Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 100


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Ian mau mengikuti Rio pergi dari rumah kedua orang tuanya. Tentu saja di bantu dengan bujukan dari Dewi. Ia yang sudah tau segala permasalahan yang di hadapi putrinya, meminta Ian untuk menuruti apa yang Imran mau terlebih dulu. Jika hati Imran sudah tenang, maka baru lah bisa di ajak bicara baik-baik kembali.


"Gw mau tidur di mana kalau di usir begini? Kalau tidur di hotel gw gak punya uang banyak kayak dulu, Yo! Gw juga gak tau berapa lama gw di suruh tidur di luar.. Anak-anak gw gak boleh di bawa pula..." Cerocos Ian saat mereka tengah berada di dalam mobil.


Rio yang sedang menyetir merogoh dompet kartu yang berada di celah pintu. Ia membuka nya dan mengambil sebuah kartu debit berwarna hitam lalu memberikan nya pada Ian.


"Nih lo pegang.. Itu dari bokap lo. Dia minta gw untuk kasih ke lo". Ucap Rio melirik sekilas ke arah Ian.


Ian mengamati kartu berwarna hitam di tangan nya dan di bagian belakang terdapat kertas kecil yang di tempel bertuliskan 4 deret angka yang Ian duga adalah PIN kartu tersebut.


"Bokap lo walau ngusir lo dari rumah untuk sementara sementara, dia masih mikirin lo". Ujar Rio.


Ian menatap Rio dengan tatapan yang amat sedih. "Yooo.. Gw udah ngecewain bokap gw banget kan.. Iya kan?".


"Wajar dia kecewa sebagai orang tua. Bokap lo hanya perlu mencerna segala masalah lo saat ini, Ian. Gw yakin gak akan lama dia biarin lo tinggal di luar". Rio berusaha menenangkan Ian.


Ian menatap kartu debit di tangan nya dan menoleh pada Rio. "Kalau ada ini, berarti gw bisa tidur di hotel".


"Jangan!". Tukas Rio cepat.


Ian memandang Rio yang tetap fokus menatap ke depan. "Kok jangan sih? Bokap gw kasih ini pasti untuk biaya gw sewa hotel".


"Tidur di apartemen gw aja dari pada buang-buang uang di hotel. Apartemen gw ada 3 kamar, Ian".


"Gak mau. Sama aja numpahin bensin ke dalam kobaran api kalau gw tidur di apartemen lo".


"Kok gitu? Memangnya kenapa?". Tanya Rio.


"Bokap gw lagi marah karena masa lalu kita, di tambah lagi masalah rumah tangga gw. Apa lo gak mikir kalau dia tau gw malah tidur di apartemen lo bisa makin ngamuk bokap gw?".


Rio diam sejenak.


"Pokoknya lo tidur di apartemen gw. Titik!". Ucap Rio tak bisa di bantah.


"Yoooooo.. Lo sadar gak sih gw sekarang masih istri orang! Mana mungkin gw tidur di tempat cowok lain!". Ucap Ian memutar bola matanya kesal.


"Anggap aja apartemen gw kost-kost'an. Nanti gw pasang fingerprint di pintu kamar supaya lo merasa aman gak gw terkam. Puas?". Ucap Rio sarkas.

__ADS_1


Ian menyenderkan tubuh nya di kursi penumpang. "Whatever, Yo". Ucap Ian akhirnya mengalah.


Sesampai nya di apartemen, Rio benar-benar membuktikan ucapan nya. Pria itu langsung menghubungi jasa pasang fingerprint lock di pintu kamar yang akan Ian tempati selama mengungsi di apartemen nya.


Ian merebahkan diri nya di sofa, memejamkan mata sejenak. Ia merasa benar-benar lelah. Hari ini bertubi-tubi hal yang tidak Ia duga terjadi. Pikiran nya sebenarnya sangat kalut memikirkan bagaimana nasib nya ke depan. Ia seperti terperangkap tidak bisa bergerak kemanapun.


"Jangan ngelamun..." Sahut Rio duduk di sebelah nya seraya memberikan sebotol air mineral.


"Gimana gw gak ngelamun. Kepala gw rasanya mau pecah..." Ucap Ian seraya membuka tutup botol air mineral yang di berikan Rio.


Rio menyunggingkan senyuman tipis.


"Kalau lo mau tidur sebentar, tidur aja dulu di kamar gw ya. Sebentar lagi orang yang mau pasang fingerprint lock di kamar lo datang". Sahut Rio.


Ian beranjak berdiri. "Ya udah gw rebahan dulu deh di kamar lo". Ucap Ian seraya melangkah menuju kamar Rio.


"By the way nanti jam 5 sore kita harus belanja ke mall sebelah! Bahan makanan gak ada hehehe". Rio terkekeh kecil.


