Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat
Sahabat Sejati


__ADS_3

Acara dilanjutkan dengan ramah-tamah, menikmati hidangan yang tersaji dengan lebih mendekatkan diri antar keluarga. Diiringi home band yang melantunkan lagu cinta.


Sekarang kamu bisa mengelak, tapi nanti malam tidak akan ada alasan, baby!"


Kalimat itu kini terngiang ditelinga Zeline, hingga ia tidak fokus ketika seluruh kerabat memberi selamat dan mengajaknya mengobrol.


Masih sore, tapi jantung Zeline sudah nggedor-gedor rongga dadanya, membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.


Oke, Zeline bukan anak remaja lagi dan ia tau betul bagaimana hormonnya bekerja saat ini. Ia juga pernah merasakan bagaimana memabukannya suatu cumbuan.


Tapi melakukan itu semua dengan King bahkan menyerahkan sesuatu yang berharga yang selama ini ia jaga, rasanya ia tidak rela.


Walau pria tampan itu telah menjadi suaminya yang syah tapi membayangkan bagaimana King melakukan one night stand dengan wanita lain bahkan dengan Jenifer dulu kala, makin membuatnya jijik.


Ia tak menampik dirinya pun pernah bercumbu dengan Kevlar, menurut Zeline masih belum sebanding dengan apa yang dilakukan King.


"Trus sekarang gimana donk? Aku harus gimana?" ratap Zeline dalam hati ketika mata King selalu meliriknya dengan senyum smirk saat pria itu sedang dikelilingi orang-orang yang Zeline sayang.


Menghela nafas, Zeline pun bangkit dari tempat duduknya. Ia melihat pintu kaca yang menuju arah balkon sedikit terbuka.


Baiklah, mungkin ia butuh udara segar. Mencoba melarikan diri dari pikiran-pikiran yang membuat kepalanya sakit. Zeline melangkahkan kaki dengan mengangkat sedikit gaunnya menuju balkon.


Disana cukup sepi, suara burung yang berkicau bersahutan terasa menenangkan hatinya. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya memainkan anak rambut yang menjuntai dari sanggul kecil penahan lace terasa menyejukan pikirannya.


Kedua tangan Zeline terjulur menopang tubuhnya di pagar balkon yang terbuat dari beton bercat putih.


Ia mendongak sambil terpejam, merasakan sinar matahari yang hangat dan menghirup udara dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


"Hai Princess.... " suara pria yang ia benci tapi sangat ia rindukan mengganggu aktifitas melarikan dirinya.


Deg.


Zeline tidak mau berbalik ia pura-pura tak mendengar, karena bila melihat mata hijau dan senyum itu, ia takut terluka dan bahagia disaat bersamaan.


Kevlar kini sudah berdiri disamping Zeline, menatap lurus kedepan dengan memasukan tangan ke saku celananya. Zeline akui, kini pria itu sangat tampan dengan stelan jas, lebih dewasa dari Kevlar yang dulu pernah ia kenal.


"Maaf... " ucapnya.


Kata yang paling Zeline benci, menurutnya tidak perlu pria itu ucapkan setelah 4 Tahun berlalu.


Zeline masih tidak menjawab, ia setia dengan bungkamnya.


"Aku tidak berani menemui mu, setelah aku tau kau memergoki ku sedang bercinta dengan Angel. Aku melihatnya dari CCTV, maaf telah membuat mu menangis..., " Kevlar menunduk dengan wajah sendu.


Zeline menggigit bibir dalamnya, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang mengingat adegan erotis itu.


"Aku tau kau mencintai ku, dan saat itu aku belum mengerti perasaan ku pada mu. Aku sangat menyayangi mu dan hanya ingin selalu melindungi mu..., " sambungnya lagi.


"Sejelas itu kah, aku?" batin Zeline


"Bahkan aku tak sanggup bercinta dengan mu sebelum ikatan pernikahan, lebih baik aku bercinta dengan wanita lain daripada harus merusak mu..., "


Untaian kalimat manis yang keluar dari mulut seorang perayu ulung sekaliber Kevlar membuat hati Zeline luluh lantah.

__ADS_1


"Benarkah? Seberharga itu diriku bagi mu?" batin Zeline tersentuh.


"Setelah kau pergi, aku baru tau bahwa aku mencintai mu... Benar-benar mencintai mu, bukan nafsu semata" Kevlar mengakhiri kalimatnya dan membalikan tubuh, setengah tubuhnya menyandar pada pagar balkon, masih dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celana, kini Kevlar bisa menatap wajah cantik Zeline.


Zeline memberanikan diri menatap Kevlar tanpa ekapresi. Ia bingung harus berkata apa atau berekspresi seperti apa.


Kini ia telah menikah dengan King, sepupu Kevlar sendiri. Apa yang pria itu kini harapkan darinya?


"Aku memaafkan mu..., " ucap Zeline akhirnya, sambil tersenyum getir.


Zeline berusaha menyembunyikan perasaan gundahnya.


"Shit!! Senyum itu...," umpat Kevlar, Zeline memang berbeda dari wanita-wanitanya yang lain. Gadis itu mempunyai pesona sendiri yang tak bisa ia elakan.


