
"Brengsek! Brengsek! Brengsek!". Rio berteriak seraya memukul stir mobilnya. Ia dan Rivan sudah sampai kembali ke Bar untuk mengambil mobil Rio yang di tinggalkan di halaman Bar tersebut.
"Gw gak tau kalau Ian bertahan dalam hubungan yang kacau seperti itu, Bro. Dia bertahan sama lelaki itu selama 9 tahun! Gw bahkan gak berani ngebayangin hati nya sehancur apa selama ini tapi dia selalu tersenyum di hadapan kita semua.." Ucap Rio seraya mengusap wajah nya frustasi.
Rivan menghela napas pelan. "Tapi kita gak bisa ikut campur terlalu jauh. Ini masalah rumah tangga mereka ,Bro".
"Gw tau.. Tapi gw gak bisa biarin dia lebih lama lagi dengan lelaki yang gak anggap dia ada, yang gak pernah menghargai setiap pengorbanan dia! Bahkan Ian hanya di anggap sebagai barang yang mudah di pindah tangan! Brengseeekkkk!!!". Rio memukul stir kemudi mobil lagi. Raut wajah nya benar-benar menunjukkan emosi yang luar biasa.
"Bro..." Panggil Rivan.
Rio menoleh pada Rivan. "Gw mau tanya 1 hal sama lo". Lanjut Rivan.
"Apa?".
"Dulu lo pisah sama Ian karena hal apa? Sorry gw mengungkit masa lalu lo, tapi gw benar-benar perlu tau". Ucap Rivan seraya menatap Rio.
Rio terdiam sejenak dan menyenderkan punggung nya ke kursi pengemudi. Ia menghela napas nya pelan berusaha meredam emosi yang di rasakan nya sedari tadi. Tatapan nya menatap kosong ke depan.
"Ian pergokin gw ciuman dengan wanita lain di hotel". Sahut Rio pelan.
Raut wajah Rivan terlihat sangat terkejut. "Wanita itu.... Apa Karin?".
Rio mengangguk.
Dengan cepat Rivan memukul kepala Rio dengan kotak kaca mata yang ada di atas dashboard hingga pria itu terpentok kaca mobil. Rio yang tanpa persiapan apapun merasa terkejut mendapatkan sebuah pukulan di kepala nya
Plak! Plak! Plak!
"Lo juga ******! Maling teriak maling!". Maki Rivan tak henti memukul Rio dengan kotak kaca mata.
Rio mengatupkan kedua tangan ke atas untuk melindungi kepala nya.
"Dengerin penjelasan gw dulu!". Ucap Rio ketar ketir.
"Penjelasan apa lagi, nyet? Lo sama Ilham 11 12! Beda tipis brengsek nya!".
"Gw gak ngapa-ngapain! Hanya ciuman! Itu pun gw gak sengaja!". Rio membela diri nya.
__ADS_1
Rivan menghentikan aksinya. Ia menatap Rio dengan tatapan tajam. "Jelasin ke gw". Ucap Rivan.
Rio lantas menjelaskan insiden saat di Singapura. Ia tidak menutupi sedikit pun hal yang terjadi di sana pada Rivan. Insiden saat Ian memergokinya berciuman panas dengan Karin di depan kamar hotel. Saat diri nya meminta maaf pada Ian namun wanita itu memilih untuk pergi meninggalkan nya di Singapura dengan rasa kecewa. Rio tetap menutupi hal yang lebih kompleks antara Ian dan dirinya selama berhubungan.
"Gw rasa ini semua benang merah.. Semua yang terjadi saling berhubungan.." Gumam Rivan.
"Pantas Ian bilang ke gw kalau 2 kali dia menjalin hubungan dengan pria, 2 kali juga dia mendapatkan kekecewaan. Ternyata lo juga seperti itu.. Kalau Ian gak mergokin lo ciuman, mungkin lo dan Karin bisa melakukan hal yang lebih gila". Ucap Rivan seraya menatap Rio.
