
Di pagi hari yang sama dan masih berada di apartemen Rio, setelah Ian memberikan jawaban pada pria itu, kini keduanya sedang duduk di ruang tengah sembari sarapan bersama.
Rio tak henti-hentinya menatap ke arah Ian. Sebuah senyuman dan raut wajah bahagia sangat terpancar jelas oleh siapapun yang melihat.
"Nanti lo bisa diabetes kalau terus menerus lihatin gw". Seloroh Ian seraya mengunyah roti isi cokelat miliknya.
Rio mengulum senyum. "Gw hanya memastikan ini bukan mimpi. Baru bangun tidur dan tiba-tiba melihat lo ada di sini. Aaaaahh.. Kalau ini mimpi, gw gak mau bangun lagi".
Ian dengan cepat mencubit lengan Rio dengan cukup keras.
"Aaawwww! Sakit!". Rio mengaduh kesakitan karena Ian memelintir kulit nya.
"Jelas kan sakit nya? Jadi ini bukan mimpi". Ucap Ian.
Rio terdiam. Tubuh nya bergeser menghadap ke arah Ian. Manik matanya menatap lekat ke arah Ian yang masih asik mengunyah.
"Apa alasan lo setuju untuk menikah dengan gw? Bukan karena paksaan bokap lo kan?". Tanya Rio serius.
Ian menaruh roti nya yang belum habis ke atas piring. Ia mengambil tisu dan mengelap bibir nya dengan pelan.
"Bokap gw gak maksa apapun. Keputusan gw murni dari diri gw sendiri". Ucap Ian seraya menoleh pada Rio.
"Selama satu minggu gw benar-benar memikirkan semua resiko yang mungkin ada dan semua kebaikan nya. Lo bisa menerima gw apa adanya dan semoga tetap seperti itu.. Lo mencintai gw tanpa syarat walau lo tau kondisi gw udah jauh berbeda dari 10 tahun yang lalu. Lo juga gak pernah memaksa gw untuk cerai dari Ilham walau lo tau kondisi nya seperti apa....."
"Hanya saja... Gw berharap semoga keputusan gw kali ini gak akan membawa gw ke jurang yang sama.." Ucap Ian pelan.
Rio meraup kedua pipi Ian dengan telapak tangan nya. Keduanya saling bertatapan.
"Gw memang gak bisa menerka apakah ada masalah atau tidak di dalam pernikahan kita nanti. Tapi gw bisa janji kalau apapun yang terjadi, tetap lah genggam tangan gw karena gw pun gak akan pernah lagi melepas tangan lo. Gw udah berjanji pada diri gw sendiri dan bahkan sama Tuhan jika gw akan selalu membuat lo bahagia sampai lo lupa bagaimana rasanya sedih". Ucap Rio seraya menatap lekat manik mata Ian.
Wajah Ian yang di tangkup oleh kedua telapak tangan Rio membuat bibir nya sedikit manyun. Hal itu tak lepas dari penglihatan Rio.
Rio mengecup lembut bibir Ian.
Satu kali...
__ADS_1
Dua kali...
Tiga kali...
Tak henti pria itu terus saja mengecup bibir Ian dengan gemas.
"Gak bisa besok aja ya kita nikah?". Ucap Rio mengulum senyum.
Ian mendorong pelan tubuh Rio. "Gw baru cerai kalau lo lupa!".
Rio menggaruk tengkuk leher nya dan mendesah pasrah.
"Lo mau pesta pernikahan yang seperti apa nanti?". Tanya Rio tiba-tiba setelah keduanya sempat terdiam.
Ian mengedikkan bahu. "Gak kepikiran sama sekali mau buat pesta. Akad aja gimana? Yang penting sah".
Rio sontak saja menolak keras. "No.. No.. Harus pakai pesta dong sayang. Gw mau kasih yang terbaik buat lo!".
Ian menggelengkan kepalanya pelan. "Yooo.. Gw malu. Gw tuh udah punya 2 anak dan janda pula. Apa kata orang kalau pernikahan gw yang kedua kali di adain secara mewah? Gak lah! Lebih baik akad nikah aja dan hanya undang kerabat dan keluarga. Gw juga gak mau membuat lo malu". Ian menolak usulan Rio.
"Gw gak suka lo bicara seperti itu". Ucap Rio menatap tajam Ian.
