
Proses operasi yang di lakukan Ian berlangsung lebih lama dari proses operasi caesar pada umum nya. Tim dokter telah berhasil mengeluarkan bayi kedua Ian yang berjenis kelamin laki-laki dengan berat hanya 1,8 kg. Sesaat setelah di keluarkan, bayi tersebut tidak menangis sama sekali. Dokter Hendra segera meminta dokter anak yang berada di dalam ruang operasi untuk segera menangani khusus bayi mungil itu.
Ifan yang berada dalam tim dokter yang menangani operasi Ian sempat tertegun ketika melihat ponakan nya terlihat sangat kecil dan ringkih.
Ia tahu bahwa Ian pasti akan sangat sedih ketika melihat keadaan bayi nya. Ifan tahu perjuangan kakak nya selama menjalani kehamilan kedua nya ini, oh tidak.. Tentu ini adalah kehamilan ketiga untuk Ian!
Setelah membersihkan seluruh plasenta di dalam rahim, dokter pun segera menjahit perut Ian kembali. Tekanan darah normal, kadar oksigen normal, semua aman terkendali.
Satu jam kemudian operasi selesai. Ifan segera membersihkan diri nya dan pergi menemui keluarga untuk memberitahukan kondisi Ian dan bayi nya.
Dokter tampan itu berjalan tegap ke arah keluarga dan seluruh sahabat Ian yang terlihat sangat cemas. Ketika seluruh orang menyadari kedatangan nya, sontak saja diri nya langsung di beri berbagai pertanyaan.
"Tenang aja... Teh Ian sebentar lagi di bawa ke ruang rawat inap, dia masih belum sadar.." Ucap Ifan pada semua orang yang menanyakan kondisi Ian.
"Lalu bagaimana dengan bayi nya?". Tanya Imran.
"Bayi nya harus di rawat dengan intensif. Sekarang ada di NICU. Berat nya hanya 1,8 kg. Paru-paru nya belum berkembang dengan sempurna dan jenis kelamin laki-laki".
Dewi memeluk Imran karena sedih mendengar keadaan cucu kedua nya. Ilham langsung terduduk lemas. Pria itu terlihat merasa sangat bersalah dengan kondisi yang di alami oleh Ian dan bayi nya.
Tak lama 2 orang suster membuka pintu dengan lebar dan mendorong kasur yang berada Ian di atasnya terlihat sedang tertidur sangat lelap. Jarum infus terlihat menusuk di tangan nya. Rio yang sedari tadi diam saja ketika melihat Ian seperti itu Ia merasa dejavu dengan peristiwa yang dulu Ia alami bersama Ian. Peristiwa yang tak satupun orang yang berada di sini tahu bahwa hal itu pernah terjadi.
"Fan, tempatkan teteh kamu di kamar VVIP. Dan siapa dokter yang menangani cucu kedua papa? Antar papa sekarang kesana. Papa ingin memastikan cucu papa mendapatkan perawatan terbaik". Ujar Imran pada Ifan.
Imran menoleh pada Ilham yang terlihat linglung. "Kamu tidak mau melihat anakmu? Cepat ikut saya!".
__ADS_1
Ilham lantas berdiri dan mengikuti Imran, Dewi serta Ifan menemui dokter anak yang merawat bayi kedua nya juga mengurus administrasi. Pria itu seakan tidak bisa berkata apapun dengan situasi saat ini. Ia merasa tidak berdaya menjadi seorang suami dan seorang ayah ketika situasi pelik seperti ini terjadi. Ia tidak bisa melakukan apapun karena kondisi keuangan nya.
Di Ruang Rawat Inap
Rio sedang duduk di kursi samping tempat tidur. Ia menatap Ian dengan tatapan sendu. Ketika seluruh sahabat nya memutuskan pergi ke kantin untuk makan siang karena mereka semua pergi terburu-buru ke rumah sakit, Rio memilih untuk tetap menemani Ian yang masih berada di bawah pengaruh obat bius.
Rio merapihkan anak rambut Ian yang berantakan di dahi. Tangan nya melayang di udara ketika Ia ingin sekali mengusap kepala Ian. Siapapun yang melihat tatapan yang terpancar dari manik mata Rio, pasti lah sadar kalau pria itu terlihat sangat sedih.
"Apa yang harus gw lakuin Ian?". Tanya Rio seraya menatap Ian yang masih tertidur.
