Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 104


__ADS_3

Soekarno Hatta International Airport


Hari ini adalah hari keberangkatan Rio pergi untuk mengunjungi kedua orang tua nya yang berada di Los Angeles, United States of America. Pria itu di antar oleh Ian menuju Airport.


Rio terlebih dulu check in dan mengatur bagasi sedangkan Ian memilih untuk duduk di kursi yang tersebar di sepanjang terminal 3 Airport tersebut. Ia mengamati suasana sekitar yang ternyata masih terbilang ramai dalam keadaan pandemi.


Ian mendongakkan kepala tatkala melihat sepasang kaki berhenti tepat di depan nya. Ia melihat Rio yang tengah menatapnya tanpa berkata apapun. Ekspresi pria itu tak bisa terlihat dengan jelas karena tertutup oleh masker yang di pakainya. Rio lalu duduk di kursi yang berjarak dengan kursi tempat Ian berada.


"Baik-baik ya selama gw pergi..." Ujar Rio seraya menoleh pada Ian.


"Gw selalu baik-baik aja dulu ataupun sekarang". Ucap Ian.


"Kalau lo mau tidur di apartemen gw, lo tau kan tempat itu juga milik lo.. Jadi lo bebas memakainya sesuka hati".


"Bawa cowok boleh dong?". Ucap Ian seraya melirik pada Rio.


"Ian...." Ujar Rio kesal.


"Hahahaa santai aja, yoyo! Gw masih berstatus istri orang sekarang. Kalau mau main gila, nanti aja pas gw udah sendiri".


"Kalau lo udah sendiri langsung gw rantai tangan lo terus dengan gw. hahahhaa" Rio tertawa geli membayangkan jika itu benar terjadi.


"Lo kapan pulang nya dari sana?".


"Gw berangkat aja belum, sampai di sana aja belum. Lo malah udah tanyain kapan gw pulang.. ketakutan lo gak akan pernah terjadi..."


ian mengerutkan kening menatap Rio. "Ketakutan apa?".


"Gw di jodohin sama orang tua gw di sana...hehehee".


Ian memalingkan wajah nya menatap ke depan. "Tapi memang udah waktunya sih lo punya pasangan yang serius. Udah 35 lho tahun ini usia lo.."


Rio mengedikkan bahu. "Bagus juga sih memang kalau gw di jodohin. Nanti ketika pulang ke jakarta, gw bisa sekalian ajak calon gw untuk ketemu lo".


"Ngapain lo ajak ketemu gw?".

__ADS_1


"Supaya gw bisa tanya langsung pendapat lo mengenai calon gw". Ucap Rio.


"Tapi... kalau kedua orang tua lo serius buat jodohin lo gimana, Yo? Lo terima?".


"Gw akan tanya pendapat lo dan apapun yang lo bilang gw akan turutin". Ujar Rio.


"Kalau bilang jangan gimana?".


Rio menatap Ian dengan lekat. "Gw akan turutin".


"Kalau gw bilang ikutin mau kedua orang tua lo gimana?".


"Gw gak akan turutin! Hahahaaa". Rio tertawa terbahak-bahak.


Ian memukul bahu Rio kesal. Ia sudah bersikap serius namun pria itu justru bercanda.


"Lo tau lah orang tua gw, Ian. Mereka gak akan pernah memaksa gw untuk segera menikah walau usia gw memang sudah matang".


"Buat mereka, kebahagiaan gw yang utama..." Ujar Rio seraya menatap Ian.


Tak lama terdengar suara pemberitahuan bahwa penumpang tujuan penerbangan ke Los Angeles untuk segera naik ke dalam pesawat. Rio dan Ian bergegas berdiri. Rio hanya menenteng 1 tas kecil yang berisikan dokumen pribadi serta dompet dan ponsel untuk di bawa ke dalam kabin pesawat.


Di gate batas pengantaran dan Rio memperlihatkan boarding pass kepada petugas. Ian masih tetap menunggu nya. Rio berbalik badan dan menatap manik mata Ian dengan sangat dalam. Pria itu pun melangkah mendekat dan menarik Ian ke dalam pelukan nya. Ia memeluk erat tubuh ramping Ian dan menghirup aroma tubuh nya seakan itu adalah candu untuk nya.


Rio melonggarkan pelukan nya dan sedikit merunduk agar wajah nya sejajar dengan Ian


"Tunggu gw ya? Kali ini gw pasti akan cepat kembali..." Ujar Rio.


