Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 107


__ADS_3

Tidak ada kata yang bisa mewakili bagaimana perasaan Ian saat ini. Hari ini adalah hari di mana Ia benar-benar bulat mengambil keputusan untuk kebahagiaan nya. Pikiran nya kosong. Hati nya hampa. Sedih? Ia tidak lagi merasakan itu. Marah? Kecewa? Ia bahkan tidak lagi merasakan itu ketika banyak orang di sekeliling nya membahas masalah rumah tangga yang di jalani nya.


Ian termenung melihat ke arah depan. Ia yang sedang duduk menunggu antrian hanya bisa mengedarkan pandangan nya ke tempat yang benar-benar asing untuk nya. Sebuah tempat yang tidak pernah Ia pikirkan untuk menginjakkan kakinya di sini. Ini adalah hal baru untuk nya.



Ya. Di sinilah Ia sekarang. Di sebuah tempat yang sangat asing dan tak pernah terpikirkan untuk nya. Hari ini bersama dengan pengacara nya, Ian mendaftarkan gugatan nya kepada Ilham. Gugatan yang akhirnya benar-benar Ia lakukan setelah beberapa bulan Ia tahan sejak pertemuan terakhir nya dengan Ilham.


"Pernikahan tidak akan membuatnya bertahan. **** tidak akan membuatnya setia kepada kamu. Kecantikan tidak akan membuatnya bertahan lama, mencintainya lebih keras tidak akan membuatnya berkomitmen. Kamu tahu apa yang akan membuatnya tetap tinggal? Tidak ada. Bahkan seorang anak pun tidak. Tidak ada yang akan membuatnya tinggal, jika dia ingin pergi, dia akan melakukannya.... "


Ian mengingat kembali perkataan Dewi yang di lontarkan untuknya tadi malam ketika mereka berbincang. Apa yang di katakan oleh Dewi memang benar. Tidak ada yang akan membuat seseorang benar-benar tinggal kecuali Ia takut dengan janji yang pernah di ikrarkan di hadapan Tuhan dan tentu nya mempunyai karakter yang luar biaaa baik.


"Apakah proses sidang nya akan memakan waktu lama sejak di daftarkan?"". Tanya Ian seraya menoleh pada pengacara nya.


"Tidak akan lama. Saya bisa jamin. Mungkin jika jalur reguler bisa memakan waktu berbulan-bulan. Tapi saya pastikan semua proses yang akan anda lalui bisa di persingkat". Jelas sang pengacara.


Ian mengangguk-angguk paham. Selama mengantri Ia bisa mencuri dengar dengan berbagai masalah yang di lontarkan oleh banyak pengunjung. Ian tersenyum miris.


Tak lama kemudian, Ian pun di panggil. Ia lebih banyak diam tak banyak berkata apapun. Ia hanya ingin pulang ke rumah dan tidur. Entahlah... Ia merasakan lelah walau fisik nya tidak habis melakukan olahraga yang berat.


"Tunggu surat sidang datang ke rumah ya, Bu". Ujar salah seorang petugas yang melayani nya sedari tadi.

__ADS_1


Ian mengangguk paham dan tak lama segera bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia pun berpisah dengan sang pengacara karena mereka masing-masing membawa kendaraan.


Sepanjang perjalanan Ian berpikir keras apakah Ia harus mampir ke rumah Ilham atau tidak. Jarak dari pengadilan menuju rumah Ilham sangatlah dekat. Hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit Ia bisa sampai ke rumah pria itu.


Pada akhirnya Ian memutuskan untuk datang. Ia pun mengarahkan mobil nya menuju fly over yang akan membawa nya ke rumah Ilham.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Ian telah sampai di perumahan di mana rumah Ilham berada. Ian menghentikan mobil nya tepat di seberang rumah yang mana dulu Ia pernah tinggal di dalam nya. Ian hanya termenung menatap kosong ke arah rumah tersebut. Ian tak menampik ada hal-hal yang membuatnya pernah bahagia di rumah tersebut walau 90% sisa nya hanyalah mengukir luka di hati.


