Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Beberapa hari ini Zeline bisa bernafas lega karena tunangannya sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negri. Ia tidak perlu bersandiwara dengan membawa King dalam setiap pesta atau aktifitasnya.


Disela-sela kesibukannya, Zeline beserta Mami Azuri dan Mama Rena mempersiapkan kebutuhan pernikahan Zeline dan King yang akan dilakukan di dua negara berbeda.


Zeline berusaha menerima pernikahan ini tapi tidak dengan menerima King dihatinya, ia sudah memagari hatinya dengan tembok tinggi agar tidak jatuh cinta bahkan berusaha makin membenci pria itu.


Ia mencoba pasrah akan takdir yang menyapanya, menikah dengan pria yang tidak ia cintai dan prasangka yang ia tanam dalam hati dan pikirannya bahwa pria itu akan menyakiti hatinya kelak.


Diam-diam ia terlanjur menyayangi keluarga Alterio.


"Ma... Boleh Zeline ke Bandung menemui Kakek dan Nenek?" tiba-tiba pertanyaan Zeline melenceng dari pembicaraan mengenai persiapan pernikahannya.


Saat itu Mami Azuri, Mama Rena dan Zeline juga Anin sedang makan siang di cafe setelah mencoba gaun pengantin dari perancang terkenal.


"Boleh sayang.... Kapan?" tanya Mama Rena.


"Nanti malem boleh? Zeline mau menghabiskan weekend di Bandung bersama Kakek dan Nenek"


"Boleh sayang... Nanti diantar Joe ya!"


Zeline mengangguk dengan senyum bahagianya.


"Anin boleh ikut, Nyonya?" celetuk Anin.


"Boleh donk, kalau kamu tidak ada acara ikutlah bersama Zeline, Kakek dan Nenek pasti senang" ujar Mama Rena.


"Sebelum menikah, kamu harus mengajak King menemui Kakek dan Nenek di Bandung, sayang!" sambar Mami Azuri.


"Emmm... Iya Mi" Zeline mengiyakan tapi hatinya tak sudi Kakek dan Nenek tersayangnya bertemu dengan King.


Setelah selesai makan siang mereka semua kembali kerumah masing-masing.


Malam harinya, Zeline bersama Anin dengan disupiri Joe langsung meluncur menuju Bandung.


Beberapa hari sebelum kembali ke London, Ken sudah menemui Kakek dan Neneknya itu tapi Zeline tidak bisa ikut serta karena kesibukannya.


Ia hanya bisa melakukan panggilan video call saat Ken bersama kakek dan neneknya di Bandung. Zeline sangat merindukan kakek dan neneknya juga semua keluarga di Bandung.


Bersama mereka, Zeline seperti manusia normal tanpa embel-embel artis di depan namanya.


Di Bandung, Kakek Rony dan Nenek Susi sudah menunggu cucu kesayangannya itu bahkan Kakek Rony hingga tertidur di ruang tamu.


Zeline mengendap memasuki ruang tamu dengan pencahayaan minim, matanya langsung tertuju pada sofa dimana kakek sedang terbaring disana, garis keriput terlukis jelas diwajahnya.


Zeline mengecup kening kakeknya dalam hingga membuat kakek Rony merasakan kehadiran cucu cantiknya itu.


Kakek Rony segera bangun dan mengambil posisi duduk lalu meraih Zeline dalam pelukannya yang sedang berlutut menghadapnya.


"Kakek Rindu, sayang" Kakek Roni mengecup kepala Zeline dalam.


Zeline terkekeh... Kakeknya selalu memperlakukannya seperti anak kecil.


Anin dan Joe masuk membawa koper Zeline hingga membuat gaduh rumah kakek malam itu, Nenek Susi keluar dari kamar dan berhamburan memeluk Zeline.


Dirumah itu kini hanya tinggal Kakek, Nenek dengan satu pembantu rumah tangga dan supir keluarga.


"Nek... Zeline mau bobo dengan Nenek dan Kakek!" rengek Zeline.


