
Selepas kepergian Ilham, Ian menangis tersedu-sedu. Ia harus bagaimana? Langkah apa yang perlu Ia tempuh untuk selanjutnya? Apakah Ia harus mempertahankan rumah tangga nya dengan Ilham atau meninggalkan segala yang Ia bangun dalam kurun waktu 9 tahun terakhir ini?
Ia benar-benar dilema. Ia malu pada dirinya sendiri dan pada kedua orang tuanya. Andai saja dulu Ia mendengarkan apa kata Imran, mungkin saja jalan hidup nya akan berbeda. Namun dulu Ia begitu tergesa-gesa memutuskan untuk tetap menikah dengan Ilham walau harus melawan kedua orang tuanya. Saat ini Ia baru menyadari bahwa restu kedua orang tua adalah hal yang amat penting bagi kelangsungan pernikahan nya.
Dalam 9 tahun Ian benar-benar melempar mahkota nya dan mencoba masuk ke dalam dunia Ilham. Namun sekeras apapun Ia mencoba, Ia tidak pernah bisa bebaur. Bukan karena Ia sombong. Tidak. Ian benar-benar berusaha mengenal lingkungan pergaulan Ilham, namun Ia menjelma menjadi sosok yang tidak banyak bicara sehingga banyak teman pria itu yang berspekulasi bahwa Ian adalah sosok yang tidak mau berbaur. Bahkan untuk sekedar datang ke rumah pun, banyak dari teman-teman Ilham tidak berani untuk masuk ke dalam rumah karena merasa segan pada Ian.
Ilham pun jarang sekali mengajak dirinya maupun anak-anak untuk pergi ke mall atau sekedar jalan-jalan ke taman. Dalam 9 tahun pernikahan, pria itu hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja. Saat di rumah pun hanya di habiskan dengan bermain ponsel atau menongkrong dengan teman-teman di komplek rumah nya. Ian benar-benar merasa asing di tempat yang asing. Saat Ia harusnya bisa bersandar pada suaminya, namun hal seperti itu tidak Ia dapatkan.
Ian duduk termenung memikirkan segala hal yang telah terjadi dan langkah yang mungkin akan Ia ambil. Ia tidak bisa lagi berada di dalam sebuah hubungan yang tidak sehat.
"Ma.. Kok mata mama sembab?". Tanya Varo yang baru saja menghampiri Ian.
Ian tersenyum tipis dan mengecup kening putra sulung nya. "Iya tadi mata mama kemasukan debu.."
Varo mengamati wajah Ian dengan seksama. "Mama bohong.. Mama pasti habis nangis lagi kan?".
"Gak apa-apa nak.. Adek Kai udah bangun belum? Varo mau ke rumah kakek gak hari ini?".
Mata Varo terlihat berbinar mendengar ucapan Ian. "Mau! Mau ke rumah kakek, Ma! Varo bangunin dek Kai dulu ya!".
Varo lantas berlari kecil menuju kamar nya. Ian hanya menggelengkan kepala melihat putra sulung nya.
Ian meraih ponsel nya dan menghubungi nomor seseorang. Dalam 3 kali sambungan telfon pun terhubung.
"Kenapa Ian?" Terdengar suara seorang pria di seberang telfon.
"Lo sibuk gak hari ini? Gw boleh minta tolong gak?"
__ADS_1
"Kenapa?Lo perlu bantuan apa?"
"Jemput gw ke Bekasi dong, Riv.. Gw mau ke rumah bokap nih sama anak-anak gw".Ucap Ian pada Rivan salah seorang sahabat nya di huruhara squad dan merupakan sahabat kecil nya.
"Laki lo kemana memangnya?"
"Gak usah bahas dia.. Lo mau bantuin gw atau gak?!". Tanya Ian yang kesal.
"Astaga sewot nih orang.. Lo lagi PMS atau gimana sih hahahhaa.. Gw ke Bekasi aja. Tunggu ya gw mandi dulu habis itu langsung berangka!!". Sahut Rivan di seberang telfon.
"Thank you Rivaaannn!". Ian segera mematikan telfon nya dan melangkah menuju kamar kedua putra nya.
