
"Maaf Bi, Saya menolak untuk menerima rumah dari anda, Saya ingin mencoba untuk mandiri, saya akan menyewa rumah untuk kami tinggal setelah menikah, sampai saya bisa membeli rumah sendiri.
Tama menolak setelah mendengar maksud Bu Ratna ingin membeli rumah untuk pernikahan mereka.
Bu Ratna yang mendengar Seperti itu tidak tahu harus mengatakan apa pun lagi, karena itu sudah menjadi keputusan Tama, bagaimana pun ia juga tidak mau terlalu memaksa dan membuat Tama tidak nyaman.
•••
3 Minggu sudah berlalu, Persiapan pernikahan Shena dan Tama akan segera di gelar, setelah kejadian itu, Shena dan Tama tak pernah bertemu lagi, semua urusan keluarga semua di urus oleh
"U..Wek. U..Wek." Pagi-pagi saat baru saja bangun dari tidurnya, Shena merasa sangat mual.
Bu Ratna yang baru saja akan masuk membangun putri nya mendengar suara Shena yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.
"Ma."
"Kamu muntah muntah?." tanya Bu Ratna.
"Iya Ma, seperti nya aku masuk angin." ucap Shena.
__ADS_1
"Ayo kita periksakan ke dokter."Ajak Bu Ratna.
Shena yang merasa tidak nyaman karena sudah 2 hari ini ia muntah-muntah pun menyetujui permintaan ibu nya.
Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Bu Ratna menghubungi suami nya yang berada di kantor saat ini. Hingga membuat Pak Anton pun menyusul kesana setelah itu.
Setelah melakukan pemeriksaan dari dokter, dokter mengatakan kalau Shena kini tengah mengandung, Bu Ratna yang mendengar pun tersenyum, begitu juga dengan Shena yang antara senang dan binggung.
Saat Pak Anton sampai, Bu Ratna dan Shena sudah selesai dan keluar dari ruangan dokter.
"Bagaimana keadaan Shena, apa dia sakit??" Tanya Pak Anton.
"Benarkah?, selamat sayang." Pak Anton memeluk putri nya.
Shena terdiam, apa ini harus di rayakan?, Aku bahkan tidak nyakin Reaksi Tama akan seperti reaksi kedua orang tua ku.
•••
Shena pun pulang ke rumah bersama orang tua nya, Dengan segera keluarga Tama di hubungi untuk kabar ini. Ingin Rasa nya Shena berada di sana dan melihat reaksi pertama Tama saat mendengar kabar ini. Apa senang, atau ia marah, atau biasa saja.
__ADS_1
Tama yang baru saja pulang ke rumah pun sudah di tunggu oleh orang tua nya yang sejak tadi duduk di ruang tamu.
"Tama." Panggil Bu Sisil.
"Dari mana saja kamu, pulang selarut ini. apa kamu tidak ingat kalau kamu akan segera menikah dengan Shena."Ucap Pak Toni dengan tegas.
"Aku tahu." Jawab Tama datar dengan mata tertunduk.
"Dengar Tama, Mama dan Papa baru saja mendengar kabar kalau Shena tengah hamil anak kamu, Jadi acara nya tidak akan di tunda lebih lama lagi, dalam beberapa hari kalian akan menikah." Tutur Bu Sisil.
Tama yang mendengar Shena hamil pun mengertakan Kiki nya, Mengepalkan tangan nya dengan kuat.
"Iya, kalian atur saja." Begitu saja balasan dari Tama, lalu berjalan pergi, melewati Brams yang baru saja keluar dari kamar.
"Kenapa dia ma?, Seperti nya dia marah." Ucap Brams.
"Mama tuh ga ngerti sama adik kamu itu, Dia yang melakukan, giliran Shena hamil, dia malah acuh dan terkesan marah."Bu Sisil mengelengkan kepala melihat reaksi pertama Tama saat mendengar kehamilan Shena.
"Shena hamil?." Batin Brams. ia pun ikut kesal saat mengetahui hal itu, kesal pada Tama yang bersikap seperti itu.
__ADS_1