Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 93


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Ian hanya diam tak banyak bicara. Rio pun juga begitu. Keduanya saling diam seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Selama satu jam perjalanan mereka, akhirnya Ian bisa menebak Rio akan membawa nya kemana. Ian menengok kanan kiri memindai sekitar.


"Kita mau ke pantai ya?". Tanya Ian menoleh pada Rio yang sedang menyetir.


Rio tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. "Lo suka pantai..."


"Tapi bukan pantai Jakarta juga.."


"Next time ya gw pasti ajakin lo ke luar Jakarta. Paling dekat dari sini Pantai Anyer, Pelabuhan Ratu. Terus mana lagi ya?". Tanya Rio pada Ian.


Ian mengedikkan bahu nya tak menjawab. Ia memangku dagunya dengan tangan seraya menoleh ke arah kiri jendela memandangi sekitar.


Tak berapa lama kemudian Rio memarkirkan mobilnya di dekat area tempat makan. Ian mengedarkan pandangan nya ke luar.


"Yo, lo punya kaca mata hitam gak?". Tanya Ian. "Muka gw lagi gak banget.. Lo malah bawa gw ke public area begini.. udah paling bener di rumah aja".


Rio mencondongkan tubuh nya ke arah Ian dan membuka laci dashboard dan mengambil satu kotak kecil berwarna hitam. Ia membuka nya dan terlihat sebuah kaca mata hitam yang Ian cari.


"Nih pakai..". Ucap Rio seraya memberikan sebuah kaca mata hitam pada Ian.


"Lo tetap cantik walau habis nangis..." Lanjut Rio lagi.


Ian mencebikkan bibir nya tak percaya dengan ucapan Rio. Tak lama keduanya pun segera turun dan menyusuri area tempat makan tersebut.


"Mau makan dulu gak?". Tanya Rio.


Ian menatap sebuah restoran cepat saji yang berada tak jauh dari tempat nya berada. Jari telunjuk nya terarah ke arah restoran tersebut. "Makan di situ aja yuk". Rio dengan cepat mengikuti ke mana arah Ian menunjuk.


Keduanya pun berjalan mengarah ke restoran tersebut. Ian menundukkan kepalanya tak ingin telihat oleh orang lain. Rambut nya Ia gerai ke depan menutupi kedua sisi wajah nya. Entah mengapa Ia merasa insecure dengan diri nya sendiri.


"Yan... Lo itu pakai masker dan kaca mata saat ini. Gimana bisa orang lain melihat jelas wajah lo? Angkat kepala lo!". Ucap Rio yang sadar dengan perilaku Ian.

__ADS_1


Ian mengangkat wajah nya dan menatap Rio dari balik kaca mata hitam yang di pakainya. Rio lantas menggenggam tangan Ian dan menarik Ian untuk berjalan di sisinya.


"Makan yang banyak.." Ucap Rio saat mereka berdua tengah menyantap makanan.


"Badan lo kurus banget.. Biasanya wanita yang udah hamil dan melahirkan pasti badan nya jadi berisi atau setidak nya berubah. Tapi lo malah semakin kurus.." Lanjut nya lagi.


"Tekanan batin ya begini jadinya". Sahut Ian seraya tertawa hambar.


Rio menatap Ian dengan seksama. Manik mata pria itu sangat lekat mengamati wanita di hadapan nya itu. Lo gak akan bisa berkilah apapun lagi hari ini dari gw, Ian. Rio bergumam dalam hati.


Selesai makan keduanya pun berjalan-jalan di sisi pantai. Angin pantai yang membuat rambut Ian terasa lengket membuat nya harus mengikat rambut panjang nya. Rio mengamati setiap pergerakan Ian.


"Kita duduk dulu di sana yuk!". Ucap Ian menunjuk area teduh di bawah beberapa pohon kelapa dengan pemandangan yang langsung terhampar luas ke area pantai.


Ian berlari kecil dan Rio mengikutinya. Keduanya pun duduk dan beberapa saat hanya diam menatap ke pantai. Angin sepoi-sepoi menerpa mereka tak berhenti.


"Lo benar.. Gw memang butuh pemandangan seperti ini..." Ucap Ian memecah keheningan di antara mereka seraya memandang ke sekitar.


"Walau bokap ngasih mobil gw lagi sejak Kai lahir, tapi gw gak pernah kemana-mana..."


Rio hanya diam membisu mendengarkan ucapan Ian. Pria itu sengaja tak berkata apapun. Ia ingin Ian menumpahkan segala keluh kesahnya.


"Gw merasa jadi orang yang berbeda dalam kurun waktu 9 tahun ini..." Ucap Ian. "Lo ngerasa gak?". Ian menoleh pada Rio.


Ya.. Lo memang berubah menjadi lebih tertutup... Batin Rio.


"Gw merasa gak berharga, merasa gak layak untuk dapat kasih sayang yang tulus, gw merasa gak cantik dan menarik lagi".


Lo tetap berharga Ian.. Lo layak dapat cinta dan kasih sayang sebanyak-banyaknya, Lo tetap cantik dan bahkan aura keibuan yang lo punya membuat lo berkali-kali lipat lebih cantik..