"Hati gw sakit.. sangat sakit ngeliat lo hidup seperti ini.. Kalau pun nyawa gw bisa menukar seluruh kesulitan yang lo alami bertahun-tahun, gw rela menukarnya.. Semua karena gw..." Rio menggengam erat tangan Ian. Pria itu menitikkan air mata tanpa Ia sadari.
"Gw pengen lihat lo bahagia.. Gw pengen lo kembali menjadi orang yang ceria dan selalu menjengkelkan..
"Akhirnya lo udah bangun..." Rio tersenyum hangat seraya mengusap dahi Ian.
"Minum..." Ucap Ian pelan.
Rio lantas menuangkan air ke dalam sebuah gelas dan membantu Ian minum dengan sedotan.
Ian terdiam menatap plafon kamar rawat VVIP tersebut. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Tiba-tiba Ia meraba perutnya yang sudah rata.
"Anak gw?!". Tanya Ian terkejut seraya menoleh pada Rio.
"Lo tenang aja.. Anak lo ada di ruang NICU. Dia perlu perawatan intensif. Tapi semua berada di bawah kendali. Bokap lo memastikan anak lo dapat perawatan terbaik di sini. Lo fokus dengan penyembuhan lo aja dulu ya.." Ucap Rio menenangkan Ian yang terlihat gelisah.
__ADS_1
Ian terlihat menghela napas pelan. Ia mengingat kembali kejadian tadi pagi dengan Ilham. Ia merasa sangat emosi sehingga membawa tekanan dan stress. Ia memang tidak pernah meluapkan amarah seperti itu pada suami nya selama bertahun-tahun menikah.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kata Ilham kalian tadi pagi sempat ribut.." Ujar Rio.
Ian terlihat membuang muka memutus tatapan Rio pada nya.
"Gak apa-apa kalau lo gak mau cerita..."
"Gw marah karena gw lelah. Gw gak terima dengan sesuatu yang dia lakukan di belakang gw.. Gw udah totalitas menjalani rumah tangga gw, Yo.. Gw menentang kedua orang tua gw, gw berhenti kerja, gw lakuin semampu gw untuk membantu dia dalam hal apapun, gw rela ikut dia tinggal di rumah yang.... " Ucapan Ian terputus. Ia tak ingin menjabarkan segala hal secara jelas. Ian masih menutupi segala hal nya.
Rio menghela napas kasar. Lagi-lagi lo menutupi yang terjadi Ian.. Apa sedalam itu cinta yang lo punya untuk suami lo? Batin Rio seraya menatap Ian dengan seksama.
Ian menoleh ke arah Rio. "Gw tau apa yang lo pikirin sekarang, Yo.." Tatapan Ian beralih menatap lampu gantung di ruang rawat VVIP nya. "Ada waktu nya.. ketika gw merasa udah gak sanggup lagi menahan semuanya, ada saat nya gw cerita ke lo... tapi untuk saat ini belum.."
Rio yang mendengar penuturan Ian seketika itu juga menggenggam tangan Ian dengan erat seperti menyalurkan sebuah kekuatan yang tak kasat mata. Pria itu tau bahwa Ian membutuhkan kekuatan untuk menghadapi segala problematika rumah tangga yang di jalaninya. Dan Rio memastikan akan selalu ada di sisi Ian kapanpun wanita itu butuh walau hanya untuk melihat Ian diam membisu.
"Lo gak harus selalu kelihatan kuat Ian.. Lo boleh jatuh, menangis, teriak lalu bangkit lagi.. Hidup memang seperti itu.. Hidup memang gak sesempurna itu. Itu wajar.. Itu gak apa-apa. Lo boleh merasa gak baik-baik aja, lo boleh merasa sedih.. Gak apa-apa kalau lo lagi merasa marah, kesal atau bingung.. Hidup lo berharga, lo harus ingat itu". Ucap Rio.
Ian menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Rio yang sangat menyentuh hatinya.
"Tinggal gw yang frustasi karena tiap kali lo begini, lo gak pernah bilang apa-apa. Hehehhehe". Rio terkekeh menyadari nasibnya.
Ian tersenyum hangat seraya mengusap air mata di pipinya. "Ada waktunya gw akan cerita semuanya..."
Dukung terus aku ya! Kecup hangat dari ku!😘 Next bab, SOON!
__ADS_1