
"Brak...... " terdengar suara keras yang memekikkan telinga.Saat Aluna membalikkan badannya
"MAS......" Teriak Aluna melihat Aryan telah terangkat di udara dan terbanting ke bawah dengan cukup keras. Sementara mobil yang menabraknya telah ringsek karena menabrak dan tertimpa tiang listrik.
"MAS...... " Teriak Aluna berlari menuju Aryan yang telah bersimbah darah
"Mas kumohon bertahanlah... " pinta Aluna kepada Aryan yang masih setengah sadar. Aluna mengangkat kepala suaminya yang telah basah karena darah yang terus mengalir
"Kumo...hon maafkan a... aku Aluna" Suara Aryan kian melemah
"SIAPAPUN TOLONG AKU.... " teriak Aluna pada orang-orang yang juga mendengar bunyi yang cukup keras dan menatap keduanya
"Kumohon bertahanlah... " pinta Aluna terus menjatuhkan air matanya
"Ini ad..adalah hukuman unt..tukku karena te...lah menyia.. nyiakan kalian" Ucap Aryan memegang erat tangan Aluna
"Jangan berkata seperti itu mas... maafkan aku yang terbawa emosi dan menyalahkanmu" lirih Aluna menyatukan keningnya dengan kening Aryan. Jas kebesarannya yang telah berwarna merah terkena darah aryan tak lagi dia perdulikan. Orang-orang yang terharu melihat adegan didepannya Ikut berlinang dan mengambil video keduanya
Tak berselang lama terdengar bunyi ambulans yang terhenti
"Dokter Aluna" sapa perawat pria yang berlari ke arah Aluna
"Kumohon bantu aku, selamatkan ayah dari anak-anakku" pinta Aluna membantu mengangkat Aryan untuk berbaring di brankar ambulans. Aryan yang mendengar ucapan istrinya tersenyum dan perlahan- lahan menutup mata
__ADS_1
Selama menemani Aryan dalam ambulans, Aluna terus saja menangis dan mengenggam tangan suaminya.
"Dokter tolong selamatkan suamiku" pinta Aluna pada dokter yang telah menunggu kedatangannya di rumah sakit
"Baiklah dokter Aluna, dan kalian cepatlah antar pasien ke ruang operasi" Ucap dokter tersebut berlari ke ruang operasi mengikuti dua perawatan pria yang mendorong brankar Aryan. Aluna melepas genggaman tangannya pada aryan saat pintu ruangan mulai tertutup
"Bertahanlah suamiku, tetaplah berjuang demi aku dan juga anak-anak kita" lirih Aluna menatap ruang operasi didepannya
Selama operasi berlangsung Aluna tak henti-hentinya bedoa demi keselamatan suaminya
Mendengar Adzan dzuhur yang telah berkumandang, Aluna menghapus air matanya dan menuju mushala rumah sakit untuk menjalankan kewajibannya. Aluna bersujud sangat lama sambil terus terisak.
Aluna menengadahkan tangannya dan mulai berdoa "Ya Allah Ya tuhanku, tolong selamatkan suamiku yang saat ini tengah berjuang hidup dan mati. Jangan ambil suamiku dari hidupku dan anak-anakku. Jawablah setiap tangisan anak-anakku yang begitu merindukan ayahnya. Selamatkanlah ayah dari anak-anakku Ya Allah, sesungguhnya hanya Pada-Mu tempat kami berlindung dan meminta pertolongan"
Setelah berdoa dan menjalankan kewajibannya, Aluna kembali ke depan ruang operasi Aryan sambil terus berdoa berharap semuanya baik-baik saja
"bagaimana kondisi suami saya dokter?" tanya Aluna khawatir
"Alhamdulillah bu Aluna, operasinya berjalan lancar. Tadi pasien sempat drop karena kekurangan banyak darah, namun ada seseorang yang telah mendonorkan darahnya untuk pasien" Aluna bernafas lega mendengar penuturan dokter
"Alhamdulillah, Terimakasih Ya Allah" Ucap Aluna bersyukur
"Lalu Siapakah yang mendonorkan darahnya untuk suami saya dokter?" Tanya Aluna
__ADS_1
"Sayangnya pasien telah meninggal dunia. Mari saya antarkan ke kamar jenazah" Ucap dokter mulai berjalan dan diikuti Aluna dibelakangnya
Saat dokter membuka kain penutup wajah jenazah tersebut, betapa terkejutnya Aluna melihat wajah jenazah itu yang Aluna kenali
"Paman Tio"
Flashback on
Tio yang marah karena tindakan Aluna yang telah memenjarakannya 6 tahun yang lalu berencana membalaskan dendamnya hari ini. Tio yang terus mengamati Mansion Arkarendra melihat Aryan yang keluar dan melajukan mobilnya meninggalkan Mansion Arkarendra
"Kau akan merasakan pembalasan dendamku selama ini keponakanku Aryan" Ucap Tio tersenyum smirk
Tio mulai mengikuti Aryan sampai di sebuah taman. Tio mengamati jika Aryan dan Aluna tengah bertengkar. Tak berselang lama Aluna beranjak pergi meninggalkan Aryan yang mematung ditempat
"Waktu yang tepat" gumam Tio dan mulai melanjutkan mobilnya untuk menabrak Aryan. Aryan yang tengah diliputi rasa bersalah tidak melihat mobil Tio yang mengarah padanya. Alhasil Aryan tertabrak dan terangkat ke udara dan terbanting cukup keras. Paman Tio yang belum puas kembali melanjutkan mobilnya untuk menabrak Aluna, namun karena kesalahannya yang tak bisa mengontrol laju kendaraannya, paman Tio menabrak tiang listrik dan tiang tersebut jatuh menimpanya dan juga mobilnya
Flashback off
"Benar bu Aluna, orang ini yang telah mendonorkan darahnya untuk pasien, orang ini juga yang terlibat dalam kecelakaan itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia berpesan padaku agar kalian memaafkan kesalahannya selama ini. Jika perlu ambillah jantungnya untuk didonorkan pada pasien jika itu bisa menebus kesalahannya selama ini" Ucap dokter menjelaskan
Aluna terharu mendengarkan penuturan dokter dan mulai mendekati jenazah paman Tio
"Terimakasih telah membantu menyelamatkan suamiku. Sekarang beristirahatlah dengan tenang, kami semua telah memaafkanmu"Ucap Aluna dan mulai menutup wajah Tio dengan kain
__ADS_1
"mari bu Aluna, pasien telah dipindahkan ke ruang rawat VIP di rumah sakit ini, mari saya tunjukkan" Aluna mengangguk dan kembali mengikuti langkah dokter menuju ruang rawat suaminya
Bersambung...