"Ayo sayang... " Ketiganya pun masuk kedalam kamar dan merebahkan diri dikasur ukuran sangat besar dikamar Kakek dan Nenek.


Kasur dikamar Kakek dan Nenek memang custom karena setelah Rena dan Lia mempunyai anak, setiap pulang ke Bandung ke enam cucunya yang lahir berdekatan selalu ingin tidur bersama kakek dan neneknya lalu Andra pun akhirnya membuatkan ranjang berukuran sangat besar untuk kenyaman mertuanya saat cucu-cucunya menginap.


Tak membutuhkan waktu lama, Zeline langsung terlelap dalam pelukan Kakek dan Neneknya.


Keesokan hari, mimpi indah Zeline terrenggut oleh suara bising diluar.


Ternyata sepupunya Nafeesa dan sikembar Keanu dan Keenan juga Aqila sedang bersenda gurau bersama Anin dan Joe di ruang keluarga.


"Ladies and gentleman, kita sambut bintang tamu kita... Artis ibu kota yang namanya sedang naik daun dikancah perfilman Indonesia, inilah dia Zeline Zekisha Gunadhya" teriak Keenan dengan suara lantang ala MC kondang kenamaan.


Prok... Prok... Seketika semua orang diruangan itu bertepuk tangan sambil bersiul dan tertawa saat Zeline keluar dari kamar dengan wajah dan rambut acak-acakan khas bangun tidur.


"Apaan siiih.... " Zeline tertawa geli mendapat sambutan konyol seperti itu.


Zeline mendudukan bokongnya ditengah-tengah para sepupu dan disambut dengan pelukan hangat para sepupunya itu.

__ADS_1


Kesibukannya sebagai artis membuatnya langka bisa berkumpul bersama keluarga dari pihak Mama Rena.


"Kamu ga praktek Sha?" tanya Zeline pada Nafeesa anak dari Tante Lia, adik dari Mama Rena yang umurnya sama dengan Ken.


Nafeesa berprofesi sebagai dokter kulit, sedangkan Keanu dan Keenan adik Nafeesa yang umurnya dua tahun diatas Zeline sedang dalam masa Koassnya. Sebagian besar keluarga Mama Rena berprofesi sebagai dokter, termasuk Om Aras adik bungsu dari Mama Rena yang berprofesi sebagai dokter speslis jantung dan pembuluh darah.


"Aku belain cuti mendadak demi kamu tau!" ujar Nafeesa.


"Trus kalian ga jaga?" tanya Zeline pada sikembar.


"Kita libur... " ucap Keenan dan Keanu berbarengan.


Zeline menatap Aqila, anak dari Om Aras.


"Aku libur Ka, sekolah di Bandung sekarang setiap sabtu itu libur" sambarnya tanpa ditanya.


Zeline membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


Kakek dan Nenek mengabarkan Zeline akan ke Bandung pada para sepupu sehingga pagi ini semua berkumpul di rumah Kakek dan Nenek.


"Jalan-jalan Yo?" ajak Zeline


"Ayooooo" teriak para sepupu termasuk Anin dengan semangat.


"Eiiits... Sarapan dulu baru boleh pergi" sela Nenek Susi dari meja makan seraya menyajikan makanan untuk sarapan pagi.


Semua langsung berebut kursi meja makan dengan ricuh.


Kakek Rony tertawa bahagia sambil menggelengkan kepala.


"Apa benar semua pemberitaan di TV itu, sayang?" tanya Nenek Susi tidak sabar ingin mendengar penjelasan langsung dari cucunya.


Zeline menghentikan makannya sejenak, ia sungguh tidak tega membohongi Nenek dan Kakeknya.


Zeline mengangguk dengan mengulas senyum tipis.


"Maafin Zeline ya, Nek!" suara Zeline hampir tidak terdengar.


"Kenapa harus minta maaf sayang? Kami bahagia mendengarnya" Kakek mencoba menghilangkan Perasaan tidak enak yang dirasa cucunya.