"Setelah dari Singapura, lo gak berusaha lebih keras untuk mendapatkan maaf dari Ian dan malah pergi begitu aja ninggalin dia ke Amerika". Rivan bicara seraya menatap kosong ke depan mengingat kembali masa terpuruk nya Ian untuk pertama kali nya.
"Lo tau, Bro? Setiap hari.... Setiap hari gw ke rumah nya hanya untuk mastiin dia baik-baik aja semenjak kepergian lo yang tanpa pamit ke dia atau ke kita semua".
"Gw tau dia nunggu lo kembali atau setidak nya lo hubungin dia. Di saat momen itu lah Ilham masuk lebih dalam ke hidup dia. Mencari celah masuk ke hatinya. Walau gw sekarang sadar keputusan Ian untuk menikah cepat saat itu hanya karena pelarian dari rasa kecewa nya dari lo.. Ian terlalu baik.. Dia benar-benar menjalankan kehidupan rumah tangga nya dengan baik bahkan sampai berani meninggal kan kehidupan nya yang nyaman.. Tapi ternyata lelaki yang di pilihnya ternyata gak jauh beda dengan lo.. Lelaki brengsek". Rivan meluapkan segala pikiran nya dengan tenang. Ia berpikir emosi tidak akan bisa menyelesaikan masalah.
Rio mengusap wajah nya kasar. Ia merasa tertampar dengan segala penuturan Rivan. Semua ini bermula karena diri nya. Rio sadar hal itu. Namun semua sudah terjadi.
"Biarkan Ian memikirkan masalah rumah tangga nya. Biarin dia berpikir dengan tenang. Lo jangan ganggu dia duiu sementara. Mau bagaimanapun keadaannya, gw yakin Ian pasti memikirkan Varo dan Kai". Ucap Rivan.
Rio mendesah frustasi seraya menyugar rambut nya kasar.
Satu Minggu Kemudian
Satu jam perjalanan yang Ia tempuh dan kini sampailah Ia di rumah Ilham. Ia ingin berbicara serius dengan pria yang masih menjadi suaminya tersebut. Ian melihat mobil yang biasa di pakai Ilham bekerja ada di dalam garasi dan itu artinya pria itu sedang berada di rumah. Ian segera melangkah masuk dan mendapati Ilham yang sedang menonton televisi. Pria itu nampak terkejut dengan kehadiran Ian.
"Kita perlu bicara.." Ujar Ian tanpa basa basi.
"Apa lagi? Kamu hanya perlu menenangkan diri kamu. Aku kasih kamu waktu sebanyak apapun yang kamu mau".
Ian menatap Ilham dengan sorot mata tak percaya. "Bahkan 1 kata maaf aja karena selingkuh di belakang aku gak keluar dari mulut kamu.."
"Aku udah berulang kali bilang sama kamu di telfon, aku udah akhirin hubungan aku dengan wanita itu. Semua udah beres".
Ian menggelengkan kepala nya tak menyangka. "Buat kamu beres! Tapi buat aku rasa sakit nya terus terpatri di hati aku!".
"Udah lah ngomong sama kamu gak pernah bisa santai". Ilham beranjak berdiri untuk meninggalkan Ian begitu saja.
"Mau sampai kapan kamu begini?! Tiap kali kalau aku ajak bicara, kamu selalu lari! Kapan masalah mau selesai kalau begini terus! Aku tuh capek!". Cecar Ian seraya menaikkan intonasi suaranya untuk menghentikan langkah Ilham.
__ADS_1
Ian melangkah cepat menyusul Ilham. "Kita belum selesai bicara!". Ian menahan lengan Ilham namun dengan cepat Ilham menepisnya.
"Ngobrol sama kamu itu selalu berujung keributan. Jadi aku malas!".
"Gimana gak ribut kalau sikap kamu selalu lari dari masalah! Aku kesini baik-baik untuk ngobrolin hubungan kita. Aku jatuhin harga diri aku dan nemuin kamu di saat seharusnya kamu yang datang dan minta maaf ke aku!". Cecar Ian frustasi.