"Gw sama sekali gak malu lo yang menjadi calon istri gw! Kenapa lo harus mikirin apa kata orang sih? Bahagia gw gak di tentuin orang lain. Justru gw mau menunjukkan pada semua orang kalau istri gw adalah wanita yang hebat!". Ujar Rio yang tak terima dengan pemikiran ian.
Ian menghela napasnya seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Terserah lo aja lah..." Ucap Ian akhirnya.
Tiga hari kemudian
Rio dan Ian terlihat sedang berdebat di sebuah Wedding Organizer. Keduanya kini mulai mempersiapkan satu per satu persiapan untuk pernikahan mereka.
Rio ternyata masih ingat betul bagaimana konsep pernikahan impian Ian. Konsep pernikahan internasional di mana semua tamu undangan di sediakan meja dan satu per satu makanan akan di hidangkan oleh para waitress bukan prasmanan seperti pada umumnya. Dan menu makanan pun tentu saja berbagai macam dari appetizer sampai dessert di sediakan.
__ADS_1
"Momi dan Papi akan ke Jakarta minggu depan sayang. Mereka akan membantu persiapan kita". Ujar Rio saat keduanya sudah berada di jalan pulang.
Ian mendesah pelan. "Gw gak enak sama kedua orang tua lo, Yo".
Rio melirik Ian. "Kenapa?".
"Karena putra nya yang tampan malah menikah sama janda yang punya 2 anak hehehee". Ian terkekeh.
Bibirnya memang tersenyum namun hatinya tak bisa di pungkiri sedang berkecamuk. Ia takut jika Tante Gaby dan Om Gazy tidak akan benar-benar menyetujui dirinya bersanding dengan Rio. Mungkin dahulu mereka setuju, namun bagaimana jika sekarang? Mengingat keadaan nya sudah tak lagi sama jika di lihat dari sudut pandang manapun.
Rio menggenggam tangan Ian dengan tangan nya yang bebas. Pria itu menoleh sebentar pada Ian dan memberikan senyuman hangat.
"Kedua orang tua gw setuju sayang. Apapun keputusan gw, mereka akan terima". Ujar Rio menenangkan Ian.
Ian tak menjawab. Bibirnya membisu dan Ia memandang suasana jalan dari jendela mobil.
Esok Hari
Ian menghirup udara pagi yang sejuk di tengah lapangan hijau yang membuat siapapun merasakan ketenangan. Pagi-pagi sekali Ian pergi menemani Rio untuk bermain golf.
Tee time (Istilah dalam dunia golf yang artinya waktu pukulan bola pertama) yang di pilih oleh Rio dengan beberapa rekan nya mulai pukul 05.30 pagi. Pria itu bersikeras Ian harus menemani nya bermain. Mau tak mau Ian pun mengiyakan permintaan Rio.
Saat giliran Ian memukul bola, Rio mengambil posisi berada di belakangnya. Pria itu merogoh ponselnya yang berada di saku celana lalu dengan cepat memfoto Ian secara candid, sudah seperti kebiasaan nya menjadi penguntit untuk Ian!
Rio melihat hasil foto yang di ambilnya dan mengulum senyum. Ia lalu membuka sebuah aplikasi media sosial dan mempostingnya di sana. Sikap pria itu benar-benar sangat terbalik dari pikiran Ian. Rio sangat ingin menunjukkan pada seluruh teman-teman nya maupun kolega nya bahwa Ia bangga bersanding dengan Ian. Ia bahagia memiliki seorang Ian!
Rio memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana namun tak lama wajah nya merengut tak suka. Ia melihat keakraban Ian dengan para rekan nya. Terlihat jelas di mata nya jika beberapa rekanan yang bergabung dengan nya pagi ini berusaha mendapatkan perhatian Ian. Rio lalu melihat sebuah tawa kecil terbit di wajah Ian di ikuti oleh yang lain. Radar kelelakiaan nya muncul. Ia merasakan tanda bahaya berbunyi nyaring di otaknya.
Sial... Harusnya gw gak usah bawa Ian ke sini!
......_______________......
Masih mau di lanjut gaaakkk kisah iniii?
__ADS_1
(reviewnya lama bgt sumpaaahh😭😭 dr pagi masih direview aja sampe siang gini😤👿)