
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, pikiran Ian berkelana kemana-mana. Ia memikirkan perkataan Karin. Berbagai macam pertanyaan muncul di benak nya.
Apakah Rio memang seperti itu? Apakah pria itu sangat menyesal dengan apa yang di lakukan nya di masa lalu? Apa Rio tidak pernah bisa membuka hati nya pada wanita manapun?
Ini seperti tidak masuk akal untuk nya. Bagaimanapun Rio adalah pria dewasa. Apalagi pria itu pernah merasakan tubuh seorang wanita. Tidak mungkin Ia bisa menahan hasrat kelelakian nya selama 10 tahun. Atau...... apa memang seperti itu kenyataan nya?
Ian mengingat kembali ucapan Rivan tadi pagi ketika sarapan bersama.
"Gw, Gilang, dan Eki pernah berulang kali ajak dia ke club atau ke tempat spa eksklusif, Kita bertiga juga pernah sengaja sewa cewek panggilan untuk striptease. Dan lo bisa tebak apa yang Rio lakukan? Dia gak bergeming sama sekali walau melihat cewek menari telanjang di depan dia! Si Rio malah pergi begitu aja... Kita bahkan sampai gak percaya dia seperti itu..."
Ian menghela napas nya perlahan. Mengapa banyak sekali hal yang harus Ia pertimbangkan? Ini bukan hal mudah untuknya menginngat Ia baru saja terlepas dari hubungan pernikahan yang toxic dan dalam sekejap mata bisa langsung memulai kembali dengan pria lain. Tidak! Ia tidak bisa seperti itu.
Sesampainya di rumah, Ian melihat kedua anaknya baru saja selesai membersihkan diri sebelum beranjak tidur di bantu oleh seorang pengasuh yang memang sengaja Ian pekerjakan untuk membantu aktifitas kedua anaknya di rumah dan tidak ingin merepotkan kedua orang tua nya.
"Mbak... Istirahat aja sekarang. Saya yang siapkan baju mereka". Ucap Ian pada sang pengasuh.
Pengasuh itu pun mengangguk lalu segera melangkah keluar dari kamar Varo dan Kai. Ian melangkah menuju lemari pakaian kedua anaknya yang bersebelahan. Sampai saat ini Varo dan Kai memang masih tidur dalam satu kamar atas permintaan mereka sendiri. Keduanya sangat tak terpisahkan.
"Anak-anak ganteng mama udah pada bersih, udah gosok gigi juga.. Pintar nya kalian.."
Kai yang memang notabene anak bungsu yang identik dengan sikap manja langsung saja memeluk Ian. Bocah itu tipikal anak yang sangat suka memeluk dan di peluk. Ian membalas pelukan Kai dan mencium puncak kepala nya dengan sayang.
"Ayo.. Pakai dulu piyama kalian lalu naik ke atas kasur. Mama temanin di sini sampai kalian tidur".
"Benar, Ma?". Tanya Varo senang.
Ian mengangguk seraya mengulas senyum.
Setelah selesai memakai piyama, ketiganya pun segera naik ke atas kasur. Ian yang berada di tengah di apit oleh kedua anak nya yang memeluk masing-masing sisi tubuh nya.
"Mama boleh tanya gak sama Varo?". Ucap Ian.
Varo mendongakkan kepala nya. "Tanya apa, Ma?".
Ian terdiam sejenak. Otak nya sedang mencari kata yang tepat.
"Hmmmm.. Menurut Varo, Om Yoyo gimana orang nya?".
"Om Yoyo?".
Ian mengangguk.
"Om Yoyo orang nya baik, terus ganteng dan suka traktir aku makanan dan belikan aku mainan tapi orang nya suka jahil juga!". Jawab Varo.
Ian mengulas senyum. Jawaban khas anak-anak, pikirnya.
__ADS_1
"Sayang gak sama Om Yoyo?". Tanya Ian lagi.
"Sayang dong, Ma. Om Yoyo kan baik banget sama aku, sama Kai dan sama Mama. Orang baik kan mudah di sayang orang, Ma!". Ucap Varo.
"Kalau Kai sayang gak sama Om Yoyo?". Ian menoleh pada putra kedua nya yang memang sangat dekat dengan Rio sejak bayi.
"Sayang Ma..." Ucap Kai pelan.
Ian mengusap kepala Kai dengan lembut. Putra nya itu sudah mengantuk rupanya.
"Kamu setuju gak kalau mama lebih dekat sama Om Yoyo?". Tanya Ian lagi pada Varo.
"Mama kan selalu dekat sama Om Yoyo. Kemana-mana sering berdua, terus kerja di kantor yang sama juga".
"Maksud mama, kalau Om Yoyo tinggal bareng dengan mama juga kalian berdua, mau gak?". Tanya Ian.
"Tanpa mama tanya pun, Om Yoyo kan suka nginap di rumah kakek. Itu sama aja tinggal bareng kan, Ma?". Ucap Varo polos.
Rasanya Ian ingin sekali menepuk dahi nya ketika mendengar jawaban demi jawaban polos putra sulung nya. Namun kedua tangan nya di jadikan bantalan kedua putra nya saat ini.