Ian mengangguk seraya mengulas senyum di balik masker nya.


Pengumuman kembali terdengar, Rio melepaskan pelukan nya dan menatap Ian. Tak lama pria itu membalikkan badan dan berjalan melangkah meninggalkan Ian. Ian hanya menatap punggung Rio sampai pria itu tak terlihat lagi.


Malam Hari


Ian yang sedang bercengkrama bersama dengan Manda dan Eca yang tengah datang mengunjungi rumah nya sangat terkejut dengan kedatangan Gilang, Eki dan Rivan. Ia menatap ke lima sahabat nya yang selalu setia mendampingi di saat Ia merasakan kesulitan bahkan ketika Ia butuh dukungan, mereka akan selalu ada untuk nya.

__ADS_1


"Lo bertiga kok bisa tiba-tiba datang ke rumah gw?". Tanya Ian pada Gilang, Rivan, dan Eki yang baru saja duduk bergabung.


"Nih si Manda dan Eca gak lo tanya kenapa tiba-tiba datang?". Sahut Gilang.


"Yeee.. kita sih dari tadi ya udah di sini!". Timpal Manda.


"Lo semua sebenarnya gak ada yang gw undang untuk datang sih. Tiba-tiba datang aja.. termasuk lo dan Eca". Ujar Ian seraya menatap Manda dan beralih ke Eca.


"Kita semua tuh takut lo sedih karena Rio pergi. Makanya kita berniat buat hibur lo nih". Ucap Rivan menjelaskan kedatangan mereka yang seperti jelangkung.


"Iya, Yan! Sampai gw selesaikan rapat cepat-cepat tadi buat ikut datang ke sini!". Timpal Eki.


Ian melongo mendengar penjelasan Rivan dan Eki. Ia menatap ke lima sahabat nya silih berganti.


"Kata siapa gw sedih! Gw gak sedih di tinggalin si Rio!". Omel Ian kesal yang membuat para sahabat nya tertawa keras.


Selalu tak terasa waktu yang di habiskan jika bersama dengan orang-orang terkasih. Begitu juga Ian. Ia baru saja menutup pintu rumah nya tepat pukul 12 malam ketika para sahabat nya memutuskan untuk pulang ke kediaman nya masing-masing.


Ian bergegas menuju ke kamar mandi untuk segera melakukan ritual sebelum tidur yakni membersihkan diri nya. Tak memakan waktu lama, selesai membersihkan diri nya Ia bergegas menuju kamar kedua anak nya. Ian membuka pelan pintu kamar.


Ruangan yang hanya di sinari cahaya temaram dari lampu tidur yang berada di atas nakas membuat suasana semakin tenang. Ian menghampiri Varo yang tengah tertidur lelap. Ibu dua anak membetulkan selimut yang di pakai Varo dan menarik nya hingga menutupi tubuh Varo hingga ke pundak.


Ian pun lalu beralih menuju kasur di mana Kai berada. Ia memang sengaja menempatkan kedua anak nya dalam 1 kamar. Bocah kecil itu tidur sangat lelap. Ian mengusap kepala Kai dan mengecup kening nya dengan perlahan. Bibirnya mengulas senyuman hangat tatkala Ia berada di ambang pintu dan melihat ke arah kedua anaknya. Ian pun menutup pintu dengan hati-hati. Ia pun segera menuju ke kamarnya.


Di atas kasur, Ian merebahkan diri nya seraya menatap langit-langit kamar nya yang terdapat hiasan cermin bergaria horizontal maupun vertikal. Ia menatap ke arah pantulan diri nya di cermin tersebut. Pikiran nya kosong. Mata nya hanya seakan terpaku menatap ke atas.


Ian mengerjapkan mata nya. Ia meraih ponsel yang berada di atas nakas. Dari sore gw belum check ponsel... Gumam Ian dalam hati.


Saat Ia membuka kunci layar ponsel nya. Terdapat beberapa notifikasi dari media sosial miliknya, sebuah aplikasi pesan dan beberapa panggilan tak terjawab. Ia membuka aplikasi pesan tersebut dan dahinya mengernyit melihat 1 nama yang mengiriminya pesan. Ian lantas membuka pesan tersebut.


"Bisa ketemu besok di cafe biasa?"


Isi pesan tersebut yang di kirim oleh Ilham.


......_____________......

__ADS_1


Haaiii.. I'M BACK!😘


__ADS_2