Cinta Untuk Tuan Muda Lumpuh

Cinta Untuk Tuan Muda Lumpuh
BAB 41. Cerita Aluna (1)


__ADS_3

Aryan berjalan- jalan di taman untuk memenangkan hati dan pikirannya. Saat Aryan tengah duduk di kursi taman, Aryan melihat 2 anak kecil yang tengah membuka kantung kresek berisi makanan


"Dek alhamdulillah tissu jualan kaka habis semua. Jadi kaka bisa beliin adek makanan" ucap anak laki-laki itu kepada adik perempuannya


"Yeah asik Terima kasih kakak" ucap anak perempuan itu memeluk kakaknya "sekarang adek makanan yang kenyang yah"


"kakak udah makan" tanya anak perempuan itu


"kaka akan makan setelah kamu makan kok dek"


"kita makan bareng yuk kak, sini adek suapin" Ucap anak perempuan itu sambil menyuapi kakaknya


Aryan yang melihat anak kecil itu berkaca-kaca karena mengingat teman masa kecilnya yang telah meninggal


"Muni, kaka rindu kamu dek, semoga kamu tenang yah dialam sana" ucap Aryan menghapus air matanya dan beranjak mendekati dia bocah itu dan memberikan beberapa lembar uang kertas dan berjalan pulang

__ADS_1


Setibanya di Mansion Arkarendra, aryan memilih menghabiskan sisa pekerjaannya di kamarnya. Saat Aryan membuka laci meja tempatnya menyimpan berkas perusahaan, Aryan melihat buku diary biru dan kotak merah retak di atasnya. Aryan ingat jika kotak tersebut milik Aluna yang telah dibantingnya di restoran dulu. Karena penasaran dengan buku diary istrinya, Aryan perlahan membuka dan membaca kalimat yang tertera di diary Aluna.


Untuk Suamiku Aryan


Maafkan aku karena telah menemui teman SMA ku di restoran itu hari ini. Temanku tak bermaksud apa-apa padaku, dia hanya menunjukkan dan mengembalikan kalungku yang terjatuh saat aku menolong temanku yang tak sadarkan diri saat hari pelulusan dulu. Aku bahagia karena dia telah menemukan benda berharga milikku. Kalung itu adalah kalung pemberian teman semasa kecilku yang berjanji akan menikahiku saat kami dewasa nanti. Aku bertanya pada teman semasa kecilku bagaimana dia bisa mengenaliku saat kami dewasa jika wajahku telah berubah nanti. Dia tersenyum dan menjawab "aku akan mengenalimu jika kamu mengenakan kalung ini, tolong jaga baik-baik ya karena ini kalung pemberian ibuku. Saat kita dewasa nanti jika melihatmu mengenakan kalung ini aku akan mengenalimu dan aku akan menikahimu" Ucap pangeran kecilku. Aku telah berjanji akan menjaga kalung ini dengan baik mas,oleh karena itu aku bahagia saat temanku menemukannya untukku. Aku berniat akan mengembalikan kalung ini dan meminta maaf kepada pangeran kecilku. Aku tak bisa menikahinya karena aku telah menjadi istrimu mas. Maafkan aku karena pernah menunggu dan mencintai orang lain sebelum dirimu. Tapi untuk saat ini dan seterusnya hanya kaulah Suami dan Imamku mas.


Seketika bulir bening terjatuh dari mata Aryan. Aryan kembali membuka lembaran diary selanjutnya


Ini adalah penggalangan kisahku saat bertemu dengan pangeran kecilku.


18 tahun silam, saat aku menunggu ibuku yang akan menjemputku ke sekolah, aku diculik orang tak dikenal hingga aku tak sadarkan diri. Saat aku terbangun aku telah berada di gudang yang cukup luas dan terdapat beberapa anak-anak sama sepertiku yang terus menangis dan disiksa. kami dipaksa menjual berbagai makanan ringan dan tissu di pinggir jalan. Untunglah dagangan ku selalu habis dan selalu mendapatkan uang lebih dari para pembeli. Aku dan teman-teman yang lainnya diberi makanan karena telah menjual dagangan masing-masing sampai habis tak tersisa.


Saat aku tengah memakan makananku, aku melihat seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tua dariku tak mendapatkan makanan dan mungkin penyebabnya karena jualannya tak habis terjual. Aku perlahan mendekatinya untuk berbagi makananku dengannya.


"Kakak sudah makan?" Tanyaku namun anak lelaki itu menggeleng "kalau begitu mari makan sama adek, adek punya makanan lebih nih" ucapku menyodorkan piringku "tapi dek itu hanya sedikit dan hanya cukup untukmu" ucap lelaki kecil itu

__ADS_1


"Tapi perut adek kecil kok, kita makan sama-sama yah Kak, sini adek suapin" ucapku dan mulai menyuapi lelaki kecil itu


"Terimakasih kasih ya dek telah berbagi sama kakak"


"sama-sama kakak" ucapku tersenyum sambil terus menyuapi lelaki kecil itu. "Ngomong-ngomong siapa namamu dek" tanya lelaki kecil itu


"adek lupa nama adek kak,tapi ibu selalu memanggil adek dengan nama Muni" ucapku sambil terus menyuapi kakak itu


"muni? Nama yang bagus, kakak boleh memanggilmu dengan nama itu kan dek" tanya lelaki kecil itu


"tentu saja kakak" ucapku tersenyum


Setiap hari pertemanan kami semakin dekat. Namun terkadang kami di siksa dan tak diberi makanan karena dagangan kami tak terjual. Kakak akan membawaku pergi dari gudang itu dan berjanji akan selalu menjagaku. Aku mengangguk dan tepat tengah malam saat semua orang tertidur, aku dan kakak melarikan diri sejauh mungkin


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2