
Papi Zach tidak berhenti mondar-mandir didepan pintu ruang operasi menunggu sang cucu lahir kedunia.
Penantian panjang ini seperti ketika ia menantikan King dan Azalea lahir kedunia.
Tidak menyangka bahwa ia akan merasakan harap-harap cemas seperti ini lagi.
"Pi... " Mami Azuri mengusap punggung kokoh Papi Zach dan seketika pria itu berbalik dan merengkuh tubuh mungil istrinya.
"Papi takut.... " ucapnya di ceruk leher sang istri sama sekali tidak menutupi kekhawatiran.
"Tenaaang, mereka pasti akan baik-baik saja... " Mami Azuri berujar sambil mengelus punggung sang suami penuh sayang.
Sama hal nya dengan King, pria itu sudah memucat semenjak melihat ekspresi Adrian yang begitu panik dan Azalea yang meringis kesakitan.
Seolah mengerti apa yang ada dipikiran sang suami, Zeline berusaha menenangkan.
"Pinggul aku besar, jadi sudah dipastikan bila Tuhan mengijinkan... Persalinan aku akan normal dan lancar" bisik Zeline sambil mengusap tangan King yang sedang menggenggam tangannya.
Pria itu menoleh kemudian merangkul pundak Zeline dan memberikan kecupan di kening sang istri tercinta.
"Kalau sakit bilang aku ya... " komentar King yang langsung membuat kening Zeline mengernyit.
"Kenapa?" tanya Zeline bingung.
"Nanti aku yang menggantikan mu melahirkan... " balasnya sambil terkekeh lalu pria itu mendapatkan pukulan pelan dari sang istri yang juga ikut terkekeh.
Beberapa jam mereka disana hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka dan kekuarlah sosok pria sambil menggendong bayi mungil.
"It's a boy!" teriak Adrian sambil mengangkat sedikit bayi mungil berjenis kelamin lelaki yang ada dipelukannya.
Semua menghampiri dengan sinar kebahagiaan diwajah menyambut anggota keluarga baru Alterio.
"Bagaimana Azalea?" tanya Papi Zach masih belum bisa tenang karena belum mengetahui keadaan anak bungsu kesayangannya.
"Azalea baik, tinggal pemulihan... " jawab Adrian cepat, karena ia tahu Tuan Zachery yang berada didepannya ini masih mengkhawatirkan keadaan putrinya.
Setelah cukup puas menyapa sang bayi kecil yang digadang-gadang akan menjadi pria tampan dengan kekayaan melimpah, Adrian membawa bayi yang belum diberi nama itu ke ruang khusus bayi.
Kenapa dikatakan si bayi akan memiliki kekayaan melimpah atau disebutnya sekarang sebagai anak sultan? Karena ia adalah cucu dari Raja disuatu negara di Eropa dan cicit dari Mathew Alterio dan juga cucu dari Zachery Alterio bayangkan saja bayi itu akan mewarisi harta-harta dari pria-pria kaya tersebut.
Selain mewarisi harta, bayi itu juga akan mewarisi ketampanan dari Kakek-kakeknya.
"King... Bawa Zaline pulang dulu, ini sudah hampir pagi.... Kasian dia, biar Mami sama Papi yang nemenin Azalea disini!" Mami Azuri berujar setelah keluar dari ruang pasca operasi melihat kondisi Azalea.
"Mami aja pulang sama Zeline, biar King yang nemenin Papi nungguin Azalea... Mami juga harus tidur kan?" cetus King karena sayang kepadang sang Mami.
"Mami ga apa-apa, kalian pulang dulu gih... " Mami Azuri sedikit memaksa sambil membantu Zeline berdiri.
__ADS_1
"Bener Mami ga apa-apa?" King kembali bertanya meyakinkan.
"Iyaaa.... Ayo pulang sana... " Mami Azuri setengah mengusir karena kasihan dengan kondisi sang menantu.
Atas paksaan Mami Azuri akhirnya King dan Zeline pulang ke mansion Grandpa.
King sampirkan jasnya di pundak sang istri untuk memberikan rasa hangat kepada Ibu dari calon anaknya.
Digenggamnya tangan wanita itu melewati lorong rumah sakit menuju parkiran.
"Tidurlah... Nanti aku bangunkan setelah sampai... " bisik King yang sedang merangkul Zeline ketika mobil yang dikemudikan driver melesat keluar dari pelataran parkir rumah sakit.
Zeline melesakan kepalanya dipundak suami yang menurutnya adalah tempat ternyaman dimuka bumi ini.
Namun King berbohong, ia tidak pernah membangunkan Zeline.
Setelah mobilnya sampai di halaman depan mansion Grandpa, King langsung menggendong sang istri hingga kamarnya.