"Pasti!!! Siapkan pasport kalian, kosongkan jadwal kalian, sebulan lagi kita berangkat ke Australiaaaa!!!" teriak Zelime bersemangat.


"Yeaaayyy.....!" semua teriak bahagia termasuk Kakek dan Nenek.


"Om Ricko sama Tante Lia, ga kesini, Sha?" tanya Zeline yang juga merindukan Om dan Tante kesayangannya.


"Mereka lagi ke Bali, Ayah ada undangan dari klien bisnisnya... Katanya pulangnya mau ke Jakarta ke rumah Om Andra dulu" saut Nafeesa dengan makanan penuh dimulutnya.


"Kalau Om Aras.... " belum Zeline menyelesaikan kalimatnya, Om kesayangannya itu sudah berteriak dari ruang keluarga.


"Ini Om, sayang.... " Aras langsung menuju ruang makan dimana semua berkumpul.


Om gantengnya itu memeluk Zeline yang sedang duduk dari belakang lalu mencium pucuk kepalanya berkali-kali dan memeluknya lagi.


"Hmm... Bentar lagi keponakan Om udah ga bisa dipeluk-peluk gini, udah ada yang punya" goda Om Aras.


"Iiih... Om, apaan sih!" rengek Zeline tidak terima.


"Hahahaha.... Anak kecil mau nikah, gimana ceritanya?" Aras mengacak-ngacak rambut Zeline.


"Justru harus segera dinikahin biar cepet gede ya sayang?" Nenek menimpali.


"Om... Praktek dulu ya sayang, kamu sampe besok kan disini?" Aras mengambil mendoan yang tersaji dimeja makan lalu memakannya sambil berdiri disamping Kakek.


Zeline menganggukan kepalanya dengan tersenyum.


"Oke nanti malam Om sama Tante Marsha kesini lagi, Aras pamit, Pak... Bu" Aras mencium tangan kedua orang tuanya lalu bergantian mencium kepala anak dan keponakannya.


Setelah sarapan pagi Zeline bersama para sepupu dan juga Anin dengam disupiri Joe pergi ke berbagai tempat wisata di Bandung, kemacetan yang di lalui sepanjang perjalanan tidak membuat mereka bosan karena justru di gunakan sebaik-baiknya untuk bertukar cerita.


Para sepupu Zeline tidak sedikitpun menyinggung mengenai pemberitaan miring mengenai Zeline beberapa waktu lalu, mereka memilih untuk menunggu hingga Zeline yang menceritakannya terlebih dahulu. Dan perjalanan mereka hari ini di iringi canda tawa dan perbincangan lain yang membuat Zeline dan para sepupunya bahagia.


Ratusan foto mereka ambil dalam liburan singkatnya di tempat wisata di daerah sejuk itu, Zeline terlihat sangat bahagia dengan wajah berseri seperti segala beban itu ia tanggalkan sejenak.


Hari menjelang sore, matahari sudah berwarna jingga di ufuk barat, mereka semua bergegas pulang karena tak ingin melewatkan makan bersama kakek dan nenek.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Kakek, Zeline terkejut melihat King di ruang keluarga di apit oleh Kakek dan Nenek dengan album foto dipangkuannya. Disana pun ada Om Aras dan Tante Marsha, mereka semua tertawa bahagaia entah apa yang sedang mereka perbincangkan.


"Zeline... Kalian sudah pulang?" sapa Tante Marsha


Cukup lama pandangan Zeline dan King bertemu, hingga akhirnya Zeline memutuskan tatapan itu dan memeluk Tante Marsha.


Entah kenapa mendapat tatapan seperti itu dari King, jantung Zeline berdebar kencang.


"Kalian mandilah dulu, setelah itu kita akan makan malam bersama" perintah Kakek Rony yang langsung diiyakan oleh cucu-cucunya.


Dengan terpaksa Zeline menghampiri King, tak ingin seluruh keluarganya curiga bila Zeline bersikap dingin pada calon suaminya itu.


