Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Keputusan Yang Salah


__ADS_3

"Aku pulang sendiri aja...," ucap Zeline pada King saat keduanya telah keluar dari studio Mario.


"Aku akan mengantar mu pulang, ayo!" King menarik kasar tangan Zeline


"Aku ga mau! Lepas!!" Zeline berteriak dan menghentak kasar tangan King.


Beberapa orang disana sempat melirik kearah keduanya.


"Kamu mau menghancurkan sandiwara ini? Liat tempat donk kalau mau menggila seperti itu!" ujar King dengan suara tertahan dan tatapan tajamnya.


Akhirnya Zeline mengikuti keinginan King, ia masuk kedalam mobil dengan membanting kasar pintu Range Rover calon suaminya.


"Berapa nomor ponsel kamu, ketikan disini!" King memberikan ponselnya kepada Zeline


"Untuk apa? Bahkan aku sekarang tidak boleh menggunakan ponsel"


"Masukan saja! Cepat!!" perintah King dengan menautkan alisnya.


King mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari pelataran parkir studio Mario.


Zeline menatap layar ponsel itu lama, ia masih belum memasukan nomor ponselnya.


"Ah.. Sudahlah, aku minta pada asisten mu saja!" King merebut kasar ponselnya dari tangan Zeline.


"Aw... " desis Zeline sambil mendelik kepada King.


King melirik sekilah tangan Zeline, tangan dengan kulit putih mulus itu memerah.


"Memang kenapa kamu ga boleh menggunakan ponsel?" tanya King dengan merendahkan suaranya.


"Kata Anin banyak komentar jahat di media sosial aku, eeehh... Boleh pinjem ponsel kamu? Aku mau buka media sosial donk, memang mereka komentar apa sih?" Zeline mengambil ponsel dari saku Jas King dengan mata berbinar.


King membiarkan saja Zeline melakukan itu, ia bahkan tidak peduli bila Zeline akan terluka hatinya nanti membaca cacian dari netizen.


Beberapa menit Zeline sibuk mematuti layar ponsel King, bahkan macet yang membuat King kesal tak mempengaruhi Zeline sedikit pun.


Tiba-tiba nafas Zeline tersengal, dadanya naik turun menghirup dan menghembuskan nafas pendek dengan cepat.


Matanya sudah memerah dengan air yang menggenang dipelupuk mata, tak tahan ia menahan sakit hati membaca komentar yang menghinanya, Zeline pun terisak.


King melirik Zeline yang terisak sambil menutup wajahnya dengan tangan, isakan itu meningkat menjadi jeritan kecil.


King mengambil ponselnya dari tangan Zeline perlahan, hatinya sedikit iba melihat Zeline menangis.


"Pasti dia baca komentar-komentar pedas itu!" batin King


King hanya bisa mendiamkan Zeline, memberinya waktu untuk meluapkan emosi kesedihannya.


Sepanjang jalan hanya isak tangis menemani perjalanan mereka. Dan King tak bisa berbuat apa-apa.


Setelah sampai dihalaman rumah Zeline, King memarkirkan mobilnya.


Zeline segera berlari turun dari mobil dan masuk kedalam rumah sambil menangis.


King menyusul Zeline dibelakang, saat akan memasuki pintu rumah yang sudah terbuka, ia berpapasan dengan Mama Rena.


"King?" sapa Mama Rena


"Mama... Eh Tante... " saut King

__ADS_1


"Ga apa-apa panggil Mama aja, kan sebentar lagi? Mama jadi Mama kamu juga" tutur Mama Rena ramah.


"Aahh... Iya, Mah!" saut King canggung.


"Ada apa King? Kenapa Zeline menangis sambil berlari seperti itu, tadi?" tanya Mama Rena sambil menggandeng tangan King dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.


"Tadi sepulang dari pemotretan untuk Prewedding, Zeline liat akun social medianya dari ponsel King, Ma... King ga tau apa yang Zeline baca, tapi setelah itu Zeline nangis" tutur King.


Mama Rena menghembuskan nafas.


"Zeline itu udah dikasih tau jangan buka-buka media social, masih ga nurut juga ya! Udah tau komentar netizen itu jahat! Jangankan buka social media, kami semua melarang Zeline untuk menonton TV juga. Karena pemberitaannya masih belum reda, sepertinya setelah kalian menikah baru pemberitaan itu akan menguap!"


King manggut-manggut mendengar penuturan Mama Rena.


"Kalau gitu, King kekantor dulu ya Ma... Salam buat Papa, nanti King kesini lagi ya Ma.. " Pamit King tulus.


"Ga makan dulu, King?Mama udah masak loh"


"King harus balik lagi ke kantor Ma... Nanti aja makan dikantor!"


"Makanan apa? Makanannya sehat ga? Bentar, Mama siapin makan buat kamu dulu ya, pake kotak makan! Sebentar!" Tanpa persetujuan King, Mama Rena berlari ke arah ruang makan.


Mau tak mau King kembali mendudukan bokongnya, ia pun tak enak menolak permintaan calon mertuanya itu.


"Ya udahlah, mau dimakan apa ngga nanti, yang penting udah menghargai" batin King


Sambil menunggu, King memindai sekeliling ruang tamu dengan banyak foto-foto tergantung disana.


Ruangan itu didominasi oleh foto-foto Zeline, ternyata Zeline memang sudah berbakat sejak kecil terbukti dari pose-pose lucunya saat ia kecil.


King terkekeh melihat foto-foto centil Zeline saat kecil.


"Makasih Ma... King pamit pulang dulu"


"Hati-hati King... "


Setelah mobil King menghilang dari pagar tinggi rumahnya, Mama Rena masuk kedalam langsung menuju kamar Rena.


