
Sudah satu minggu sejak Ian di 'usir' oleh Imran dari rumah dan tinggal di apartemen Rio. Dalam tiga hari pertama kegiatan nya hanya mengurung diri dalam apartemen, namun di hari ke empat Ia mulai kembali bekerja di perusahaan yang sama dengan Rio setelah pria itu mengurus segala hal nya di bagian HRD. Tentu saja pria itu masih menemparkan diri nya sebagai asisten. Rio berdalih bahwa posisi itu adalah posisi yang paling cocok untuk Ian. Ian pun bahkan tidak tau bahwa Rio ternyata sudah naik jabatan dan otomatis membuat posisi nya pun naik.
Hari ini Ia sedang jadwal WFH, jadi jam 7 pagi pun Ia masih bisa santai memakai piyama. Rambut nya di gelung asal ke atas. Ia membuka tuas fingerprint lock di pintu dan menempelkan ibu jari nya pada alat tersebut. Tak lama kemudian pintu kamar nya pun terbuka. Ian mengambil handuk nya yang berada di dalam lemari dan segera keluar untuk mandi pagi.
Terdapat 2 kamar mandi di apartemen Rio. Ketika Ian hendak menggunakan kamar mandi yang berada di dekat kamar Rio, yang tentu itu adalah kamar mandi utama yang terdapt bathtub di dalam nya, Ian berpapasan dengan Rio yang baru saja keluar kamar nya. Ian memindai tampilan Rio yang sudah rapih dan harum.
"Mau kemana?". Tanya Ian seraya menatap Rio dengan seksama.
"Gak kemana-mana. Kita kan ada zoom meeting jam 8.30. Lo lupa?".
"Gw ingat.. Tapi itu masih satu setengah jam lagi sih.. Gw aja baru mau mandi nih.." Ucap Ian.
Rio menatap tampilan Ian yang hanya memakai piyama berbahan satin dengan rambut yang tergelung asal membuat anak-anak rambut nya menjuntai kemana-mana. Piyama yang di kenakan Ian bukan lah setelan piyama celana. Melainkan piyama tersebut model daster mini dengan tali spagheti. Tentu saja Ian tutup dengan jubah yang cukup transparan dari bahan yang sama dengan dasternya sepanjang selutut dan di ikat dengan erat hingga menutupi tubuh nya.
Rio meneguk ludah melihat penampilan Ian yang di nilai sangat menggoda iman nya. Pria itu pun mendorong Ian untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Lo cepat mandi deh sana.. Masuk.. masuk.." Ucap Rio sambil mendorong pelan tubuh Ian ke dalam kamar mandi.
"Ih apa-apaan sih, Yo!". Omel Ian seraya menoleh ke belakang.
"Cepat mandi! Tampilan lo sekarang mengganggu kejiwaan gw!". Sahut Rio.
Ian pun mengerutkan kening nya lalu tak lama kemudian Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.
Sial.. Sial.. Sial! Makin dewasa dia malah makin menggoda iman gw! Rio mengusap wajah nya kasar lalu melangkah menuju dapur untuk mengambil minum.
Siang hari
Rio baru saja selesai melakukan zoom meeting dengan tim nya. Ia hanya perlu mengarahkan beberapa hal terkait perkembangan beberapa proyek yang sedang berjalan. Pandemi membuat segala hal terancam menjadi tertunda namun perusahaan tempat nya bekerja bergerak di bidang energi yang mana akan selalu berjalan dan di butuhkan oleh masyarakat.
Rio menutup laptop nya. Pria itu bergeser sedikit ke arah Ian yang duduk di samping nya. Ian yang masih berkutat menatap layar laptop nya pun menoleh.
__ADS_1
"Kenapa?". Tanya Ian.
Rio menatap layar laptop Ian. Pria itu mengamati hasil pekerjaan Ian dengan cermat. Bagaimanapun Rio merupakan atasan nya dan Ian memang banyak meminta arahan pada Rio mengenai tugas nya. Dengan senang hati tentu Rio membantu Ian dalam pekerjaan nya.
"Gw mau pergi sebentar. Lo makan siang sendiri gak apa-apa kan?". Ucap Rio masih menatap ke arah layar laptop
"Mau kemana memang nya?". Ian mengerutkan kening.
