
Malam Hari
Ian yang baru saja selesai mandi segera turun ke lantai bawah untuk bergabung makan malam bersama dengan keluarga. Tepat saat Ia sedang menuju ke ruang makan, Ia berpapasan dengan Varo, putra sulungnya.
"Mama, kok turun? kata nenek mama lagi gak enak badan". Tanya Varo.
Ian mengerutkan kening. "Gak enak badan? Mama sehat-sehat aja kok".
"Beneran? Mama gak bohong?".
Ian mengulas senyum gemas seraya mencubit pipi Varo. "Kamu lihat kan mama masih segar begini. Masih bisa cubit kamu nih.."
Varo mengaduh dan segera berlari menjauh. Ian hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum.
Di ruang makan terlihat kedua orang tua dan adik-adik serta kedua anak Ian sudah duduk dengan rapih. Ian menghampiri mereka semua dan segera duduk. Berbagai macam makanan sudah tersedia di atas meja. Ian mengamati terdapat ayam goreng, empal paru, udang goreng, sayur asam, bakwan jagung dan juga sambal goreng. Sontak saja Ia menelan ludah. Makanan sunda seperti itu adalah menu favoritnya.
Acara makan malam pun berjalan dengan hening. Hanya denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring yang terdengar. Ian makan dengan lahap. Sungguh Ia tak peduli dengan aturan makan yang selama ini Ia anut jika berhadapan dengan menu makanan favoritnya!.
Satu jam kemudian makan pun telah usai, mereka semua masih setia duduk di ruang makan. Seperti biasa Imran dan Dewi menanyakan kegiatan masing-masing anaknya selama sehari penuh di luar.
Ian hanya mendengarkan berbagai cerita dari ketiga adik nya. Inilah kebiasaan yang di tanamkan oleh kedua orang tua nya sejak kecil. Saling berbagi masalah dan membagi keluh kesah di dalam keluarga adalah kunci utama yang harus selalu di ingat.
Imran menatap Ian yang sedari tadi hanya diam. "Kamu nanti ke ruang kerja papa ya".
Ian menatap Imran dan mengangguk.
Ruang Kerja
Bik Sum terlihat membawa nampan yang berisi dua cangkir teh chamomile ke dalam ruang kerja dengan 1 toples kue kering sagu keju yang Ian tau itu adalah buatan Dewi, mama nya.
"Di minum Pak, Non.. Ini Bu Dewi yang minta saya bawa ke sini. Maaf kalau ganggu ya.." Ujar Bik Sum menatap Imran lalu beralih pada Ian.
__ADS_1
Ian mengulas senyum manis. "Gak ganggu lah, Bik. Makasih ya.."
Bik Sum pun mengangguk kan kepala dan segera pamit keluar ruangan.
Ian segera mengambil secangkir teh chamomile nya dan menyeruput nya perlahan. Rasa hangat menjalar di kerongkongan ibu dua anak itu. Teh Chamomile yang dikenal bermanfaat untuk memberikan rasa nyaman dan tenang sepertinya benar-benar Ian rasakan. Ian menghirup aroma teh tersebut dan memejamkan mata.
Tingkah Ian tentu saja tak lepas dari pengamatan Imran. Pria paruh baya yang terlihat masih gagah di usianya sedikit mengulas senyum di bibir meluhat putri sulung nya.
"Bagaimana rencana kamu selanjutnya setelah ini?".
Ian membuka matanya dan melihat ke arah Imran. Ia menaruh cangkir teh nya ke atas meja dan menghela napas pelan.
"Aku juga gak tau, Pa. Yang aku pikirkan saat ini hanya kerja, kerja dan kerja demi masa depan kedua anakku". Ujar Ian.
"Pengacara mu telah melaporkan hasil persidangan tadi pada papa....." Imran menggantungkan ucapan nya seraya menatap intens wajah putri sulung nya.
Ian tersenyum tipis.
Ian mengangguk.
"Papa tahu ini tidak mudah kamu lalui, namun kehidupan harus terus berjalan. Kehidupan akan selalu memberikan berbagai hal mengejutkan dan tidak akan pernah bertanya apakah kamu siap atau tidak. Di situlah proses pendewasaan seseorang. Dari berbagai masalah yang kamu hadapi, itu akan membentuk kamu menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya...."
