Cinta Untuk Tuan Muda Lumpuh

Cinta Untuk Tuan Muda Lumpuh
BAB 45. Bersalin


__ADS_3

Pagi ini, Vivian sengaja menunggu kedatangan Aryan di lobi perusahaan. Saat tengah menunggu, Vivian melihat Natasya yang berjalan memasuki pintu utama sambil merogoh sesuatu dalam kantung yang dipegangnya.


Vivian mengambil kesempatan dengan berjalan mendekati Natasya dan menyandung kakinya sampai Natasya terjatuh dan menabrak ember berisi air bekas mengepel lantai, seketika wajah dan pakaian Natasya basah kuyup dan kotor sehingga para karyawan menertawakannya.


Natasya yang tahu jika ini ulah Vivian beranjak mendekati Vivian "Berani sekali kau, apa ini sopan santun yang diajarkan padamu? DASAR TIDAK BERGUNA..... " Teriak Natasya melayangkan tangannya menampar Vivian namun dicegah oleh Aryan


"Jangan sentuh sekretarisku atau kau akan kutendang keluar dari tempat ini" Ucap Aryan tegas


"Tapi Aryan wanita ini..... "


"cukup Natasya, jika kau datang dan menganggu pada karyawan ku disni, kau akan merasakan akibatnya" Ucap aryan menatap tajam natasya


"Baiklah, dan untukmu wanita ular, urusanmu belum selesai denganku. Kau akan merasakan akibatnya karena berani bermain-main denganku, CAMKAN ITU... " Tegas Natasya menunjuk Vivian dengan sorot mata tajamnya dan berlalu meninggalkan lobi perusahaan


"Terimakasih Tuan" Ucap Vivian bahagia karena untuk pertama kalinya Aryan membelanya


"hmm, 20 menit lagi ke ruanganku segera" ucap Aryan dingin berjalan menuju ruangannya "baiklah Tuan"


Sebelum Vivian pergi ke ruangan Aryan,terlebih dahulu dia membuat kopi Capuchino yang nikmat untuk tuannya


"Aku yakin Tuan Aryan akan menyukai Capuchino buataknku" Ucap Vivian yakin dan berjalan menuju ruangan Aryan, sesampainya di ruangan Aryan


"Tok.... Tok.... Tok.. " Vivian mengetuk pintu "Masuk" ucap Aryan. Saat masuk ke ruangan Aryan, Vivian yang memakai pakaian dengan dada yang sedikit terbuka menundukan badanya meletakkan kopi buatannya di meja Aryan sehingga dua gundukan miliknya terpampang jelas.

__ADS_1


Marvel seketika menatap tajam Vivian karena perilakunya yang genit namun Aryan terus membaca berkas di tangannya dan sama sekali tak melihat sekretarisnya "Kopinya Tuan" ucap Vivian tersenyum, Aryan hanya melirik sekilas kopi buatan Vivian dan mulai membuka pembicaraan


"Segera kemasi barang-barang mu dan silakan angkat kaki dari perusahaan ini" Vivian terperanjat tak percaya dengan ucapan Aryan barusan


"Apa maksdunya Tuan? Saya dipecat? Tapi apa kesalahan saya Tuan" Tanya Vivian khawatir


"Apa dengan mengerjai orang yang datang di perusahaan adalah hal yang benar?" Aryan balik bertanya


"**....tapi tadi anda membela saya Tuan" Ucap Vivian gemetar


"Aku membelamu bukan berarti aku membenarkan perbuatanmu"


Seketika Vivian bersimpuh di kaki Aryan "Saya mohon Tuan jangan pecat saya, jika saya dipecat dari perusahaan ini tidak ada yang akan menerima saya untuk bekerja di perusahaan mereka, tolong jangan pecat saya tuan, saya harus tetap bekerja untuk membayar pengobatan ibu saya" Ucap Vivian berderai air mata


Aryan menghela nafas sebelum menjawab Vivian "Baiklah Vivian, aku masih mentolerir kesalahanmu, dan jika kau masih melakukan kesalahan sekali lagi di depan mataku, maka segera angkat kaki dari perusahaan ku" Ujar Aryan


"Baiklah tuan" ucap Vivian berdiri dan menghapus air matanya


"kalau begitu saya permisi tuan, masih ada berkas yang harus saya kerjakan" imbuhnya lagi "silakan" Vivian segera pergi meninggalkan ruangan Aryan


6 bulan telah berlalu, telah banyak hal yang Aluna hadapi dalam menata hidup barunya. Kenangan akan suaminya terus saja terkenang di hati dan pikirannya. Semua orang mungkin melihat jika Aluna adalah orang yang baik dan dokter yang ramah. tapi disaat Aluna sendirian,dia selalu menangis dan memendam dukanya sendirian.


Aluna juga mengalami kesulitan berjalan dan menunduk karena perutnya yang telah membesar. Saat tengah memeriksa pasien bersama sarah, Aluna meringis kesakitan karena nyeri yang hebat di perutnya

__ADS_1


"Aa.....aduh.. Perutku..... Tolong" Ringis Aluna, sarah yang cemas dengan sigap membantu Aluna


"Sepertinya sudah waktunya untukmu melahirkan" Ucap sarah memanggil para perawat untuk membantu Aluna ke ruangan bersalin


Dalam ruang bersalin, Aluna yang gemetar menahan sakit mengenggam kuat rolling brankar dengan keringat yang terus membenciri keningnya. Sarah mencoba menenangkan Aluna yang ketakutan dan meringis kesakitan


"Kasian sekali dirimu Aluna, disaat seperti ini seharusnya kau ditemani suamimu" Batin sarah pilu mendengar teriakan kesakitan Aluna


Sedangkan di perusahaan Arkarendra Aryan terus saja mondar-mandir seperti setrikaan "Ada masalah apa? daritadi mondar-mandir terus" Tanya Marvel


"Aku juga bingung Vel, aku begitu gelisah memikirkan Aluna, Apa terjadi sesuatu pada istriku ya" Seketika Marvel terdiam mendengar ucapan aryan.


"Ibu tarik nafas...... Dorong sekali lagi" Ucap bidan yang membantu proses persalinan Aluna, Aluna mengikuti ucapan bidan dan terus berusaha melahirkan buah hatinya. terdengar tangisan bayi yang memenuhi ruangan


"Alhamdulillah bayi pertama telah lahir"ucap bidan mengangkat bayi mungil ditangannya


"Tapi perut saya masih sakit Bu" lirih Aluna pelan "ibu Aluna tenang yah, masih ada dua bayi lagi dalam perut ibu, sekarang ibu ikuti perintah saya ya" Ucap bidan dan kembali membantu persalinan Aluna.


Dengan sisa tenaganya Aluna berhasil melahirkan bayi keduanya. Setelah berhasil melahirkan bayinya yang ketiga, Aluna tak sadarkan diri karena rasa sakit yang menyerangnya, sarah bahagia melihat tiga bayi mungil itu tapi khawatir dengan kondisi Aluna yang tak sadarkan diri


"Bagaimana ini dokter, Bu Aluna tak sadarkan diri" Tanya sarah cemas


"Itu wajar bu sarah, apalagi bu Aluna melahirkan 3 bayi sekaligus, pasti rasa sakit yang dialaminya jauh lebih hebat" Ucap bidan tersenyum menerangkan kepada Sarah

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2