
Rumah Sakit
Sesaat setelah Ilham sampai ke rumah sakit dan langsung menghentikan mobil nya tepat di depan pintu Unit Gawat Darurat, ternyata Ifan adik nomor 2 Ian yang berprofesi sebagai dokter bedah sudah menunggu kedatangan Ian sedari tadi. Ifan beserta 2 orang suster dengan cepat membuka pintu mobil dan langsung membantu Ian untuk turun dan duduk di kursi roda.
"Sus, tolong panggilkan dokter Herman ya di ruangan nya sekarang!". Perintah Ifan pada salah seorang suster.
Dokter Herman adalah rekan kerja Ifan yang merupakan salah satu dokter kandungan terbaik di rumah sakit tersebut. Ilham melangkah mengikuti dari belakang seraya menelfon seseorang.
"Bang, lo tunggu di luar aja ya". Seru Ifan pada Ilham sebelum masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Gw gak boleh masuk, dek?".
"Nanti gw panggil lo kalau ada apa-apa. Teteh harus di periksa dulu sama dokter kandungan". Ucap Ifan.
Ilham pun mengangguk dan memilih duduk di deretan kursi yang tepat berada di depan ruangan yang telah tertutup rapat. Pria itu terlihat menghela napas berat seraya mengusap wajah nya. Kalau saja Ia tidak membuat Ian emosi, pasti istrinya itu akan baik-baik saja. Ilham merasa sangat bersalah saat ini.
Tap.. Tap.. Tap..
Terdengar derap langkah yang terburu-buru, Ilham menoleh ke arah suara dan melihat mertua nya datang dengan raut wajah kuatir. Dewi menghampiri Ilham dan tanpa basa basi langsung menanyakan kondisi Ian.
"Bagaimana Ian? Kenapa dia bisa seperti ini? Kandungan nya bahkan baru 7 bulan kan?". Ucap Dewi dengan sederet pertanyaan.
"Siapa yang berada di dalam?". Tanya Imran menimpali.
"Ifan dan seorang dokter kandungan, Pa". Ilham menjawab pertanyaan Imran.
"Mengapa Ian bisa masuk UGD seperti ini, Ilham? Coba jelaskan pada saya". Ucap Imran seraya menatap menantu nya.
Ilham menghela napas pelan lalu Ia menatap ayah mertua nya. "Saya dan Ian tadi sedang berbincang dan berujung dengan perdebatan kecil, Pa. Ian emosi dan tiba-tiba merasakan perut nya sakit yang gak kunjung hilang serta ada cairan yang keluar.. tapi bukan darah.. mungkin ketuban..."
"Kamu tau kan ibu hamil tidak boleh stress? Kenapa kamu sembrono!". Cecar Imran.
"Ya ampun Pa.. Kasian putri kita.. gimana nasib anak yang ada di dalam kandungan nya.." Ucap Dewi dengan raut wajah yang kuatir.
"Tenang aja, Ma. Kita hanya bisa berdoa semoga Ian dan anak nya baik-baik saja". Imran menenangkan Dewi.
__ADS_1
Pintu ruangan pun tiba-tiba terbuka dan Ifan melangkah keluar bersama seorang dokter lain. Ilham dan kedua orang tua Ian pun menghampiri dengan cepat.
"Gimana keadaan teteh kamu?".
"Kandungan nya baik-baik aja kan?".
"Apa gw boleh masuk sekarang dek?".
Ilham dan kedua orang tua Ian memborbardir Ifan dengan rentetan pertanyaan.
"Ini urgent. Teh Ian harus segera di operasi caesar. Kita bermain dengan waktu". Ifan menatap ketiga orang yang berada di hadapan nya silih berganti.
"Apa?! Kandungan nya baru 7 bulan, Ifan". Ucap Ilham terkejut.
"Apa bapak suami bu Ian?". Tanya Dokter yang di ketahui bernama Dokter Hendra.
Ilham mengangguk cepat seraya menatap dokter tersebut.
"Air ketuban dalam rahim Bu Ian sudah sangat menipis. Bu Ian juga sudah mengalami flek darah yang cukup banyak. Jalan satu-satu nya kita harus segera melakukan operasi caesar sekarang untuk menyelamat kan bayi nya". Ujar Dokter Hendra menjelaskan.
ifan dan Dokter Hendra pun mengangguk dan segera menyiapkan ruang operasi.
