
Setelah menyelesaikan jam mata kuliah, Zeline segera keluar dari gedung kampus menuju pelataran parkir dimana Joe bodyguardnya merangkap supir sudah menunggu, ponselnya tidak berhenti berdering.
"Hallo... Mami?" sapa Zeline hangat
"Hallo sayang... Bisa ke rumah Mami sekarang?"
"Emm... " Zeline melihat arloji ditangannya.
"Bisa Mi, ada apa?"
"Kesini aja dulu bentar ya, kamu ada supir?"
"Ada Mi... Aku pergi sekarang ya...," Zeline mengakhiri panggilan teleponnya.
Gadis itu berlari kecil menuju pos satpam dimana Joe sedang menyeruput kopinya bersama Mang Udin tukang parkir kampus.
"Joe... Ayo!" Zeline memiringkan kepalanya sedikit kearah mobil memberi kesan agar Joe bergegas.
Joe berlari menuju mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Nona Mudanya itu.
"Kemana Nona?"
"Ke rumah Tuan Zachery, cepet!"
"Siap Nona... "
Joe segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah salah satu orang terkaya di Asia Tenggara itu.
( Anin... Jadwal aku apa hari ini? Mami suruh aku ke rumahnya) - Zeline
(Ga ada, kamu free sampe besok) - Anin
(Besok ngapain?) - Zeline
(Pulang kuliah, ada pemotretan dan wawancara majalah remaja) - Anin
Zeline tidak membalas pesan terakhir Anin, ia lalu mencari nomor kontak Mama Rena dan membuka room chatnya.
(Ma... Pulang kuliah, Zeline ke rumah Papi Zach... Mami Azuri suruh Zeline kesana, kayanya Zeline pulang lewat makan malam Ma... 😔) - Zeline
(Kenapa kamu bersedih sayang? Mama sudah tau, tadi Mami Azuri telepon Mami... Selamat bersenang-senang sayang) - Mama Rena
Menghela napas,
(Oke Ma...) - Zeline
Selang beberapa menit Zeline sampai di rumah mewah milik Papi Zach, Kepala pelayan membukakan pintu mobil untuk Zeline saat Joe berhenti tepat di depan pintu besar menuju ruang tamu.
"Terimakasih... " ucap Zeline sedikit menunduk kepada Hilda, wanita paruh baya itu.
Hilda menunduk dan tersenyum ramah, lalu mengetuk kaca jendela depan. Joe segera membuka kaca tersebut.
"Pulang lah... Nona Zeline aman bersama kami, Tuan King yang akan mengantar Nona Zeline pulang" ucap Hilda pada Joe.
Tubuh Zeline melemas, wajahnya tidak bersemangat mendengar perkataan Hilda. Malam ini ia akan berdua kembali di dalam mobil dengan pria yang sangat tidak ia sukai itu.
Tapi Zeline anak penurut, tak pernah sekalipun ia menolak permintaan orang tua atau mengecewakannya.
"Silahkan Nona... " Hilda merentangkan tangan menuju pintu besar di depannya.
Zeline melangkah dengan lesu masuk kedalam rumah bercat putih itu. Suara cempreng Mami Azuri menyambut Zeline.
"Selamat datang sayang... " Mami Azuri menghampiri Zeline lalu memeluknya hangat, dan kecupan sayang Mami Azuri mendarat di pipi kanan dan kiri Zeline.
"Ada apa Mami meminta Zeline kemari?" tanya Zeline sambil berjalan beriringin masuk kedalam rumah dan masuk lebih dalam hingga keduanya berhenti di ruangan besar yang merupakan dapur di rumah tersebut.
__ADS_1
"Malam ini Grandma Ratna dan Grandpa Matthew akan datang, kata Mama Rena kamu pinter masak... Zeline mau bantu Mami masak?"
"Boleh Mi... " dengan tersenyum Zeline mengiyakan permintaan calon mertuanya.
"Oke... Kalau gitu kamu pake celemek dulu ya sayang" Mami Azuri membantu memakaikan celemek kepada Zeline.
Mendapat perlakuan yang baik dari Mami Azuri membuat gadis itu merasa bersemangat dan nyaman berada dalam keluarga konglomerat itu.
"Mami ga kerja?" tanya Zeline disela memotong sayuran.