Ian yang mendengar penuturan Imran pada nya sontak saja menangis. Dada nya terasa sesak. Tangisan nya terdengar sangat pilu dan menyedihkan.
Imran menghampiri putri sulung nya dan memeluk nya dengan lembut. Pelukan seorang ayah pada putri nya yang benar-benar memberikan ketenangan dan kedamaian. Seorang lelaki yang tidak akan pernah menyakiti hati nya sampai kapan pun. Itulah Imran.
"Jangan menahan berbagai emosi yang ada dalam hati kamu. Keluarkan lah. Teriak lah jika kamu perlu. Menangis lah sepuasnya jika itu membuatmu tenang setelahnya. Jangan bersikap seolah-olah kamu baik-baik saja melewati semua ini. Tidak ada yang akan berani menghakimi kamu seandainya mereka tau apa yang sudah kamu alami bertahun-tahun. Jika ada pun, maka papa yang akan menjadi pelindung kamu".
Ian semakin mengeratkan pelukan nya pada Imran dan menangis keras. Ia meluapkan segala nya di hadapan Imran.
"Maafin aku, Pa. Ini ganjaran aku karena gak mendengarkan segala ucapan papa dulu. Aku......."
__ADS_1
Ian sesenggukan tak melanjutkan ucapan nya. Tangan nya terus mengusap air mata yang terus mengalir membasahi wajah. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan berusaha untuk menguasai dirinya kembali.
"Aku merasa sangat hina. Aku merasa sangat malu dengan papa karena akhirnya seperti ini. Aku udah mencoba dan terus mencoba........" Ian menatap Imran dengan sorot mata sendu.
"Ketika aku flashback kembali ke perjalanan yang sudah aku lewati, aku selalu bertanya-tanya. Bagaimana bisa gak ada yang berubah? Aku sudah menghabiskan banyak tenaga, waktu dan mengorbankan banyak sekali hal. Tapi kenapa semuanya terasa sia-sia?".
Imran mengulas senyum di bibir seraya menatap intens manik mata putri sulung nya.
"Tidak ada yang pernah sia-sia. Semua itu membuat kamu menjadi orang yang lebih tangguh. Berterima kasih lah pada mereka yang sudah memberikan berbagai pelajaran hidup yang nyata. Selama ini papa hanya mengajari kamu bagaimana cara menghadapi kehidupan, dan mereka yang menyakiti hati kamu adalah sebenar-benar nya lahan ujian kamu dalam kehidupan".
Ian mengangguk samar. Ia setuju dengan apa yang baru saja di utarakan oleh Imran. Ian menyeka air mata di pipi. Ia menatap Imran dengan senyuman tulus.
"Makasih papa selalu ada untuk aku. Walau aku membangkang, aku mengecewakan papa, tapi papa masih selalu mengulurkan tangan untuk melindungi aku".
Imran mengusap rambut putri sulung nya yang sudah menjadi seorang ibu. Bagi seorang ayah, setua apapun putri nya, Ia akan selalu menjadi gadis kecil di mata nya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Tidak mungkin kamu hanya terus memikirkan pekerjaan". Ujar Imran.
Ian menggelengkan kepala nya pelan. "Aku belum tahu pasti akan berjalan ke arah mana. Saat ini yang ada di pikiran aku hanya fokus bekerja dan mengembangkan bisnis yang sudah berjalan".
Hening. Imran tak menjawab. Tatapan pria paruh baya yang masih gagah itu menatap lekat ke arah putri sulung nya seakan memikirkan sesuatu.
"Menikah lah dengan Rio tiga bulan dari sekarang...." Ucap Imran tenang.
Ian sontak saja menatap Imran dengan raut wajah terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
......_______________________......
Happy weekend!๐
Fyi, narsum memang ketok palu akhir oktober. 3 bulan setelah oktober bulan apa yaaa๐
__ADS_1
Apakah dia akan mengikuti ucapan ayahnya?!๐