Rio tetap berucap dalam hati. Ia membiarkan Ian menumpahkan segala keluh kesahnya. Ia tidak ingin menginterupsi apapun.


"Lo tau, Yo? Gw benar-benar punya banyak pengalaman baru selama 9 tahun ini. Gw belajar ngurus rumah tangga. Gw urus anak-anak. Gw pernah ngerasain yang namanya kebingungan gak ada uang. Bahkan gw juga pernah ngerasain ketika lagi masak tiba-tiba gas habis. Nguras air ketika hujan deras karena rumah kebanjiran hampir setiap hari dan itu gw lakukan seorang diri. Semua pengalaman itu gw dapatkan ketika gw pindah ke rumah suami gw". Ian tertawa hambar.

__ADS_1


"Tapi.. semua yang gw lakukan di sana seakan gak terlihat depan mata suami gw... Dia tau.. Tau banget apa yang gw lalui.. Tapi dia bersikap acuh.. Terkadang gw hanya perlu sandaran.. Gw butuh teman ngobrol.. Tapi dia gak pernah ada... Lo benar, Yo... Gw memang menjalani pernikahan yang gak bernyawa". Lanjut Ian seraya mengusap air mata di pipi nya.


Ian terisak pilu. Ia menangis sejadi-jadinya. Tangan nya mengepal kuat sehingga kuku jarinya menusuk tajam ke dalam telapak tangan nya. Rio dengan cepat menggenggam tangan Ian dan menarik nya lebih dekat.


"Gw terkadang berpikir apa kah lo benar-benar mencintai suami lo..." Ucap Rio menatap ke arah pantai yang terhampar luas di hadapan mereka.


"Tapi gw tau pikiran gw itu konyol hehehee.. Kalian gak mungkin punya Varo dan Kai kalau gak saling mencintai.." Lanjut Rio seraya beralih menatap Ian.


Ian tersenyum hambar dan menggelengkan kepala nya. "Yang terjadi sebenarnya gak seperti apa yang lo bayangkan, Yo.."


Rio mengerutkan kening nya menatap Ian. Ia tak paham sama sekali. Ian terlihat menghela napas.


"Gw dan Ilham gak membangun hubungan yang penuh kehangatan selayaknya suami istri. Gw hanya terasa berpikir selama ini dia hanya 'memakai' gw saat dia mau walau beruntung itu sangat jarang di lakukan.."


"Gw merasa dia menganggap gw hanya sebagai wanita yang bisa dia pakai dan setelah itu gw di acuhkan.." Ian tersenyum tipis seraya menatap manik mata Rio.


"Gw merasa perlakuan dia pantas untuk gw dapatkan... Gw bukan wanita suci lagi setelah menikah dengan dia.. Lo yang paling tau soal itu kan?". Ian menundukkan kepalanya.


"Gw memang gak layak untuk di perlakukan dengan baik. Karena gw bukan wanita baik-baik kan..." Ian beralih menadahkan wajahnya ke atas menatap pohon kelapa. Ia berusaha menahan tumpahnya air mata terlalu deras. Ia bosan menangis. Ia muak menangisi nasib nya. Namun apa daya, sekali Ia menangis itu sangat sulit untuk di hentikan.


Rio dengan cepat memeluk Ian dengan erat. Pria itu diam seribu bahasa. Ia hanya ingin membawa Ian pergi dan memberi kehidupan baru yang lebih baik untuknya. Namun semua tak semudah itu. Ia tahu Ian perlu menghadapi segala masalah ada saat ini.


"Gw gak percaya dengan lelaki lagi, Yo.. Hati gw sakit banget rasanya.. 2 kali gw berhubungan, 2 kali juga gw mendapat kekecewaan.. Padahal gw salah apa? Gw selalu maksimal menjaga kepercayaan pasangan gw, gw gak pernah bermain gila, tapi.... apa yang gw dapatkan? Bahkan yang terakhir ini pun gw membuang semua harga diri dan kehidupan yg nyaman demi mengabdi untuk seorang lelaki yang di sebut suami.." Ucap Ian sembari menatap ke sembarang arah.


"Dulu.... Waktu kita masih berhubungan dan gw mergokin lo berciuman panas dengan Karin.. Lo terlihat menikmati apa yang lo lakuin dengan dia buat hati gw sakit.. Gw bertanya-tanya apakah gw memang gak menarik lagi? Apakah gw layak untuk di buang? Dan sekarang saat gw tau suami gw berselingkuh dengan wanita yang lebih cantik dan muda daripada gw.. Semua pikiran itu muncul kembali dan sangat meyakinkan gw kalau gw memang gak berharga dan gak layak di cintai..." Ian tersenyum tipis.


Rio menoleh dengan cepat. Raut wajahnya terlihat sangat terkejut. "Apa?! Ilham selingkuh?!". Tangan nya mengepal dengan kuat.


......____________......


Cepet kan?๐Ÿ˜…


Kecup hangat dariku!๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2