"Mami sengaja pulang lebih awal untuk masak, Grandma Ratna lebih suka masakan rumah... Walau pun Grandma tau Mami ga jago masak" Mami Azuri menjulurkan lidahnya.
"Kata Mama Rena, Zeline pinter masak ya?" imbuhnya.
"Aah... Ga juga Mi.. " Zeline merendah.
Drt.. Drt...
Ponsel Mami Azuri berdering.
"Zeline tolong lanjutin ya, Mami angkat telepon dulu ini penting"
"Iya Mi... " Zeline menganguk.
Melihat bumbu dan bahan yang ada didepannya, Zeline tau Mami Azuri akan memasak apa.
Disana ada dua orang Maid dan satu orang koki yang membantu Zeline menyelesaikan masakannya.
Dengan cekatan Zeline mengolah bahan tersebut dan sesekali meminta Maid dan Koki membantunya.
Zeline tidak tau bahwa pria paruh baya yang membantunya itu adalah seorang Koki keluarga yang saat itu diminta Mami Azuri untuk mengawasi Zeline.
Untung bakat memasak Mama Rena menurun kepada Zeline, sehingga Zeline lulus dengan sempurna dalam tes diam-diam yang dibuat Mami Azuri ini.
"Mi... " Panggil King seraya memeluk dan mencium pipi Maminya dari belakang.
"Astaga King!! Kamu ngagetin Mami tau, kalau Mami jantungan gimana?" Azuri melepas tangan King yang melingkar dipinggangnya.
King hanya terkekeh sudah berhasil melihat Maminya sewot karena terkejut.
"Mami ngapain disini ngintip-ngintip kaya maling?"
"Ituuuu, liat! Calon istri kamu lagi masak buat makan malem, sebentar lagi Grandpa Matthew dan Grandma Ratna akan datang dan makan malam disini!" tutur Mami Azuri seraya mendudukan bokongnya di sofa.
King ikut duduk disofa disamping Mami Azuri.
"Kita kan punya Koki pribadi Mi, kenapa harus suruh Zeline yang masak sih? kalau dia kasih racun gimana? "
"Ya Tuhan, King... Gadis cantik, lugu dan baik hati seperti itu mana kepikiran buat meracuni kita! Kamu itu ada-ada aja!" Mami Azuri memukul kepala King pelan dengan bantal kursi.
"Ssshh... Aww, Mami!!" pekik King mengusap kepalanya.
"Kamu kenapa jam segini udah pulang?" tanya Mami memicingkan mata.
"Laaaah, kan Mami yang telepon Elgi tadi nyuruh aku cepet pulang, Mami ini gimana sie? Makanya abis rapat tadi aku cepet-cepet pulang!"
"Oh iya.. Mami lupa" Mami Azuri tersenyum memamerkan gigi putihnya.
"Mami mau telepon Grandma Ratna dulu ya, kamu mandi dulu gih!" Mami Azuri beranjak mengambil ponselnya lalu berjalan menuju taman belakang.
King memyandarkan tubuhnya disandaran sofa, kedua tangannya terlipat kebelakang menopang kepalanya. Dari tempatnya duduk, mata King bisa menjangkau Azuri yang sedang sibuk memasak.
Sesekali gadis itu mengelap peluh didahinya, bibir mungil Zeline sedikit tersenyum seperti menikmati apa yang sedang dikerjakannya.
Koki yang mengawasi dan membantu Zeline, sedikit melirik kearah King disebrang ruangan. Koki itu diam-diam mengangkat jempol dan mengedipkan satu mata, memberi kesan bahwa Zeline hebat dalam memasak.
__ADS_1
King tersenyum simpul membalas pesan Koki yang sudah 20 Tahun bekerja di keluarganya karena Mami Azuri memang tidak pandai memasak.
Menghela napas, King beranjak dari duduknya melangkahkan kaki hendak menaiki tangga menuju kamar.
Mata King terpaku pada ikat rambut Azalea yang tegeletak di meja bundar didekat pegangan tangga.
Pria itu menghentikan langkah, memutar tubuh dan tangannya terjulur mengambil ikat rambut tersebut. Tiba-tiba seringai terbit diujung bibirnya.
King jenjang King kini melangkah menuju dapur, kedua Maid yang melihat sedikit membungkukan tubuhnya lalu mundur sedikit menjauh dari Zeline karena dirasa tujuan Tuan Mudanya memasuki dapur adalah menyapa Zeline.
