginya bisa tercium dan memanjakan indera penciuman semua tamu yang berada di dalam ballroom.
Di tengah-tengah ballroom terdapat meja juga kursi yang sudah dihiasi dengan taplak putih dan bunga hidup di belakang sandaran kursi.
Meja bundar dengan dikelilingi kursi yang diperuntukan kerabat dekat tersebar dipenjuru ruangan.
King, pria tampan dengan sejuta pesona itu sudah duduk disana memakai stelan tuxedo yang mencetak tubuh atletisnya. Dihadapannya telah duduk pula seorang petugas dari catatan sipil. Zeline melangkah dengan anggun walau ragu menempati sudut kosong hatinya.
Semua pandangan mengarah padanya, ia pun menatap satu persatu wajah bahagia itu dengan mengulas senyum palsu.
"Semua hadir... Semua terlihat bahagia, tapi...."
Mata Zeline mencari sosok seseorang yang ternyata tidak ada diantara orang-orang yang sedang berbahagia dalam hari bersejarahnya ini.
"Kevlar... Kamu tidak datang?" batin Zeline pilu.
Entah kenapa Zeline menginginkan pria itu ada disini sekarang. Walau King sudah menjelaskan seperti apa Kevlar itu, walau ia sendiri sudah melihat apa yang dilakukan pria itu, entah kenapa nama Kevlar masih bertahta direlung hatinya.
(Kalian pernah ngerasa gitu ga sih?)
Langkah Zeline sudah semakin dekat dimana King sedang menatapnya tanpa berkedip, mata mereka bertemu dan pria itu tersenyum kearahnya.
Zeline kemudian duduk tepat disamping King, kilatan cahaya dari lampu flash kamera mengiringi pengucapan ikrar janji keduanya yang dilanjut dengan penandatanganan surat-surat dan sertifikat yang dikeluarkan oleh catatan sipil setempat.
Setelah selesai, Zeline dan King berfoto dengan memegang serifikat tersebut.
Kini keduanya telah syah menjadi suami istri.
Semua bertepuk tangan bahagia, dan Zeline mati-matian berakting sempurna siang itu.
"Cium... Cium... " tiba-tiba teriakan sepupu Zeline di ikuti keluarga King membuat Zeline keringat dingin.
Gayung bersambut, King langsung menarik pinggang wanita yang sudah syah menjadi istrinya itu agar merapat dengan tubuhnya.
Kedua telapak tangan, Zeline tempelkan didada pria kekar yang sudah menyandang status sebagai suaminya.
"Bisa ga kamu cium kening aku aja?" bisik Zeline dengan memamerkan gigi putihnya.
King hanya membalas dengan menggelengkan kepala dan senyum smirknya.
"Aku belum siap King, please... Cium kening aku aja!" Zeline memelas dengan puppy eyesnya.
"Cium... Cium... Cium... " seluruh keluarga masih berteriak dan menunggu ciuman pertama Zeline dan King setelah syah menjadi suami istri.
"Aku suami mu, Zeline! Aku berhak melakukan apapun dan kau harus menuruti semua perintah ku!" bisi King dengan penekanan diakhir kalimatnya.
"Tolong aku Tuhaaaaan.... " teriak Zeline dalam hati.
Teriakan keluarga semakin kencang, dan Zeline sudah tidak mungkin menolak.
Zeline merayapkan tangannya dari dada King dan kini ia mengalungkannya dileher pria itu.
"Heuh..." King tertegun.
Cup.
Zeline mencium pipi King dalam, dan tak melepaskan bibirnya dari pipi pria itu hingga King bisa merasakan Zeline tersenyum dalam kecupannya.
King memejamkan matanya sekilas sambil mengulum senyum. King akui, gadis itu memang memiliki banyak akal.
Kemudian tangannya mengusap punggung telanjang Zeline.
__ADS_1
"Sekarang kamu bisa mengelak, tapi nanti malam tidak akan ada alasan baby" bisik King ditelinga Zeline dan sengaja menghembuskan sedikit nafasnya menerpa leher jenjang, putih dan mulus itu.