Ia bisa saja memesan taksi online sendiri namun dalam keadaan dirinya seperti sekarang yang belum kembali bekerja dan tabungan nya sudah habis tak bersisa membuat nya berpikir sangat keras jika harus memakai uang nya untuk menyewa taksi dari Bekasi ke Jakarta. Mobil nya di bengkel pun belum pula selesai. Nyebelin semuanya! Ian menggerutu dalam hati.
Dua Jam Kemudian
"Lo mau minggat? Banyak banget bawaan-nya, Yan". Rivan mengerutkan kening melihat tumpukan tas di depan nya.
"Bisa di bilang begitu". Ucap Ian santai.
Rivan melongo. Raut wajah nya terlihat sangat terkejut. "Wait.. Wait.." Ucap Rivan seraya menahan tangan Ian.
Ian menoleh dan menatap Rivan menunggu perkataan selanjutnya dari sahabatnya itu.
"Jadi lo minta gw kesini tuh dalam rangka minggat?! Jadi gw sekarang bakalan bantu bawa kabur bini orang?!". Tanya Rivan terkejut.
Pletak!
__ADS_1
Ian memukul bahu Rivan dengan mainan milik Kai. "Gak usah berisik bisa gak sih mulut lo! Di sini tuh tembok aja bisa bicara tau gak!".
Rivan sontak saja mengamati tembok di sekeliling rumah. "Lo ngawur aja kalau ngomong, Yan. Mana ada tembok bisa ngomong".
"Itu kiasaaaannnn Rivaaan!". Ucap Ian kesal dan di sahuti oleh Rivan yang tertawa keras.
Tak berapa lama kemudian, Ian pun telah selesai merapihkan rumah Ilham. Ia mengedarkan pandangan nya ke seluruh sudut rumah yang telah Ia tinggali selama beberapa tahun. Tak banyak kenangan indah yang terukir di rumah itu melainkan hanya rasa sepi dan kesedihan yang mendalam. Andai saja rumah itu bisa berbicara, pasti lah bisa menggambarkan betapa perih hati yang Ian tahan selama ini namun Ia harus berusaha bersikap baik-baik saja di depan semua orang termasuk kedua orang tuanya.
Sepanjang perjalanan Ian hanya diam membisu. Keriuhan Varo dan Kai yang duduk di kursi belakang pun sama sekali tak mengusik Ian.
Rivan melirik Ian yang sedari tadi hanya diam menatap jalanan walau sebenarnya pikiran nya seperti benang kusut.
"Yan, lo gak apa-apa kan?". Tanya Rivan memecah lamunan Ian.
Ian menoleh pada Rivan. "Riv, pas sampai rumah nanti gw boleh gak di rumah lo dulu.. Jangan turunin barang-barang gw. Anterin aja dulu anak-anak ke bokap gue..."
"Maksud lo gimana, Yan?". Tanya Rivan yang tetap fokus menatap ke arah depan.
"Gw gak mau bokap lihat gw datang dengan setumpuk tas di bagasi mobil lo itu. Pasti langsung di interogasi gw-nya.. Sedangkan gw belum siap.. Gw mau nenangin pikiran gw dulu di rumah lo baru nanti malam gw bicara dengan bokap. Boleh ya?".
Rivan melihat sekilas pada Ian dan tersenyum. "Ngapain lo harus izin untuk santai ke rumah gw? Dulu lo jalan nyebrang ke rumah gw pakai popok aja udah biasa kan?".
Ian memukul kencang bahu Rivan. "Heh itu waktu gue kecil ya! Sialan lo!". Ian memaki Rivan namun dengan tertawa terbahak-bahak.
"Kita tuh sahabat, Yan. Lo bisa andalin gw lah.. Tapi kali ini lo harus cerita ke gw. Gw gak mau kayak si Rio yang ngomel-ngomel sendiri tiap kali dia kebingungan sama masalah apa yang lo hadapi". Rivan menoleh pada Ian dan di angguki oleh wanita 2 anak tersebut.
......__________......
__ADS_1
Kecup hangat dariku!😘