Perhatian Zeline masih belum teralihkan, gadis itu masih sibuk memasak. Melihat wajah cantik dengan celemek ditubuhnya sedang asyik memasak sambil sedikit bersenandung, entah kenapa hati King seperti bergetar hebat bahkan buku kuduk pria itu berdiri.
Tapi itu semua tidak mengurungkan niat untuk menggoda gadis cantik itu.
Kini King sudah tepat berada dibelakang Zeline, kedua tangan King mengumpulkan rambut Zeline lalu mengikatnya.
Zeline mematung beberapa saat, terlihat dari pantulan kaca jendela, seorang pria yang sangat ia benci sedang mengikat rambutnya, Zeline juga bisa melihat ketiga orang yang membantunya tadi sedang menikmati pemandangan romantis ini tanpa berkedip.
Ingin sekali Zeline memukulkan spatula yang dipegangnya kekepala King, tapi ia ingat sedang berada dimana dan skenario sandiwara yang di tuturkan oleh Tuan Nicholas masih terngiang dan dalam ingatannya.
Zeline melanjutkan aktifitas yang tadi sempat terhenti, walau kini tangannya gemetar karena King mulai melingkarkan tangan dipinggang rampingnya.
King dengan susah payah menelan salivanya saat melihat leher jenjang Zeline yang putih mulus, ingin sekali ia membuat maha karya indah berwarna merah disana.
Zeline masih melanjutkan memasaknya, semua bahan sudah disiapkan sehingga ia tinggal mencampurkan saja di dalam wajan.
Zeline menuangkan sedikit air masakan dari dalam wajan ke telepak tangannya hendak mencicipi masakan itu tapi seketika King menarik tangannya dan menjilat telapak tangan Zeline membuat mata gadis itu melebar sempurna dengan mulut menganga.
"Enak... " ujar King
Zeline langsung menarik tangannya dari tangan King, ia melepaskan satu tangan King yang masih melingkar dipinggangnya lalu mencuci tangan itu di wastafel.
Gadis itu menggosok telapak tangannya yang tadi King jilat dengan kasar bahkan sangat kasar hingga membuat telapak tangan itu memerah.
Zeline tidak sudi telapak tangannya dijilat oleh pria menyebalkan itu, lidah King pasti sudah koyor dengan menjilat tubuh bermacam wanita, pikirnya. Jantung Zeline yang sedari tadi berdegub kencang kini makin menambah ritmenya ditambah dengan kekesalan yang Zeline rasakan.
King menahan tawanya lalu ia kembali mendekatkan tubuhnya dengan Zelin, tangannya menjulur disamping tubuh Zeline menopang pada meja kitchenset.
"Mau ngapain lagi sih playboy cap kampak ini?" gerutu Zeline kesal.
Zeline selalu waspada bila berdekatan dengan King karena pria itu selalu berbuat hal diluar nalar yang sukses membuat Zeline kesal setengah mati.
Tiba-tiba
Cup.
King mencium tengkuk Zeline dalam dan lama, Zeline memejamkan matanya lalu menarik nafas.
Sesuatu yang kenyal dan lembab mencubit lembut tengkuknya membuat perasaan aneh terasa hingga menggelitik perutnya, seperti ada puluhan kupu-kupu terbang dalam perutnya.
"King... Lepas!! Ga enak diliat yang lain" rengek Zeline dengan suara manja.
Bukan bermaksud untuk menggoda King tapi memang Zeline tidak bisa menghilangkan karakternya itu.
Seketika ketiga orang yang melihat adegan romantis itu memalingkan wajah.
Sedangkan King melepaskan kungkungannya dan berlalu meninggalkan Zeline dengan jantung yang masih berdetak menggila karena ulah pria itu.
Zeline mematikan kompor, ia sedikit membukuk dengan satu tangan menahan di meja kitchenset.
Ia membuang nafasnya dari mulut beberapa kali seperti sudah berlari kencang sambil menenangkan irama jantungnya.
"Cowo sialan,kurangajar, playboy cap kampak! Aaarrrggghhhh" batin Zeline mengeluarkan sumpah serapahnya.
King dengan santai dan senyum lebar menaiki tangga sambil menarik dasinya melangkah menuju kamar.
__ADS_1