"Ada perlu sebentar. Mungkin sore udah pulang".
Ian mengangguk paham. "Yaudah pergi aja. Nanti gw mau makan siang di mall aja".
Rio pun beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian pria itu keluar sudah memakai celana panjang warna khaki di padu dengan polo shirt berwarna hitam. Ian menatap sekilas penampilan Rio dan tersenyum tipis. Pria itu pun berpamitan pada Ian dan segera pergi meninggalkan apartemen
Di sepanjang perjalanan, pikiran Rio berlari kesana kemari. Ia terus memikirkan hal apa saja yang mungkin akan Ilham bahas dengan nya.
Ya. Rio sedang menuju ke Bekasi. Ilham tiba-tiba menghubungi nya semalam dan meminta pria itu untuk datang ke rumah nya. Tanpa pikir panjang Rio mengiyakan ajakan Ilham.
Belum sempat Rio memencet bel, Ilham sudah keluar dari dalam rumah. Pria itu membukakan pagar dengan raut wajah yang datar. Begitu juga Rio. Keduanya hanya memasang wajah datar tanpa senyum. Ini adalah pertemuan pertama kalinya lagi untuk mereka setelah insiden di Bar.
Rio mengekori Ilham masuk ke dalam rumah. Ia duduk di sofa ruang tamu. Ilham mengambil segelas air minum dan di tempatkan nya di atas meja. Rio hanya mengangguk tipis.
"Ada apa lo minta gw kesini?". Tanya Rio tanpa basa basi
"Pulangin Ian ke gw". Sahut Ilham menatap Rio dengan tatapan tajam.
"Maksud lo apa?".
"Gw tau Ian ada di apartemen lo. Dia tinggal di sana kan?". Tanya Ilham.
"Lo tau dari mana?".
__ADS_1
"Gw ke rumah mertua gw untuk jemput istri dan anak-anak gw. Tapi gw malah gak melihat batang hidung nya di sana. Mama mertua gw hanya bilang Ian tinggal di hotel sedangkan anak-anak gw dia tinggal".
"Dia tinggal di apartemen lo kan?". Lanjut Ilham memastikan lagi.
"Kenapa lo bisa berspekulasi seperti itu?".
"Kemana lagi dia akan lari kalau bukan ke lo dan sahabat-sahabat nya? Tapi gw yakin dia ada di tempat lo". Ucap Ilham.
"Dia memang ada di tempat gw". Ucap Rio menatap ke arah Ilham.
Ilham menatap tajam manik mata Rio. Kedua pria itu saling bertatapan. Aura tak bersahabat sangat terasa di antara mereka.
"Maling teriak maling.. Lo sampai menghajar gw karena gw selingkuh dari Ian, ternyata lihat sekarang....."
"Lo malah diam-diam bawa istri orang ke apartemen lo. Apa lo masih puas dengan istri gw? Dia pasti gak sama dengan yang terakhir kali lo sentuh kan? Tubuh nya udah melahirkan 2 anak gw". Ujar Ilham tersenyum remeh ke arah Rio.
Rio mengepalkan tangan mendengar penuturan Ilham yang menurutnya amat merendahkan Ian. Ia tidak peduli jika diri nya di rendahkan orang lain, namun Ia tidak akan tinggal diam jika ada orang yang merendahkan Ian.
"Sehina itu lo menilai istri lo sendiri? Lo hidup berumah tangga dengan dia selama 9 tahun. Lo pasti sedikit banyak mengenal dia". Ucap Rio.
"Apa yang bisa di lakukan oleh pria dan wanita dewasa dalam 1 ruang tertutup selain berhubungan intim? Apa lagi kalian pernah melakukan nya... hal yang sangat mudah untuk mengulang nya kembali".
Rio segera beranjak berdiri. "Salah besar gw datang ke sini. Gw balik!".
"Bilang ke Ian kalau gw dan dia impas sekarang. Dan gw harap dia pulang kembali ke sini setelah puas bermain dengan lo".
Bugh!
Rio akhirnya memukul Ilham. Ia tak bisa lagi menahan emosi. Raut wajah memerah menahan amarah. Matanya menatap tajam pada pria di hadapan nya saat ini.
......___________......
__ADS_1
Next bentar lagi~~~