Direbahkan perlahan Zeline diatas tempat tidur, sang istri begitu pulas tertidur layaknya bayi yang baru saja diberi ASI.
Setelah membuka gaun yang Zeline kenakan agar istrinya nyaman kemudian King menyelimuti tubuh Sang istri.
Sambil membuka kancing kemeja, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh kemudian bergabung dengan Zeline di tempat tidur saling berpelukan menciptakan kehangatan.
Sebelum pergi mengunjungi Azalea di rumah sakit, King dan Zeline menyempatkan sarapan terlebih dahulu di mansion Grandpa.
"Semoga nanti Zeline juga lancar ketika persalinan ya, dan bayinya sehat... " tambah pria tua itu lagi.
"Iya Grand pa... Terimakasih... " balas Zeline disertai senyum.
"Istrihatlah dulu di sini, biar Grandma sama Grandpa yang bergantian berjaga dengan Mami dan Papi kamu, King... Kasian istri kamu!" cetus Grandma memberi saran.
"Zeline ga apa-apa ko Grandma... " tukas Zeline yang ingin sekali melihat bayi Azalea.
"Betul kata Grandma, masih bisa nanti sore atau besok kita kesana... Kamu iatirahat aja dulu seharian ini.... " King menambahi.
Akhirnya Zeline menurut, setelah sarapan pagi Grandma dan Grandpa pergi ke rumah sakit.
"King... Aku mau berjemur... " Zeline yang baru saja memasuki ruang kerja Granpa berucap.
King memang meminta cuti untuk menemani Zeline tapi bukan berarti dirinya bisa terbebas dari pekerjaan kantor, tetap saja King harus mengamati jalannya perusahaan dari laporan harian yang diberikan Elgi dan para Direktur dibawah kepemimpinannya.
King sedikit mendongak dari layar laptop, "Ayo... " balasnya disertai senyum manis.
Kini keduanya berjalan bersisian di taman besar yang berada dihalaman mansion Grandpa.
Terlihat beberapa tukang kebun sedang melakukan tugasnya merapikan dan merawat taman besar dengan berbagai bunga disana.
__ADS_1
Sinar matahari yang menerpa kulit putih istrinya terlihat seperti berkilauan menambah aura kecantikan yang terpancar.
Belum lagi beberapa bagian tubuh Zeline yang sudah sedikit membesar dibeberapa sisi membuat King membawanya ke atas ranjang sekarang juga.
"Kenapa?" pertanyaan ringan keluar dari bibir mungil Zeline yang kini sudah mendudukan tubuhnya di bangku taman.
Namun pertanyaan itu mampu membuat seorang King salah tingkah.
Bagaimana tidak, tertangkap basah sedang menikmati kecantikan istrinya sedangkan biasanya dirinyalah yang ditatap seperti itu oleh banyak wanita.
Seorang Zeline memang telah membuat dunia King jungkir balik.
"Beruntungnya aku... " jawabnya santai sambil ikut mendudukan tubuh disamping sang istri.
"Beruntung kenapa?" Zeline kembali bertanya sambil meluruskan kakinya.
"Memiliki kamu... " jawab King cepat dan satu elusan di rahang ia dapatkan dari sang istri.
Berikutnya Zeline mencondongkan tubuh untuk bisa mengecup rahang kokoh yang sudah ditumbuhi bulu halus itu.
"Selama disini jangan cukuran ya... Aku suka" Zeline berucap kemudian memberikan kecupan untuk yang kedua kalinya di rahang King dan sang suami langsung merangkul pundaknya erat.
Tidak mau kalah King pun menghadiahkan kecuoan beruntun di kening sang istri.
"Kiiiinggg.... " tiba-tiba sang istri merengek.
"Kenapa?" tanya King sambil melepaskan rangkulannya.
"Ada yang sakit? Mana? Sebelah Mana?"
Zeline diberondong pertanyaan oleh sang suami.
"Aku mau Martabak telor.... " ucapnya sambil terseyum gemas hingga mengerutkan pangkal hidungnya.
"Hah?" King melongo takjub.
Dimana dirinya harus mencari martabak di negara dengan kebudayaan dan cita rasa berbeda dengan negaranya.
"Aku buatin aja ya buat kamu... " cetus King setelah mendapat ide cemerlang.
Ia akan meminta bantuan koki sang Grandpa setelah bertanya pada aplikasi pintar di ponsel resep dan cara membuat martabak.
Seketika Zeline mengangguk antusias dengan mata berbinar.
Entahlah Zeline bahagia karena King bisa mengabulkan keinginannya atau bahagia karena telah berhasil mengerjai suaminya itu.
Karena bagaimana King bisa membuat martabak telur, letak dapur di rumahnya saja dia lupa.
__ADS_1