"Pa.. tapi untuk operasi caesar seperti ini saya tidak mampu untuk membayarnya... saya dan ian hanya menyiapkan untuk biaya persalinan normal..." Ucap Ilham pelan menjelaskan kondisinya.
Imran menatap tajam menantu nya itu. "Jadi kalau kamu tidak mampu membayarnya kamu hanya akan pasrah saja, begitu?! Kamu akan membiarkan nyawa anak dan istrimu dalam bahaya?!".
Ilham menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu maksud saya, Pa. Tapi saya memang benar-benar tidak ada uang untuk membayar operasi caesar yang biayanya bisa puluhan juta".
"Dosa apa yang saya lakukan dulu sehingga putri saya harus hidup dengan penuh kesulitan saat ini!". Ucap Imran seraya mengusap wajah nya.
"Saya yang akan bayar seluruh biaya rumah sakit putri saya!".
Ilham mengangguk pelan. "Terima kasih, Pa. Saya akan bayar dengan mencicil ke Papa".
"Sudah. Tidak perlu di ganti. Bagaimanapun yang sedang butuh pertolongan saat ini adalah anak dan cucu kami, Ilham". Ucap Dewi berusaha menenangkan keadaan yang tegang di antara mereka.
__ADS_1
Tak lama Rio dan sahabat Ian yang lain nya datang ke rumah sakit. Mereka semua segera menghampiri Imran, Dewi dan juga Ilham yang sedang menunggu di depan ruang operasi.
"Om, gimana keadaan Ian?". Rio bertanya to the point pada Imran.
"Belum tau, Satu pun orang di dalam belum ada yang keluar". Jelas Imran.
"Kalian tau dari mana Ian sedang di operasi di rumah sakit ini?". Tanya Dewi pada seluruh sahabat Ian.
"Ifan menelfon saya memberitahukan kabar Ian. Lalu saya teruskan kabar itu ke dalam grup, tante". Ucap Gilang yang di angguki oleh Dewi.
"Apa kamu lari terbirit-birit sampai tidak sadar kalau kamu pakai sandal yang berbeda satu sama lain nya, Rio?. Tanya Imran seraya menatap ke arah kaki Rio.
Sontak saja seluruh mata tertuju ke bawah melihat sandal yang di pakai Rio. Pria itu pun meringis saat sadar bahwa Ia memang memakai sandal yang berbeda.
"Tadi waktu aku baca di grup kabar tentang Ian, aku langsung lari keluar dari apartemen.. Gak lihat-lihat sandal yang aku pakai hehehehehe". Ujar Rio terkekeh geli merutuk kebodohan nya.
Ilham menatap Rio dengan diam membisu. Rio yang mendapati sedang di perhatikan oleh Ilham pun segera menyunggingkan senyuman di bibir nya. Rio melangkah mendekat ke arah Ilham dan duduk di sebelah pria itu.
Rio menepuk sebelah bahu Ilham. "Lo tenang aja, Bro. Ian dan anak lo pasti baik-baik aja. Dia wanita kuat..."
Ilham mengangguk. "Thanks, Bro".
"Tapi... kalau gw boleh tau, kenapa Ian sampai terpaksa harus melahirkan prematur begini? Apa dia kelelahan?". Tanya Rio bertanya dengan hati-hati.
"Gw dan Ian tadi pagi ada ribut kecil. Ian emosi banget ke gw sampai tiba-tiba dia mengeluh kesakitan di perutnya.. Ini salah gw, Bro..." Ujar Ilham seraya menyugar rambutnya kasar.
Rio diam membisu tak berkata apapun. Pikiran nya sebenarnya sangat kalut saat ini. Ia memikirkan keadaan Ian dan apa yang baru Ia dengar tadi? Ribut kecil? Hal apa yang mereka ributkan sampai Ian emosi dan berefek pada kandungan nya? Rio benar-benar berpikir keras dengan segala pertanyaan di dalam benak nya!
......___________________......
Awas ya kalau ada yg bilang dikit banget.. dari awal di setiap bab itu aku selalu nulis lebih dari 1000 kata.. kadang 1200 kadang 1300 bahkan ada yg 1700 kata!๐ ๐
Dan aku selalu up 1 bab per hari dan kalau ada waktu lebih pasti double up juga kok karena aku pengen cepet selesaikan kisah ini juga karena di bab-bab akhir tuh aku bakalan selipin berbagai hal dari narsum yang udah dapet izin untuk di lampirkan di lapak ini.. HANYA DI PLATFORM INI๐ซ
Kecup hangat dariku!๐
__ADS_1