"Kemarin aku memberitahu tentang hubungan kita pada King... Saat itu aku sudah tidak bisa biasa saja atau baik-baik saja mengetahui kau adalah calon istri sepupu ku sendiri....jadi aku bilang bahwa aku adalah pria yang mendapat kehormatan memiliki ciuman pertama mu..., "


Blushing!


Zeline merona dan terjebak rayuan Kevlar. Ia melepas tatapannya dan memalingkan wajah.


"Ko beda dari yang dikatakan King, ya?"


"Aku minta maaf...," Kevlar menyentuh tangan Zeline dan menariknya hingga telapak tangan gadis itu menempel didada Kevlar.


Zeline kembali menatap Kevlar, dadanya sudah bergemuruh, ia panik bagaimana bila ada keluarga King yang melihat. Ya, Zeline tidak peduli perasaan suaminya.


Zeline menarik tangannya tapi Kevlar menahan malah pria itu melangkah lebih dekat mengikis jarak hingga Zeline bisa mencium wangi parfum exclusive yang menguar dari tubuh Kevlar.


"Bahkan wanginya pun masih sama...., " batin Zeline


"Lepas, Kev...aku mohon" Zeline memelas, ia sadar statusnya.


Kevlar tak bergeming.


Prok...


Prok...


Suara tepukan menyadarkan keduanya dan menoleh kearah suara.


Saat Kevlar lengah, Zeline menarik tangannya. Matanya membulat sempurna seperti seorang istri yang sedang kepergok selingkuh oleh suaminya.


"King..., " gumamnya.


"Sudah, reuninya?" sindir King.


Tak ada jawaban, King makin melangkah mendekat dengan rahang mengetat dan kobaran bara api seolah terlihat dimatanya.


"Sepertinya akhir-akhir ini kau selalu mencari masalah dengan ku! Apa peringatan ku tadi malam belum kau mengerti?" King menggeram dan hendak menerjang Kevlar.


Lagi, Zeline menahannya. Suaminya memang memiliki tempramen yang tinggi.


"King..." Zeline menggelengkan kepala, dengan tatapan memohon.

__ADS_1


King menatap Zeline kesal, terdengar suara gigi geraham yang beradu didalam mulut King.


Ia mencoba meredam amarah suaminya tersebut, tak ingin pesta pernikahannya berubah menjadi arena tinju.


Gadis itu mengalungkan tangannya dileher King dan merapatkan tubuhnya dengan pria itu.


"Pergilah Kev... Aku hanya ingin berdua dengan suami ku!!" pinta Zeline tanpa melepaskan tatapannya pada manik abu King.


Ada rasa pilu tapi lebih banyak puas karena berhasil membuat Kevlar berada di posisinya,seperti 4 Tahun lalu. Apa iya Kevlar sudah merasa seperti itu?


Pria itu pun berlalu dengan perasaan kesal mengepal kedua tangannya.


Amarah King memudar hanya dengan ucapan Zeline yang mengakuinya sebagai suami. Belum lagi kini Zeline bersikap agresif, pria itu pun memegang pinggang Zeline dengan posesif.


Setelah Kevlar pergi, keduanya masih bertatapan.


"Jangan pernah dekat-dekat dengan Kevlar lagi!" King berujar dengan tatapan tajam.


"Kenapa?" tanya Zeline pura-pura polos.


"Aku tidak suka!" jawab King ketus


"Oke..., Kau juga jangan dekat-dekat dengan Jenifer!"


"Bingo!!" Zeline tersenyum miring.


"Aku tidak bisa janji!" saut King datar


"Kalau begitu, aku juga tak bisa janji!" Zeline mencebik. Ia melepaskan tangannya dari leher King dan mengambil jarak.


Tapi King tak melepaskan tangannya dari pinggang Zeline dan kini tangan Zeline berpindah ke dada bidang King.


"Boleh cium?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulut King.


"Heuh?" Zeline melebarkan matanya dan mengangkat kedua alisnya tak percaya dengan pendengarannya. Baru saja pria itu terlihat emosi sekarang ia malah merayunya.


"Ya udah, cium pipi" tawar King lagi saat tak mendapatkan jawaban.


Zeline mengangguk dengan menggigit bibirnya dan berhasil membuat King gemas.


King memiringkan kepalanya agar mudah menggapai pipi Zeline, tapi bibir gadis itu lebih menggoda.


King memerangkap tubuh Zeline dengan satu tangannya dan tangan satunya menarik tengkuk Zeline.


Cup.


Pria itu untuk pertama kali mencium bibir istrinya dengan lembut, menggigit kecil disana menunjukan kelihaiannya, memberi kesan dan berharap menjadi candu untuk gadis itu, Zeline meronta tapi pria kekar didepannya lebih kuat. Sungguh bibir ranum itu sudah membuatnya gila.


Saat istrinya itu sudah kehabisan nafas, barulah King melepaskan ciuman bersamaan dengan pelukannya lalu berlari masuk kedalam ballroom sambil terkekeh, ia menjilat bibirnya sendiri.


"Manis...., " gumamnya.


"Kiiiing Koooooong!!!! Kamu bilang cium pipi!!" teriak Zeline geram dengan mata melotot sambil menghapus kasar dengan punggung tangan jejek bibir King dibibirnya.

__ADS_1


Nafas Zeline tersengal...


"Jantung ku... Mau copot rasanya, Tuhaaaan!!" gumam Zeline sambil memegang dadanya.


__ADS_2