Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Bab 116


__ADS_3

"Lo kenapa sih dari tadi diam terus? gw tanya malah jawab ham hem ham hem aja! Gak jelas banget!". Cecar Ian yang kesal dengan perubahan sikap Rio semenjak di lapangan golf hingga kini keduanya berada di apartemen.


Rio tak menjawab apapun. Pria itu malah melangkah menuju kamar tidur nya untuk mengganti baju yang lebih santai. Ian yang merasa tak di hiraukan lantas mengikuti pria itu masuk ke dalam kamar.


"Yoyo! Lo dengar gw gak sih?". Cecar Ian.


Rio masih saja tak menghiraukan nya. Mulut pria itu masih terkunci rapat. Rio terlihat mengambil sebuah kaus berwarna hijau dari dalam lemari. Pria itu lalu membuka polo shirt nya di hadapan Ian dan menampakkan tubuhnya yang atletis.


"Ah! Suka-suka lo lah!". Ian yang sudah sangat kesal lebih memilih untuk pergi dari hadapan Rio. Ia segera saja melangkah keluar kamar.


Ian mengambil tas nya yang berada di sofa ruang tengah lalu segera menuju ke pintu keluar. Namun tangan nya di cekal dari belakang. Siapa lagi jika bukan Rio yang melakukan nya


Ian membalikkan badan dan melihat Rio yang masih bertelanjang dada. Ia menatap tajam manik mata pria itu dnegan rasa kesal yang membuncah.


"Apa?!". Tantang Ian.


"Jangan pergi".


"Ngapain gw di sini kalau lo cuekin? Serasa ngomong sama tembok". Keki Ian.


"Maaf.. Gw cuma cemburu". Ujar Rio pelan.


Ian mengerutkan kening nya. "Cemburu? Maksud lo apa sih?Kalau ngomong jangan setengah-setengah!".


Rio terlihat menghela napas perlahan. "Gw cemburu melihat lo akrab sama para rekanan gw tadi".


Ian melongo mendengar penjelasan Rio. Ia tak habis pikir jika perubahan sikap yang di tunjukkan oleh pria itu hanya karena rasa cemburu.


Ian melipat kedua tangan di dada dan menatap Rio.

__ADS_1


"Memang nya gw habis ngapain sama mereka sampai lo bisa cemburu?".


"Gak ada..."


"Lalu kenapa lo bisa cemburu sampai cuekin gw segitunya?".


Rio melangkah mendekat ke arah Ian. Pria itu mengelus lembut bibir nya.


"Lo tersenyum... lo tertawa dengan mereka... itu buat gw cemburu". Ujar Rio menatap bibir Ian.


"Terus gw harus seperti patung gitu? Sekalian aja lo harusnya gak usah ajakin gw! Gw hanya bersikap ramah sama orang-orang yang bekerja sama dengan lo. Kan itu jadi poin plus.."


Rio menggelengkan kepala pelan. "Jangan ramah sama laki-laki lain. Gw gak suka".


"Sama Ilham? Dia papa nya anak-anak. Gak mungkin gw tarik urat terus kalau bicara sama dia kan?".


"Itu pengecualian... Sahabat Huru Hara juga pengecualian". Ucap Rio.


"Ah! Tapi gw masih kesal! Sikap lo cuekin gw selama di lapangan sampai apartemen benar-benar di luar nalar gw kalau hanya karena cemburu!".


"Gimana lo bisa terima masa lalu gw yang notabene seorang janda? Yang pastinya gw pernah tidur sama mantan suami, melakukan ini dan itu dan........ hmmmmppfftt".


Perkataan Ian tiba-tiba saja terpotong karena Rio membungkam bibir Ian dengan bibirnya. Pria itu menahan tengkuk leher Ian dengan sebelah tangan nya dan menarik pinggang wanita itu lebih erat ke tubuhnya.


Ian hanya bisa pasrah karena Ia terkurung tak bisa bergerak dalam dekapan Rio. Pria itu meng*hisap lembut bibir Ian. Ciuman lembut yang memberikan sengatan listrik ke seluruh tubuh Ian. Alarm bahaya di otaknya sudah mode waspada namun satu sisi dirinya tak menampik bahwa Ia menikmati permainan yang di lakukan Rio pada bibir nya.


