Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 82


__ADS_3

7 Bulan Kemudian


Hari demi hari telah berlalu. Di kehamilan yang kali ini Ian merasa tubuh nya tidak sekuat dulu. Selalu ada saja keluhan yang Ia rasakan. Mual yang begitu hebat dan tubuh yang lemas adalah makanan sehari-harinya. Ian memutuskan untuk benar-benar berhenti bekerja saat usia kehamilan nya menginjak 7 bulan. Ia tidak sanggup lagi jika menjalankan rutinitas nya yang harus mengantar jemput Varo sekolah dan memikirkan pekerjaan kantor dalam kondisi hamil yang besar.


Rio sempat menentang keinginan Ian untuk berhenti bekerja. Namun apa daya, pria itu tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengubah keputusan Ian.


Di kehamilan nya kali ini tentu saja tidak jauh berbeda dengan sebelum nya jika terkait dengan Ilham. Pria itu tetap saja sibuk bekerja. Pergi pagi dan pulang malam sehingga Ian merasa kehadiran Ilham sebagai suami nya menjadi ada dan tiada. Ian sudah terbiasa dengan keadaan itu. Anehnya Ia justru merasa nyaman tanpa kehadiran Ilham di rumah. Bahkan ketika Ia harus pergi kontrol ke dokter pun, Ian lebih sering pergi berdua hanya dengan Varo. Ilham hanya sering memesankan taksi online melalui sebuah aplikasi.


Tring.. Tring..


Ponsel Ian berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Ian segera meraih ponsel nya yang berada di atas nakas.


Aku pulang telat banget malam ini.. Sekalian nabung lewat tengah malam, ayy.. Kamu gak usah nungguin aku pulang ya.


Ian membaca pesan yang masuk dari Ilham. Ia menghela napas nya perlahan. Sudah biasa... Batin Ian bergumam.


Ian tidak cukup mengerti tentang sistem kerja Ilham yang kadang berubah-ubah. Yang Ian tau hanya lah dalam setiap hari nya ada minimum passengers yang harus Ilham raih agar bisa mendapatkan bonus. Apakah itu yang Ilham maksud nabung lewat tengah malam? Entahlah..


Ian memeriksa seluruh pintu rumah dan juga pagar memastikan segalanya telah terkunci rapat barulah Ian dan Varo pergi membersihkan diri sebelum beranjak ke atas kasur untuk tidur.


Keesokan harinya Ian terbangun pukul 5 pagi. Ia masuk ke kamar Ilham untuk mencari charger ponsel miliknya yang biasanya pasti di pakai oleh Ilham.


Jika ada yang menanyakan apakah Ian dan ilham berbeda kamar jawaban nya adalah ya mereka tidur dalam beda kamar sejak Varo berusia 4 tahun. Namun kamar mereka masing-masing letak nya berada bersebelahan.


Ian mencabut charger dari stop kontak dan otomatis ponsel yang sedang di charge layarnya akan menyala karena terputus daya listrik yang mengisi ponsel tersebut. Ian melirik ponsel Ilham yang selama menikah dengan pria itu tidak pernah Ia coba buka seluruh aplikasi pesan atau media sosial di dalam nya. Namun berbeda pada pagi hari ini, entah mengapa naluri nya begitu kuat ingin membuka aplikasi pesan dalam ponsel tersebut karena Ian melihat ada notifikasi.


Ian lalu mengambil ponsel Ilham dan membawa nya keluar kamar pria itu dengan berjalan mengendap-ngendap. Setelah di rasa nya aman, Ian mencoba membuka ponsel Ilham yang di lindungi oleh password. Untung bukan fingerprint! Batin Ian.


Ian mencoba memasukkan tanggal lahir pria itu dan taraaaa.. dalam sekali percobaan langsung berhasil! Ian tertawa geli merutuki kebodohan suaminya yang membuat password sangat mudah di tebak.

__ADS_1


Ian lantas membuka sebuah aplikasi pesan dan tidak melihat ada aktifitas mencurigakan di dalam nya kecuali dengan 1 nomor. Ian mengetuk foto profil nya dan terlihat foto seorang wanita yang Ian perkirakan masih sangat muda mungkin berusia sekitar 20 tahun. Wajah wanita muda itu cantik dan putih. Ian membaca seluruh percakapan Ilham dengan nomor tersebut. Hati nya bergemuruh tak menentu.


Ian merasa ingin sekali membangunkan suaminya saat ini juga dan menanyakan seluruh kebenaran dalam percakapan tersebut. Namun Ian memutuskan untuk menunggu sampai suaminya bangun saja.


Ian masuk kembali ke dalam kamar Ilham dan menyimpan ponsel pria tersebut di atas meja. Ian pun mulai melakukan rutinitas harian nya di pagi hari yaitu menyiapkan seragam sekolah Varo, menyiapkan sarapan dan mengantar putra sulung nya ke sekolah.


Tepat pukul 8 pagi Ian sudah kembali ke rumah. Ian berjalan masuk ke dalam seraya mengelus perutnya yang sudah terlihat buncit namun tubuh nya tetap kurus. Usia kehamilan 7 bulan saja Ia sudah sering merasa sakit pinggang dan kram yang membuat nya terpaksa sering beristirahat.


