
Saat ini Aryan tengah meminum banyak minuman beralkohol di salah satu bar milik temannya untuk memenangkan dan melupakan beban pikirannya
"Halo Tuan Marvel, saat ini Tuan Aryan sedang minum-minum di bar xxxxx Tuan" ucap anak buah Marvel yang ditugaskan untuk mengawasi Aryan atas perintah Marvel
"baiklah aku akan segera kesana" Ucap Marvel mengusap wajahnya kasar
"baiklah Tuan" sambungan diputuskan secara sepihak. Marvel bergegas menuju bar yang disebutkan anak buahnya tadi. Saat Marvel tiba di bar yang dimaksud, Marvel mengedarkan pandangannya mencari Aryan dan benar saja saat ini Aryan tengah dikelilingi wanita-wanita berbusana minim dengan kancing baju yang telah terbuka menampakkan dada bidang dan perut sixpack nya
"Permisi nona-nona" ucap Marvel memapah Aryan yang saat ini tengah mabuk berat dan membawanya ke salah satu kamar yang tersedia di Bar ini
"Apa begini caramu lari dari masalah aryan? Dengan minum-minum sampai mabuk? " tanya Marvel kesal dengan sahabatnya ini
__ADS_1
"Ayolah Marvel,kau juga minumlah, ini begitu nikmat" ucap Aryan yang perlahan tak sadarkan diri akibat mabuk berat
"Jika Aluna mengetahui kelakuanmu ini Aryan, pasti dia akan membencimu" gumam Marvel membayangkan kondisi Aluna sekarang
Aluna perlahan-lahan membuka matanya yang telah bengkak dengan pipi yang membiru karena tamparan keras Aryan tadi. "Mbok, dimana mas Aryan" tanya Aluna mencoba duduk bersandar dibantu mbok rara
"Tuan Aryan sejak tadi belum pulang nona" Ucap mbok rara sedih melihat kondisi Nona mudanya yang kembali terisak. Mengerti jika Aluna ingin sendirian saja di kamar membuat mbok rara dan pelayanan lain beranjak meninggalkan kamar majikannya.
"Kasihan sekali nasib nyonya Aluna ya mbok" Ucap pelayan yang kasian melihat kondisi nyonya mudanya yang begitu kacau
"Iyah kau benar, semoga masalah dalam keluarga ini cepat selesai" Ucap Mbok rara meneteskan air mata
__ADS_1
"Maafkan aku mas, dengarkan penjelasanku dulu" tangis Aluna sambil memukul kepalanya. Aluna terbayang dengan ucapan Aryan beberapa jam yang lalu kembali terisak dan beranjak bangun mengambil buku diary nya untuk menuliskan isi hatinya dan kebenaran tentang masa lalunya yang selama ini ia simpan sendiri
Setelah selesai menulis semua yang ada di hatinya, Aluna mengambil kotak kecil yang berisi kalung bunga warna biru laut dengan aksen berlian ditengahnya yang telah rusak dan meletakkannya diatas buku diary nya
"Semoga mas Aryan dapat membaca dan memahaminya suatu hari nanti. Maafkan aku mas karena pernah mencintai orang lain sebelum dirimu, semoga kau dapat mengetahui yang sebenarnya mas agar aku tak dibenci oleh lagi. Aku bukan wanita murahan mas" lirih Aluna dan meletakkan diary nya di laci meja kamarnya. Aluna beranjak mengambil baju-bajunya dan meletakkannya di koper dengan air mata yang tak hentinya mengalir.
Setelah selesai mengisi kopernya, Aluna berjalan sambil menarik kopernya untuk meninggalkan Mansion Arkarendra. Saat Aluna berbalik melihat kamarnya, terbayang kebersamaan yang dilewatinya bersama Aryan.
Tak terasa bulir bening kembali terjatuh dari matanya. Aluna diam-diam keluar dari Mansion Arkarendra agar tak diketahui oleh pekerja rumahnya. Aluna berniat menuju halte bus dan pergi sejauh mungkin dari kota ini
"Aku akan merindukanmu mas" lirih Aluna menatap Mansion Arkarendra dan menaiki taksi online pesanannya
__ADS_1
Bersambung....