
Sesampainya di rumah kedua orang tua nya, Ian lantas masuk seraya menggendong Kai di ikuti oleh Varo dan Rivan yang mengekori nya dari belakang. Ian menghampiri Dewi yang tengah sibuk membuat kue di dapur.
"Mama..." Sapa Ian seraya mengecup pipi kanan Dewi.
"Wah cucu-cucu nenek datang.. Pas banget nih nenek lagi buat kue, pada mau kan?". Tanya Dewi pada Varo dan Kai.
"Mau dong, Nek. Kue buatan nenek paling enak sedunia!". Ucap Varo seraya mengacungkan kedua jempol nya.
Kai hanya mengangguk antusias. Bocah berusia 2 tahun itu sangat berbeda dengan kakaknya. Ia adalah anak yang pendiam tidak terlalu banyak bicara.
"Kamu di jemput Rivan? Suami kamu mana?". Tanya Dewi saat melihat Rivan yang sedang melihat ikan di akuarium.
"Iya, Ma. Aku minta dia jemput aku ke Bekasi. Ilham lagi kerja" .
Dewi menghentikan kegiatan mengaduk adonan kue nya dan menatap Ian dengan mengerutkan kening. "Kerja? Dia baru saja pulang ke Jakarta kok sudah pergi kerja lagi?".
Ian mengedikkan bahu nya seraya tersenyum tipis. "Dia yang mau, Ma". Ucap Ian.
Dewi menatap seksama putri sulung nya. Ian yang merasa di tatap dengan penuh intimidasi segera meraih gelas di lemari.
"Ma, anak-anak aku titip dulu di sini ya? Aku ada keperluan dulu di rumah Rivan. Kalau mereka ikut takut nya ngeberantakin rumah bujangan itu". Ucap Ian terkekeh.
Dewi mengangguk. "Ya udah sana. Kamu pulang atau nginap? Papa baru nanti malam pulang. Masa kamu gak ketemu sama papamu".
"Papa memangnya kemana?".
"Ke Bogor. Ada reuni dengan teman sekolah nya". Dewi menjelaskan pada Ian.
Ian mengangguk dan melangkah menghampiri Rivan. "Yuk". Ucap Ian singkat.
"Tante.. Aku pulang dulu ya. Kue nya nanti sisain buat aku hehehehe". Ucap Rivan berpamitan pada Dewi.
"Kamu yang paling sering makanin kue-kue tante tau gak!". Ucap Dewi yang membuat Rivan terkekeh geli.
Rumah Rivan
__ADS_1
"Rumah lo gak banyak berbeda ya dari kita kecil dulu. Semua masih sama". Ujar Ian seraya melempar pandangan nya ke seluruh penjuru rumah mewah yang bertingkat dua itu.
Rivan menghempaskan diri nya duduk di sofa. "Yah beginilah. Rumah lo juga masih sama. Penuh kenangan masa kecil kan? Gw malah punya memori masa kecil lebih banyak di rumah lo di banding rumah gw sendiri". Ucap Rivan seraya memandang ke plafon rumah yang tinggi.
"Ya kan memang lo sering di titip ke nyokap bokap gw saat mereka kerja".
"Dan sampai tua pun mereka masih sibuk ngurus perusahaan nya masing-masing. Makanya gw seneng banget sih kalau ke rumah lo. Suasana rumah lo selalu hangat..." Sahut Rivan beralih menatap Ian.
"Rasanya gw pengen kembali ke masa lalu, Riv. Masa di mana kita taunya cuma main, main, dan main. Masa di mana kita senang-senang aja makan sampai belepotan, ketiduran di tengah-tengah mainan yang berserakan...." Ucap Ian seraya menatap ke sembarang arah.
"Jadi Dewasa ternyata sangat menyakitkan..." Ian beralih menatap Rivan dengan menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.
Rivan membetulkan posisi duduknya dan menghadap tegap ke arah Ian. "Ada masalah apa sebenarnya, Yan?".