Ia memang tidak pernah memasak. Untuk apa? Ia hanya tinggal seorang diri di apartemen, jika Ia lapar lebih praktis turun ke mall yang letaknya tepat di sebelah gedung apartemen nya atau Ia memesan makanan melalui sebuah aplikasi populer.


Saat Ian memasuki kamar Rio, Ia memindai ke seluruh sudut. Gak ada yang berubah...


Hati nya tiba-tiba berdesir. Bulu kuduk nya meremang. Ian menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Mikir apaan sih otak gw! Gerutu nya dalam hati.


Ian lantas merebahkan diri nya. Menatap langit-langjt kamar dengan tatapan hampa. Tak lama kemudian matanya pun terpejam.


Malam Hari


Ian yang sedang merapihkan piring-piring bekas makan malam dan menempatkan beberapa makanan ke dalam kotak kedap udara untuk di tempatkan ke dalam kulkas, tiba-tiba di kagetkan oleh Rio yang berada di belakang nya.


"Mau cokelat hangat gak?". Tawar Rio. Ian hanya mengangguk tanpa menjawab. Rio lantas segera membuatkan dua cangkir cokelat hangat.


Ian mencuci tangan nya dan segera mengambil cangkir cokelat hangat itu. ia melangkah menuju balkon. Pemandangan gemerlap lampu gedung pencakar langit Ibu Kota membawa ketenangan sendiri untuknya.


Apartemen Rio yang berada di lantai atas membuat Ian bisa melihat segalanya sangat jelas. Ia duduk termenung menatap ke segala arah. Rio tiba-tiba duduk di kursi sebelah Ian seraya memegang secangkir cokelat hangat. Pria itu menyesap nya perlahan.


Keduanya sempat terdiam. Hanya keheningan yang tercipta di antara mereka. Sibuk dengan pikiran nya masing-masing.

__ADS_1


"Yoo...".Panggil Ian pelan.


"Hmm.." Rio menggumam masih menatap gemerlap lampu Ibu Kota.


"Ilham bersikeras gak mau cerai dari gw. Dia bahkan bilang langsung ke bokap gw".


Rio menoleh pada Ian yang ternyata sedang melihat nya dengan senyuman tipis di bibir.


"Apa lo yakin mau cerai dengan dia?". Tanya Rio.


Ian mengedikkan bahu. "Gw gak sanggup lagi untuk bertahan. Gw udsh berulang kali memberi dia kesempatan, tapi gak pernah dia gubris.."


"Gw capek, Yo.. Capek kalau hanya gw yang berjuang mempertahankan sedangkan di sisi lain tidak. Dan apa.yang dia lakukan hari ini depan bokap gw, benar-benar bikin gw berpikir kalau dia memang layak untuk gw lepas.." Lanjut Ian.


"Gw akan bantu lo untuk menyelesaikan semua prosesnya. Lo gak sendiri, Ian. Jangan pernah merasa sendiri".


Ian terkekeh kecil membuat Rio mengerutkan keningnya. "Kok malah ketawa?". Tanya Rio.


"Gw hanya merasa vibe di antara kita sekarang ini kayak selingkuh... Dan lo jadi pebinor hehehee".


Rio dengan cepat menarik tengkuk leher Ian dan mencium bibirnya dengan lembut. Ian yang terkejut segera mendorong dada bidang Rio namun pria itu tetap menahan tengkuk leher Ian dan malah semakin memperdalam ciuman di antara mereka.


Pria itu mengulum bibir Ian dengan sangat lembut dan pelan seakan menikmati tiap sesapan di bibir wanita itu. Rio yang benar-benar tidak menyentuh wanita manapun sejak Ia pisah dari Ian hanya bisa menahan sakit dengan hasrat kelelakian nya yang membuncah. Di sisi lain, Ian yang memang sangat jarang melakukan hubungan fisik walau sudah menikah pun merasa merinding ketika mendapatkan ciuman yang amat lembut dari Rio.


Rio melonggarkan tangan nya yang berada di tengkuk Ian. Wajah pria itu mundur sedikit dan menatap manik mata Ian sangat lekat.


"Ini yang namanya selingkuh.." Ucap nya pelan.


Ian mengerjapkan mata berusaha menyadarkan diri agar tetap waras.


"Terkadang lo lupa kalau gw juga seorang lelaki walau gw berusaha keras menjadi sosok sahabat untuk lo. Sebenarnya gak mudah untuk gw menjalankan peran itu dengan semua hal yang udah kita lalui bersama..."


"Yoo.. Gw..."


"Lo harus tau.. Kalau gw udah memutuskan untuk mengambil langkah saat ini, lo gak bisa lari kemanapun. Lo siap?". Rio memutus ucapan Ian seraya menatap lekat ke arah Ian. Keduanya saling bertatapan seakan pancaran mata satu sama lain mempunyai jawaban nya.


......____________......

__ADS_1


Selamat tidur😴😘


__ADS_2