Sebagai wanita dewasa Ia menikmatinya, Ia menginginkan nya. Apalagi sepanjang pernikahan dengan Ilham tidak ada yang namanya pemanasan lembut yang mampu membuai dirinya hingga langit ke tujuh di tambah keintiman yang terjadi di atas ranjang pernikahan nya dengan Ilham hanya bisa di hitung dengan jari dalam satu tahun.


Rio yang masih mendekap erat tubuh Ian dengan pelan mengarahkan Ian menuju kamarnya. Bibir keduanya masih saling bertaut. Ian melingkarkan kedua tangan nya ke belakang leher Rio. Rio yang terus saja maju perlahan membawa dirinya, mau tak mau Ia melangkah mundur dengan hati-hati.

__ADS_1


Rio menghempaskan Ian dengan lembut ke atas ranjang. Ian yang masih terbawa suasana hanya diam menatap Rio yang masih bertelanjang dada mulai merangkak naik ke atas tubuhnya.


Keduanya saling bertatapan dengan lekat cukup lama. Merasa grogi karena di tatap sedemikian dalam oleh Rio, Ian pun mengangkat kepala nya sedikit dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir pria itu. Sudut bibir Rio menyeringai sembari menatap Ian. Pria itu lantas me****** kembali bibir Ian dengan ganas. Ia mencecap, mengu*lum dengan liar sehingga membuat Ian kehabisan napas dan memalingkan wajahnya ke samping. Namun gerakan Ian tersebut justru memberikan Rio ruang untuk turun menjelajah ke leher nya yang jenjang. Sontak saja kelakuan Rio membuat dirinya semakin menggila. Karena pria itu tahu bahwa di sana area sensi*tifnya.


Rio memberikan kecupan kecupan kecil di sepanjang leher dan telinga Ian yang membuat Ian meliukkan tubuhnya karena geli.


"Yoo.. Astagaaa". Gumam Ian pelan.


Tangan pria itu lalu menarik polo shirt yang di pakai Ian sampai ke bawah leher. Tentu saja itu membuat kedua gunung Ian yang masih terbalut kain penutup menjadi terekspos dan terlihat menantang.


Rio membenamkan wajah nya di antara kedua gunung tersebut seraya memberikan kecupan kecil. Tangan pria itu menyusup ke punggung Ian dan membuka kaitan kain penutup kedua gunung dengan mudah. Mata pria itu semakin nyalang ketika melihat dua bukit yang menjadi tempat favoritnya dahulu.


Tanpa banyak kata, pria itu mengu*lum salah satu ujung gunung sedangkan ujung gunung lain nya Ia mainkan dengan jari jemari nya.


"Hmmmppftt...." Ian menahan mulutnya untuk tidak mendesah.


Ia ingin menghentikan apa yang sedang Rio perbuat pada dirinya namun Ian tak menampik bahwa Ia menikmatinya. Ia merindukan hal ini.


Kegiatan Rio di kedua ujung gunung nya tentu saja membuat Ian meliuk-liukkan tubuh nya tak karuan. Gigitan kecil di berikan Rio.


"Yooop.. Omg.. Yoooo.. Please stop.. stop.. Gw gak tahan" Racau Ian.


"Hmmmm..." Rio hanya bergumam seraya masih asik dengan lahan favoritnya.


Satu tangan pria itu lalu turun ke bawah. Mengusap paha Ian dengan ujung jarinya perlahan sehingga membuat Ian makin tak karuan. Tangan nya menyusup ke area paling sensi*tif Ian yang masih aman tertutup rapat. Pria itu menyusupkan jari jemari nya ke dalam dan mendapati area tersebut sudah basah karena ulah nya.


Pria itu menarik tangan nya dan mendesah kasar. Ia membenamkan wajah nya di antara kedua gunung. Dan tak lama Rio mendongakkan kepala melihat ke arah Ian.


"Bisa gak sih kita nikah hari ini juga sayang?". Ucap Rio dengan nada putus asa lengkap dengan puppy eyes nya.

__ADS_1


......_____________________......


🏳🏳🏳🏳🏳🏳🏳🏳🏳🏳🏳🏳🏳


__ADS_2