Ian melihat Ilham sedang memakai baju di ruang pakaian. Pria itu sedang bersiap-siap untuk pergi kerja. Ian menghela napas nya berat saat mengingat apa yang tadi subuh Ia lihat dalam ponsel pria itu.


Ian menunggu suaminya di sofa ruang TV seraya mengganti terus menerus channel TV yang di rasanya tidak ada tayangan yang menarik.


"Aku udah sarapan, langsung pergi ya aku.. kamu baik-baik di rumah". Ucap Ilham yang berdiri di belakang Ian yang sedang duduk di sofa.


"Tunggu.. Ada yang mau aku omongin sama kamu.."


"Apa? Bisa nanti gak sayang? Aku udah telat banget udah di tungguin orang.." Sahut Ilham seraya melirik jam tangan nya.


Ilham terlihat mengerutkan kening. "Siapa apa maksud kamu?".


"Orang yang lagi nunggu kamu itu siapa?".


"Pelanggan tetap aku lah sayang.." Ucap Ilham.


"Perempuan?".


Ilham mengangguk. "Kenapa memang nya?".


"Maaf sebelumnya... tapi aku tadi subuh buka ponsel kamu dan baca sesuatu di aplikasi pesan dengan nomor seseorang yang kamu beri nama dengan 'sand'. Siapa dia? Apa 'sand' itu pelanggan tetap yang mau kamu jemput sekarang?". Ujar Ian.

__ADS_1


"Kamu buka ponsel aku?!".


"Iya.. Maaf kalau lancang tapi notifikasi di layar ponsel kamu dari 'sand' itu buat aku penasaran". Sahut Ian menatap Ilham.


"Dia memang pelanggan tetap aku".


"Apa dia gak bisa order sendiri di aplikasi untuk pesan taksi online nya? Harus kamu yang jemput?".


"Astaga... Aku cuma jemput dia ya!". Ilham menaikkan intonasi nada nya.


"Cuma jemlut kamu bilang? Tapi dari seluruh percakapan yang aku baca, kamu gak hanya jemput dia! Kamu dengerin curhat dia, kamu pergi makan sama dia, kamu samperin di mana pun dia minta jemput walau posisi kalian berjauhan! Semua sangat jelas di situ!".


Ilham mengusap wajah nya kasar. "Dia bayar jasa aku anter dia walau gak pakai aplikasi. Tetap aja aku menghasilkan uang kan? Toh aku jemput dia gak secara cuma-cuma. Dia bayar aku!".


"Uang? Hanya karena uang dan sekalian kamu juga bisa jalan dengan wanita muda kan! 'Makasih ya ilham udah mau denger curhat aku..', 'pagiiii ilham.. kamu jemput aku yaaa pagi ini', 'hii.. nanti kita makan dulu ya.. kamu udah di mana?' dan sebagainya! Apa kata-kata seperti itu adalah wajar antara seorang supir dan pelanggan nya?!".


"Kamu bisa jemput cewek itu di manapun dia berada tapi kamu bahkan selalu beralasan gak bisa jemput aku dan Varo kalau kita lagi pergi! Bahkan tengah malam pun kamu tega nyuruh aku dan Varo pulang sendiri! Kamu gak pernah ngajakin aku dan Varo jalan keluar.. kamu selalu sibuk kerja kerja kerja alasanmu! Kamu juga gak pernah dengar cerita aku.. kamu gak pernah nanya apa yang aku rasain, apa yang aku lagi pikirin.. Tapi bisa-bisa nya kamu berperilaku seperti itu ke cewek lain sedangkan perilaku kamu ke keluarga kamu sendiri sangat beda 180°!". Cecar Ian emosi.


"Aku tuh kerja! Cari uang! Aku udah bilang ya kalau dia bayar aku!".


"Tapi tetap sikap kamu keterlaluan! Jadi kamu berpikir kalau jemput aku, kamu gak dapat uang? Gitu maksud kamu? Apa ketika aku minta jemput pun aku harus bayar ke kamu? Apa kamu lupa? Aku bahkan rela habisin uang tabungan ku untuk ambilin kamu mobil yang kamu pakai kerja sekarang! Bahkan ketika kamu lagi gak bisa bayar cicilan nya, siapa yang bayarin? AKU!".


"Sampai aku gak kerja seperti sekarang dan gak punya uang tabungan lagi. Itu semua karena kamu.. aku totalitas support kamu supaya kamu bisa lebih baik. Tapi apa yang kamu lakuin ke aku?". Ucap Ian menatap tajam suami nya.


Tiba-tiba Ian meringis kesakitan memegang perut bagian bawah nya. Ian berusaha mengatur napas. Tarik napas.. hembuskan perlahan.. Tarik napas.. hembuskan perlahan.. Terus begitu berulang kali. Namun rasa sakit yang Ia rasakan di perut bagian bawah nya tidak kunjung mereda malah semakin menusuk.


Ilham yang melihat istri nya sedang kesakitan segera memapah Ian untuk duduk. Namun dengan cepat Ian tolak.


"Ke rumah sakit sekarang!".

__ADS_1


Dukung aku selalu yaaa.. Like, komen, favorit dsb sesuka kaliaann.. aku sangat senang lhoooo! Kecup hangat dariku!😘


__ADS_2