"Kamu mau gak Om Yoyo jadi papa kamu? Maksudnya, papa kedua untuk kamu?".
Varo terdiam sejenak.
"Aku udah punya Papa. Memang boleh punya 2 Papa ya?".
Ian mengulum senyum.
"Mau, Ma. Om Yoyo selalu buat mama tersenyum. Mama gak pernah nangis di samping Om Yoyo..."
Ian terperangah mendengar ucapan sang putra. "Benarkah kamu setuju mama menikah dengan Om Yoyo dan dia menjadi papa untuk kamu juga Kai?".
Varo mengangguk. "Aku setuju, Ma". Ucap Varo seraya menguap.
Ian menatap langit-langit kamar kedua putra nya yang di hiasi oleh berbagai hiasan bintang dan bulan yang memunculkan sinar nya ketika cahaya kamar temaram.
Satu Minggu Kemudian
Hari ini adalah hari di mana gw harus memberikan jawaban untuk Rio....
Ian mendesah pelan. Ia menatap refleksi diri nya di cermin yang sudah tampil sempurna. Rok warna krem berbahan tweed sepanjang 1 jengkal di bawah lutut dan kemeja berwarna navy membalut tubuh ramping nya. Rambut hitam panjang nya di biarkan tergerai dengan indah. Riasan tipis di wajah semakin membuat penampilan wanita berusia 32 tahun itu nampak segar dan lebih muda dari usia nya.
Ian lalu berpamitan pada kedua orang tua dan kedua anak nya.
Ia melajukan mobil nya langsung menuju apartemen Rio. Ia melirik jam yang berada di tangan kiri nya.
__ADS_1
Baru jam 8 pagi. Dia masih di apartemen atau udah berangkat ke kantor ya? Gumam Ian dalam hati.
Ian lantas menekan pedal gas lebih dalam agar segera sampai ke tempat tujuan. Sesampainya di tower apartemen Rio, Ia langsung saja masuk ke dalam private lift yang memang khusus di sediakan hanya untuk penghuni tertentu yang mempunyai unit apartemen di lantai atas yang jumlah nya hanya beberapa unit saja. Tidak semua penghuni apartemen di berikan akses private lift. Namun Rio? Tentu saja pria itu mendapatkan fasilitas tersebut. Sehingga akses menuju unit apartemen milik nya benar-benar sangat private.
Ian menghela napas ketika berada tepat di depan pintu apartemen Rio. Ia sengaja tidak mengeluarkan kartu akses miliknya. Ian menekan bel. Hati nya berdebar tidak karuan ketika menunggu pintu terbuka. Ian menekan bel lagi dan tak lama pintu pun terbuka dan menampakkan Rio yang masih memakai kaus dan boxer. Raut wajah pria itu terlihat sangat terkejut saat mendapati Ian yang menjadi tamunya di pagi hari.
Ian mengulas senyum tipis dan melangkah kan kaki mendekat ke arah Rio. Tatapan nya tak lepas dari wajah pria itu. Rio yang terlihat baru bangun tidur seperti nya masih linglung. Pria itu melangkah mundur perlahan ketika Ian berjalan pelan menghampiri nya.
"Apa lo bisa menerima keadaan gw yang sekarang?". Tanya Ian seraya menatap ke arah Rio dan melangkah pelan ke arah pria itu.
Rio melangkah mundur namun kepala nya mengangguk.
"Apa lo bisa menyayangi kedua anak gw dengan tulus?". Ian terus melangkah mendekat.
Rio menganggukkan kepala lagi.
"Apa lo gak akan menyesal memilih seorang janda beranak dua?". Ian terus saja melangkah ke arah Rio seraya menatap lekat manik mata pria tersebut.
Rio menggeleng pelan. Pria itu melangkah mundur ketika Ian terus saja melangkah ke arahnya.
"Kalau begitu.... Gw mau nikah sama lo". Ujar Ian akhirnya.
Raut wajah Rio sangat terkejut. Pria itu seakan membeku di tempat berusaha mencerna apa yang baru saja di dengar olehnya.
"Apa?". Tanya Rio pelan.
Ian mengulum senyum.
"Gw mau nikah sama lo".
Rio mengusap wajah nya pelan dan menjambak rambut nya. "Katakan sekali lagi?".
"Gw mau nikah sama lo, Yoyo". Ucap Ian mengulas senyum manis. Sungguh Ia sangat gemas melihat tingkah linglung pria di hadapan nya saat ini!
Dengan cepat Rio meraih Ian ke dalam pelukannya. Pria itu mendekap erat tubuh ramping Ian. Ia menghirup aroma tubuh Ian yang selalu menjadi candu untuknya.
"Makasih sayang.. Ini seperti mimpi untuk gw. Makasih..." Ucap Rio seraya mendekap erat tubuh Ian.
Ian tersenyum di balik bahu Rio. Tangan nya merangkul tubuh tegap dan kekar pria itu.
......____________________.....
Happy working buat yg lagi bekerja!
Happy cooking buat yg lagi masak dirumah!
__ADS_1
Happy reading buat yg lagi baca ini!
Kecup hangat dariku!😘