Tak terlihat mobil Ilham di garasi yang menandakan pria itu sedang tidak berada di rumah. Rasa menusuk di hati nya sangat terasa tatkala Ia tahu jika Ilham memanglah hidup sendirian. Pria itu sudah tidak memiliki kedua orang tua dan ke empat kakak kandung nya berada di luar kota semua. Pria itu tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga sejak kedua orang tua nya meninggalkan dunia.


Ian berusaha menepis rasa iba di hati nya. Jika pria itu mempunyai hati nurani dan memperlakukan keluarga kecil nya dengan baik, Ian bisa memastikan Ia akan mempertahankan rumah tangga nya. Namun kenyataan berbicara lain.


Setelah puas menatap rumah Ilham, Ian mengemudikan kembali mobil nya untuk segera pulang ke rumah.


"Apa lo yakin mau hadir di sidang? Kalau lo gak kuat lebih baik hanya pengacara yang mewakili, Ian..." Ujar Rio melalui Video Call.


Rio yang masih berada di Los Angeles melakukan video call dengan Ian. Pria itu tak bisa pulang lebih cepat dari perkiraan karena masih ada beberapa masalah di head office yang perlu di selesaikan olehnya.


"Gw mau melihat langsung keputusan nya , Yo. Case gw udah paling cepat proses nya" Ujar Ian seraya memakai sepatu hak tinggi.


"Apa lo yakin? Gw malah kuatir..." Rio terlihat menghela napas dengan berat.

__ADS_1


"I'm ok.. You have no worry about me, ok?" Ucap Ian seraya menatap layar ponsel nya.


Rio mengulas senyum hangat. "Langsung kabarin gw kalau ada apa-apa ya?"


Ian mengangkat tangan nya dan mengacungkan ibu jari ke arah layar pertanda setuju. Tak lama sambungan telfon pun usai. Ian segera memasukkan ponsel nya ke dalam sebuah clutch yang berwarna hitam dan Ia pun segera pergi menuju pengadilan.


Pengadilan Agama


Ian melangkah memasuki pagar pengadilan yang di jaga oleh 2 orang security. Satu per satu pengunjung di cek suhu nya dan di berikan sebuah kalung yang memilki 3 warna tali yang berbeda. Ketika giliran Ian, Ia pun di tanya oleh salah seorang security. Namun tak sempat menjawab, pengacara nya yang sudah mewakili. ian baru tahu bahwa masing-masing tali dalam nametag tersebut memiliki arti yang berbeda.



Ian menaiki sebuah tangga yang menuju ruang sidang. Saat berada di lantai atas, Ia langsung di suguhkan dengan banyak nya orang yang sedang duduk di ruang tunggu menunggu giliran untuk di panggil. Ian mengedarkan pandangan nya dan manik mata nya menangkap sosok seorang pria yang tengah menatap ke arah diri nya.


Pria itu duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Ian menghela napas nya perlahan. Ia pun melangkah menghampiri Ilham yang di ikuti oleh pengacara nya. Ia tidak mau hubungan nya dengan Ilham selalu rumit. Ia harus menjalin hubungan baik terlepas bagaimana kondisi di antara mereka. Ian paham sampai kapan pun, Ilham adalah ayah biologis kedua anak nya. Fakta itu tak akan pernah terkubur walau di sisi lain kisah kedua orang tua nya hanya akan menjadi kenangan.


......_________________......


Sebenernya aku lagi diterjang rasa malas dan kurang semangat buat nulis huhuhu. Aktifitasku yang lebih banyak wfo dan juga membuat kue, sangaaattt melelahkan.


aku di sini hanya menyalurkan hobi tanpa berekspektasi lebih✌ ini pengalaman pertamaku menulis, dan aku memilih kisah yg di alami oleh temanku.

__ADS_1


Entahlah aku masih bingung kalau aku harus menghalu akan membuat cerita yg bagaimana🙄🤷‍♀️ jd aku memutuskan saat itu belajar menulis kisah nyata saja lebih dulu yg alurnya, konfliknya memang sudah ada dan terjadi walau aku pun kurang yakin kalau aku bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana sudut pandang dan perasaan tiap-tiap karakter utama di kisah ini yg di tuangkan dlm tulisan.


mohon maklum ya klo yg gak dapat feel nya atau apapun itu. aku yg masih receh ini dalam dunia penulisan msh harus banyak belajar😆🍻


__ADS_2