
"Gw pesawat jam 8 malam hari senin dari Los Angeles. Berarti di sana jam 10 pagi hari selasa. Gak usah ke bandara karena gw pasti langsung di arahin karantina ke hotel."
Ian termenung membaca sebuah pesan whatsapp yang baru saja masuk. Rio pulang? Batin nya.
Jari jemarinya lantas dengan lihai menari di atas layar ponsel mengetikkan balasan yang di tujukan untuk Rio yang berjarak belasan ribu mil jauh nya.
"Kok pulang? Bukan nya masih banyak pekerjaan ya di sana?". Ian menekan tombol send pada layarnya dan tak butuh waktu lama pesan tersebut langsung tetbaca oleh Rio yang menandakan pria itu memang sedang menunggu balasan.
"Mr. Dave gak setega itu sama karyawan nya yang mau kawin".
Ian melongo membaca balasan pesan dari Rio.
"Lo pikir kambing pakai ngomong kawin segala!". Balas Ian.
"🤣🤣🤣🤣 Nikah maksudnya..". Rio dengan cepat membalas.
Ian tak menjawab lagi. Ia menyimpan ponsel nya ke atas nakas dan menghempaskan diri nya ke kasur. Ia menatap refleksi diri nya di cermin yang terpasang di langit kamarnya. Pikiran nya bercabang kemana-mana. Namun yang paling menyita perhatian nya adalah rencana Imran untuk menikah kan diri nya dengan Rio dalam waktu 3 bulan lagi. Itu artinya tepat ketika masa tunggu nya setelah bercerai dari Ilham selesai, Ia akan segera di nikah kan dengan Rio.
Ian menendang-nendang guling dan bantal hingga jatuh ke lantai. Ia kesal. Bagaimana bisa dalam waktu secepat itu? Pikirnya.
Ian mengingat kembali percakapan nya dengan Imran kemarin.
"Pa.. aku baru aja bercerai. Mana mungkin aku langsung menikah lagi?".
"Kamu tidak langsung menikah saat ini juga. Papa bilang tadi nanti setelah 3 bulan".
"Dan kenapa harus dengan Rio?"
"Karena dia pria pertama untuk kamu. Dia sudah mengenal kamu jauh sebelum kamu menikah dengan Ilham. Cukup hanya ada 2 pria dalam hidup kamu. Papa gak bisa bayangkan jika putri papa dengan banyak pria".
__ADS_1
"Tapi, Pa...Mana mungkin Rio mau sama aku? Dia itu bujangan. Belum pernah menikah. Belum punya anak. Bagaimana bisa dia menerima aku yang kondisi nya sangat jauh berbeda dari 10 tahun yang lalu? Aku sudah mempunyai 2 anak, Pa! Berat bagi Rio menerima janda yang membawa 2 anak dari pria lain walau aku dan dia mempunyai masa lalu yang rumit!".
"Percaya dengan papa. Rio bisa menerima itu semua".
Ian mengacak-acak rambutnya frustasi. APA KATA ORANG?! Begitulah pikiran nya ketika Ia membayangkan jika Ia benar-benar mengikuti saran Imran untuk segera menikah lagi.
Satu Minggu Kemudian
Hari ini adalah hari di mana Rio selesai karantina. Tadi malam pria itu mengabari nya bahwa hasil test kesehatan nya memperbolehkan diri nya untuk pulang ke rumah. Selama 5 hari karantina di hotel, 5 hari itu pula pria itu pagi, siang dan malam menerornya dengan mengirim pesan ataupun menelfon. Rio beralasan jika diri nya sangat bosan menjalani karantina di hotel seorang diri dan melampiaskan nya dengan mengganggu Ian ataupun sahabat-sahabat nya yang lain.
Hari ini pun Rio meminta diri nya untuk menjemput di hotel. Walau kesal namun Ian tetap menuruti keinginan pria itu. Ian segera melangkah dengan cepat menuruni tangga rumah nya yang membuat Dewi mengomeli nya.
"Kamu kalau turun tangga gak usah lari kecil begitu! Kalau kepeleset dan jatuh bagaimana? Bahaya!".