Senyum terpaksa Zelina lukis dibibir kecilnya, ia membungkukan sedikit tubuhnya lalu mencium pipi King sekilas.


"Kapan datang? Aku mandi dulu ya?" ucap Zeline tanpa melihat wajah King lalu segera berlari menaiki anak tangga tepat dibelakang King.


Sedangkan si pemilik pipi masih membeku, berusaha keras menyadarkan dirinya sendiri dengan ekspresi wajah tenang, didalam hati King berkecamuk berbagai perasaan. Dan ia pun masih belum mengerti akan perasaannya.


Rasanya King ingin bertepuk tangan karena kagum dengan acting dari calon istrinya itu.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Zeline menuju ruang makan untuk bergabung dengan seluruh keluarga besarnya.


Riuh rendah suara canda tawa menggema di ruang makan itu, mereka semua terlihat bahagia tapi Zeline dan King malah merasa canggung karena para sepupu Zeline selalu menggoda mereka berdua.


Kesempatan ini tidak Kakek Rony buang begitu saja untuk menitipkan Zeline pada King.


"Kakek sangat menyayangi semua cucu-cucu Kakek, termasuk Zeline dan kakek harap, King bisa menyayangi Zeline lebih dari kita menyayangi Zeline" pesan Kakek.


King balas dengan menganggukan kepala dan tersenyum karena ia tidak bisa menjanjikan apa-apa pada Kakek


Zeline menatap King dengan tatapan tak terbaca, mata sayu itu membuat hati King bergetar hebat.


Setelah menyelesaikan makan malam, King pamit pada seluruh keluarga untuk menginap di villa orang tuanya.


"King pulang dulu ya... Besok King jemput Zeline untuk pulang ke Jakarta bersama" pamit King pada seluruh keluarga Zeline.


"Aku pulang sama Anin dan Joe, aja... " tolak Zeline secara halus.


"Aku udah suruh Anin dan Joe pulang duluan waktu kamu mandi tadi" ujar King tanpa dosa.


"Hah? Ooh.. "


Zeline yang terkejut berusaha menahan ekspresinya setenang mungkin.


"Deuuuh... Yang pengen berduan teruuus" gurau Keenan.


Zeline mengulas senyum tipis dan tak ada rona diwajahnya.


"Baiklah... Sepertinya aku harus benar-benar pergi karena sudah malam" pamit King sekali lagi.


semua keluarga mengantar King hingga teras depan rumah.


King membalikan tubuhnya dan mendapati Zeline sudah berdiri tepat didepannya.


Jari ramping King menarik pinggang Zeline agar lebih rapat ke tubuh tegapnya lalu mencium kening Zeline sekilas.


" Besok siang aku jemput" ucapnya tepat didepan wajah Zeline, hingga gadis itu bisa merasakan harum dan hangat nafas King diwajahnya.


Zeline masih melongo dengan mata membulat sempurna dan mulut yang terbuka sedikit karena masih syok akan perbuatan King yang tiba-tiba didepan seluruh keluarganya.


King tersenyum miring sebelum melepas tangannya dari pinggang Zeline, dan berlalu masuk kedalam mobil sport miliknya.


"Emang kamu aja yang bisa akting?" desis King dengan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


"Sialan!!" geram Zeline dalam hati.


"Cie... Cie.... " seloroh para sepupu menggoda Zeline.


"Sepertinya Tuan Muda King, cinta banget ya sama Zeline" celetuk Tante Marsha.


"Jelas dooonk, cucu neneeeek" saut Nenek bangga.


"Cucu Kakek juga, dooonk" sela Kakek


"Siapa dulu Om nya?" Om Aras menggesekan jempolnya ke hidung.

__ADS_1


Menghela nafas, Zeline tersenyum merasakan perlakuan dan kehangatan kekuarga ini. Ini merasa sangat dicintai, cinta yang tulus yang tidak akan mengecewakan, mengkhianati apalagi meninggalkannya.


__ADS_2