"Sayaaaang...." panggil Mama Rena.


Terdengar suara Zeline terisak.


"Kenapa hidup Zeline jadi gini, Ma? Beberapa hari lalu Zeline masih disanjung dan dipuja Ma, hanya dalam semalam Zeline dicaci maki orang, hati Zeline Sakit Ma!"


"Sayang... Semua ini hanya titipan, Tuhan bisa mengambilnya kapan saja! Termasuk ketenaran mu, atau mungkin juga Tuhan sedang memberikan ujian untuk ke naikan level dalam hidup mu, sabar ya sayang... Ikhlaskan, ikuti saja alurnya... Semua akan baik-baik saja!" ucap Mama Rena sambil memeluk anak bungsunya itu.


*****


Setelah mengantar Zeline ke rumahnya, King kembali kekantor karena masih ada pekerjaan yang perlu ia selesaikan.


Tatapannya fokus pada layar pipih dihadapannya, jari-jari rampingnya menari diatas keyboard.


Tok... Tok...


Ceklek...


"Tuan King... Nona Jenifer ingin bertemu!" ucap Elgi, sekertaris King.


King berdecak kesal, menghela napas...

__ADS_1


"Suruh dia masuk!" pinta King dengan malas.


"King.... " Jenifer berlari menghampiri King, tangisnya pecah saat memeluk pria kekar itu.


King diam saja tak membalas pelukan itu, wajahnya terlihat kesal.


Jenifer mendongak agar bisa menatap wajah tampan kekasihnya.


"Maafkan aku...., " ucapnya tulus dengan air mata membanjiri pipinya.


King melepaskan pelukan Jenifer.


"Duduklah dulu... "


King mengambilkan Jenifer air mineral yang berada diminibar.


"Ini minumlah... " pintanya lagi, seraya menyodorkan air kemasan botol.


Jenifer meneguk sedikit air mineral itu lalu menyimpannya di meja.


"Maafkan aku King... Apa benar kau akan menikahi Zeline? Konferensi pers itu bohong kan? Kau tak akan menikahinya bukan?" cecar Jenifer


"Aku akan menikahinya, Jen! Dan itu semua gara-gara kamu!" King melipat tangan di dada, wajahnya masih terlihat kesal dengan menautkan alisnya.


"Tapi bukan salah aku King, resepsionis ganjen itu yang salah memberikan mu kunci! Harus nya kunci kamar yang diberikan pada mu itu untuk Tuan Bayu, orang yang sudah membooking Zeline!" tutur Jenifer dengan memelaskan tatapannya.


"Apa maksud mu?" Kini dahi King terlipat dalam.


"Aku menjual Zeline untuk Tuan Bayu dan menjebak Zeline agar ia lengser dari jabatan Putri Indonesianya! Tapi resepsionis itu salah memberikan kamu kunci, seharusnya Tuan Bayu yang malam itu bersama Zeline" Aku Jenifer tanpa malu.


"Lalu... Kalau sudah seperti ini bagaimana?" tanya King sesantai mungkin, ekspresi wajahnya berubah tenang karena ia telah mendapatkan kepastian penyebab kesialannya malam itu.


"Jangan nikahi dia, hentikan omong kosong ini, King!"


"Tidak bisa Jenifer, gara-gara kebodohan mu malam itu, saham perusahaan ku anjlok! Reputasi ku rusak dimata klien dan penanam modal, selama ini hanya gosip yang beredar bahwa aku sering bergonta ganti wanita sebagai teman tidur, tapi berita konyol itu yang menampakan aku dikamar hotel tengah bugil dengan seorang wanita makin memperkuat gosip tersebut! Dan bukan hanya itu, Zeline pun mengalami kerugian besar, banyak kontraknya yang dibatalkan! Tuan Nicholas yang memberikan ide ini, karena hanya ini lah jalan agar pemberitaan tersebut terbantahkan! Jadi mau tak mau aku harus menikahi Zeline!"


Penuturan King tadi membuat Jenifer menyesal telah menjebak Zeline, tapi bukan Jenifer namanya bila tak mau mengakui kesalahan.


"Tapi kau tidak mencintainya King!" sanggah Jenifer


"Entahlah Jen... Aku pusing! Lain kali kita ngobrol ya, aku lelah!! Seharian ini aku melakukan Foto Preweding dengan Zeline dan pekerjaan ku juga masih banyak... Pergilah!!" Usir King lalu beranjak dari sofa kembali ke meja kerjanya.


Geraham Jenifer bergemeretak menahan kekesalannya, dengan wajah merah padam menahan amarah ia melangkahkan kaki dengan mengetukan heelsnya dilantai kayu ruang King, hingga memantulkan bunyi nyaring memenuhi ruangan dan lorong kantor King.


King menghembuskan nafas kasar, ia berdecak kesal mengingat akan menikah dengan Zeline.


Itu berarti ia tidak bisa bermain-main dengan wanita lain karena mungkin saja wanita itu akan menjebak lalu memerasnya. Karena Ia akan menikahi public figure. Apa yang ia lakukan pasti akan menjadi pemberitaan.


"Aaarrrggghhhh.... Sepertinya ini keputusan yang salah" geram King dengan menyugar rambutnya kesal.


King merasakan sakit diperutnya, ternyata siang ini ia belum makan. Ia teringat makan siang yang disiapkan Mama Rena, lalu mencari paperbag yang tadi ia simpan sembarang di kursi samping minibar.


Harum masakan rumah seketika menusuk hidung King, makin membuat perut King mengkerut karena lapar.


Ia mengambil sendok dan menyuapkan makanan itu kemulutnya.


"Emmh... Enak banget!" gumam King


Ia pun dengan lahap memakan masakan Mama Rena hingga makanan itu habis tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2