Ian meringis. Hal seperti ini sudah biasa Ia dapatkan. Walau usia nya sudah 32 tahun dan mempunyai 2 anak. Namun kedua orang tua nya tetap memperlakukan diri nya seperti 'anak'. Ian sama sekali tak keberatan. Ia justru menikmati nya. Ia benar-benar ingin sekali meluangkan banyak waktu untuk kedua orang tua nya. Ia merasa terlahir kembali setelah bercerai. Saat usia nya 22 tahun, Ia merasa kehidupan nya yang seharusnya di lewati dengan indah nya masa muda harus tertutupi dengan segala kepelikkan dan keributan antara diri nya dan kedua orang tua nya. Di mana biang keributan saat itu adalah karena Ia selalu membela mantan suami nya di hadapan Imran dan Dewi.
"Sorry Ma.. Aku buru-buru. Rio bilang dia udah check out". Ujar Ian seraya terkekeh.
"Sudah.. Sudah.. Namanya juga kangen lama gak bertemu. Kamu seperti gak pernah muda aja.." Timpal Imran yang tentu saja ucapan nya membuat Ian melongo.
"Kangen? Siapa yang kangen! Aku gak kangen sama Rio!". Ucap Ian.
"Lho papa gak bilang kamu kangen sama Rio.. Kamu yang bilang lho tadi.." Ucap Imran tersenyum.
Ian merengut. Papa nya benar-benar mengesalkan!
"Yaudah ah aku berangkat dulu". Ucap Ian sembari mencijm kedua tangan orang tua nya.
Memang jarak hotel tempat Rio menjalani karantina tidak lah jauh dari lokasi rumah nya. Hanya 10 menit sudah sampai. Ian memilih parkir valet sehingga Ia tak perlu repot-repot memarkirkan mobil nya. Ia lantas melangkah menuju lobby dan mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru.
__ADS_1
Lobby hotel bintang 5 di kawasan pusat bisnis Ibu Kota cukup memukau mata nya. Interior nya yang mewah yang di dominasi dengan warna krem dan cokelat membuat suasana terasa hangat.
Ian merogoh ponsel nya dari dalam tas kecil yang berada di tangan nya. Ia menelfon nomor Rio dan dalam satu kali panggilan telfon nya terhubung.
"Lo di mana sih? Gw udah di lobby nih". Ucap Ian seraya matanya masih mengamati sekitar mencari keberadaan Rio.
"Dada gw sakit banget Ian. Tiba-tiba berdebar dan keringat dingin". Ucap Rio pelan dari seberang telfon.
Ian tentu saja panik seketika mendengar ucapan Rio. Ia memalingkan wajah nya kesana kemari mencari keberadaan Rio.
"Yo! Serius! Lo di mana sekarang?! Lo bilang hasil test kesehatan lo semua nya aman dan negatif. Kok tiba-tiba lo sekarang bilang dada lo sakit? Cepat bilang lo di mana?! Gw lapor ke resepsionis ya". Cecar Ian seraya melangkah dengan cepat menuju ke arah resepsionis dengan maksud memberitahu bahwa ada seseorang yang memerlukan bantuan.
Namun baru saja beberapa langkah, tangan nya ada yang menarik. Ian menoleh dan lantas terkejut ketika melihat Rio lah yang berada di hadapan nya. Ian mengamati seluruh tubuh Rio dari atas sampai bawah. Tangan nya menyentuh kening pria itu untuk mengecek suhu tubuh. Ian lantas mengernyitkan dahi.
"Lo kelihatan baik-baik aja. Tadi lo bilang dada lo sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya?". Ucap Ian.
Rio tersenyum walau hanya terlihat dari lipatan matanya.
"Dada gw sakit karena berdebar, gw keringat dingin karena gugup. Baru beberapa bulan gak ketemu dan melihat lo langsung depan mata gw, membuat gw jadi seperti itu.." Ucap Rio seraya menatap intens manik mata Ian.
"ASTAGA YOYO!". Teriak Ian kesal. Ia tak peduli dengan banyak pasang mata yang tentu saja melihat ke arah nya.
Makan apa sih dia di Los Angeles?! Jadi gombal begitu!!!
Batin Ian kesal seraya melangkah meninggalkan Rio yang terkikik geli.
......_______________......
Sorry minggu yg hectic buatkuuuu baru sempet up sore gini😅
__ADS_1
Love you guys!😘