"Apa mau kamu sebenarnya? Cerai-in aku! Lepasin aku kalau kamu hanya bisa bersikap semena-mena begini!". Ian berteriak di hadapan Ilham matanya menatap intens ke arah Ilham.
Ilham melayangkan sebelah tangan nya yang sudah mengepal ke arah Ian namun terhenti di udara. "Apa?! Mau mukul? PUKUL AKU! PUKUL!". Ian menggenggam tangan Ilham yang melayang di udara ke arah pipinya.
Ilham dengan cepat berbalik badan dan melayangkan sebuah tinjunya ke arah dinding. Praaaannggg! Sebuah pigura foto yang tergantung di dinding hancur berantakan. Serpihan kaca tersebar di lantai. Ian diam terpaku melihat kejadian yang sangat cepat. Jujur Ia merasa takut sekaligus terkejut. Beberapa tetes darah yang berasal dari tangan Ilham terjatuh di antara serpihan kaca tersebut.
Ian menatap selembar foto di lantai yang tak lain adalah foto pernikahan nya dengan Ilham. Foto saat diri nya tengah tersenyum bersebelahan dengan Ilham sesaat setelah pria itu mengucapkan ijab kabul. Ian mengusap air mata yang tak terasa telah jatuh membasahi pipinya. Hatinya sangat perih. Ia merasa semua tidak ada harapan lagi. Ilham tanpa berkata apapun melangkah pergi meninggalkan Ian seorang diri. Cukup lama Ian hanya berdiri terpaku menatap foto pernikahan nya di atas serpihan kaca yang berserakan. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya. Berulang kali Ia melakukan hal itu hanya sekedar untuk mengendalikan dirinya.
Ian memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Ilham. Tidak ada lagi yang bisa Ia lakukan di sana karena Ilham pun telah meninggalkan diri nya seorang diri yang berakhir dengan keributan. Ian mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Ia terus menerus mengusap air mata yang terus jatuh tak berhenti di pipi nya. Entah mengapa Ia tidak bisa mengontrol tangisnya. Air mata terus keluar membasahi pipinya.
Ian mengarahkan mobilnya ke sebuah gedung apartemen mewah yang terletak di selatan ibu kota. Hanya satu tempat yang bisa Ia pikirkan saat ini yaitu apartemen Rio. Tempat itu selalu menjadi tempat pelarian nya di saat terpuruk. Ada ataupun tidak ada penghuninya, apartemen itu selalu memberikan kenyamanan tersendiri untuknya. Namun saat ini Ia sungguh berharap bahwa Rio sedang berada di apartemen. Dalam seminggu terakhir pria itu benar-benar menghilang dan sama sekali tidak menghubunginya.
Ian menekan bel berulang kali. Walau Ia membawa kartu akses unit apartemen itu namun entah mengapa Ia hanya ingin memencet bel terus menerus berharap ada yang membukakan pintu untuknya. Tak lama pintu pun terbuka di iringi dengan gerutuan seorang pria.
"Siapa sih pencet bel berkali-kali!". Rio terlihat melongokkan kepalanya dan seketika raut wajah pria tampan itu terkejut saat melihat Ian lah sosok yang berada di balik pintu.
Rio membuka pintu unit apartemen nya lebar-lebar. "Ian...." Pria itu menatap intens manik mata Ian.
Tesss.. Air mata Ian pun jatuh membanjiri wajah nya tanpa di minta. Ian mengusap air mata di wajah nya seraya menatap manik mata Rio dengan sendu.
"Please.. Jangan ngilang lagi.. Gw gak tau harus gimana sekarang.." Ucap Ian seraya terus mengusap air mata yang keluar tak henti-henti.
Rio dengan cepat meraih Ian ke dalam pelukan nya. Pria itu benar-benar memeluk tubuh Ian dengan sangat erat.
......___________......
1555 kata!
Kalau masih ada yg bilang dikit kusentil ginjalnya😂
__ADS_1
Kecup hangat dariku!😘