Ian menghela napas dan menundukkan wajah nya. "Gw bingung untuk ceritain mulai dari mana, Riv. Gw juga bingung sebenarnya dari mana salah nya. Gw merasa semua baik-baik aja di awal.. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini..."
Rivan menepuk pundak Ian. "Lo masih ingat gak dulu gw selalu ngelindungin lo kalau lo di ganggu sama cowok-cowok nakal? Gw selalu hajar anak-anak yang jailin lo dan lo ngadu ke gw sambil nangis-nangis?".
Ian mengangguk seraya tersenyum. "Iya dulu lo selalu jadi sosok kakak lelaki untuk gw hehehe".
"Egois gak sih kalau gw mau perjuangin kebahagiaan gw, Riv?". Sahut Ian seraya menoleh pada Rivan sekilas dan beralih menatap ke sembarang arah.
"Gw bingung harus ambil langkah apa, harus selesaikan dengan cara bagaimana, harus bertahan atau melepaskan..."
Rivan menghela napas pelan. "Lo ada masalah sama laki lo?". Tanya Rivan hati-hati.
Ian mengangguk.
"Kalau gw boleh tau masalah apa?".
Hening. Ian tak menjawab apapun.
"Ian, lihat gw". Ucap Rivan.
Ian menoleh pada Rivan. "Apa gw pernah kecewain lo?". Tanya Rivan saat Ian menatap ke arah nya.
__ADS_1
Ian menggelengkan kepala nya.
"Jadi lo bisa percaya dengan gw. Keluarin segala masalah yang ada, yang selama ini lo pendam". Ucap Rivan.
"Tapi gw bingung harus mulai cerita dari mana.. Karena gw sendiri bingung letak kesalahan gw di mana.. Ini pun masalah rumah tangga gw yang seharusnya gw gak umbar ke manapun kan?".
"Gw memang belum ngerasain yang namanya berumah tangga, Yan. Tapi bukankah lebih baik lo cari orang terdekat yang bisa bantu kasih solusi ketika masalah rumah tangga udah terasa rumit dan gak ada jalan keluar? Kalau lo gak mau cerita ke gw, lo bisa cerita ke nyokap bokap lo dan mereka bisa memberi solusi buat lo. Bukan lo pendam sendirian". Jelas Rivan.
"Laki gue selingkuh". Ucap Ian singkat tanpa menoleh pada Rivan.
Raut wajah Rivan sangat terkejut mendengar penuturan Ian.
"Gw kecewa aja dengan perilaku nya". Bibir Ian menyunggingkan senyuman tipis. "Gw udah mati-matian bela dia depan kedua orang tua gw..."
"Apa udah pasti dia selingkuh?". Tanya Rivan hati-hati.
Ian mengangguk. "Gw tau hal ini udah dari 2 tahun yang lalu".
"Kenapa cowok-cowok yang ada di samping gw selalu nyakitin hati gw ya? Apa salah gw? Gw selalu menjaga hubungan yang gw jalin dengan maksimal. Gw gak pernah sekalipun kepikiran untuk selingkuh sekalipun gw hanya setengah hati menjalani hubungan itu".
Rivan diam terpaku berusaha mencerna ucapan Ian. Ia berpikir keras.
Cowok-cowok? Selama ini hanya ada 2 orang cowok yang menjalin hubungan dengan Ian.. Hanya Rio dan Ilham... Apa itu artinya.... Rio juga?
Otaknya berpikir keras. Banyak pertanyaan bergema dalam pikiran nya saat ini. Rivan menatap Ian dengan intens.
Sebenarnya apa aja yang lo udah tutupi selama ini, Yan?
"Gw tau yang lagi lo pikirin, Riv". Ian menoleh pada Rivan seraya tersenyum tipis dan Rivan menatap manik mata Ian dengan penuh tanda tanya.
......___________......
Baru enakan badankuuu 🤧💪
Kecup hangat dariku!😘
__ADS_1