Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
19 - Apakah sesusah itu


__ADS_3

Shena pun berangkat bersama Brams ke restoran milik teman dekat Brams mengunakan mobil milik Shena.


"Kau tidak sedih kan dengan sikap Tama?, dia memang anak nya seperti itu, kalau hati nya sudah baik, dia pasti tidak akan begitu lagi sama kamu."Ucap Brams.


Shena tersenyum. "engak kok kak, kalau aku sedih ga mungkin aku ikut kakak sekarang."Jawab Shena.


Ia tahu ucapan Brams hanya untuk menyenangkan nya, karena ia pun tidak tahu sampai kapan Tama akan bersikap dingin pada nya.


Shena begitu antusias, ia memasuki sebuah restoran, mata nya mencari sosok chef yang akan mengajari nya, meski ia tidak tahu yang mana orang nya.


"Ayo turun Shena."ajak Brams.


Shena membuang nafas kegugupan nya sebelum ia turun dari mobil. namun saat ia masuk ke dalam restoran, Shena merasa sangat mual karena ia mencium beberapa aroma yang tidak ia suka di saat kehamilan.


Di awal kehamilan, Shena mulai merasa kan beberapa aroma yang sama sekali tidak ia sukai, seperti bau bawang dan juga nasi yang baru Mateng, Namun ia mencoba mengontrol demi bisa memasak untuk Tama. meski mengecewakan hasil nya. tapi ia telah berusaha.

__ADS_1


Meski begitu, Shena tetap tampak gelisah, meski ia berusaha mengontrol dirinya. "Uwek." Brams yang melihat Shena ingin muntah pun mengurungkan niat nya untuk mengajak Shena masuk ke dalam.


"Kau tidak apa-apa Shena?." tanya Brams khawatir.


"Aku merasa mual dengan aroma nya kak."jawab Shena.


"Kalau begitu ayo kita keluar, jangan memaksa kan dirimu tetap disini." Balas Brams.


"Jangan kak." Shena menahan tangan Brams untuk tidak keluar. karena ia sangat ingin bisa bertemu dengan chef itu dan belajar dengan nya. semua ia lakukan semata-mata untuk Tama seorang.


"Aku ga apa-apa kok kak, Aku bisa menahannya, Aku benar-benar ingin belajar kak." Ujar Shena.


Brams merasa kasihan, ia melihat keseriusan dan keinginan besar Shena belajar memasak, Brams pun tak bisa mengatakan apa pun selain mengangguk dan kembali berjalan masuk.


•••

__ADS_1


Malam saat Tama pulang, ia masuk dan di sambut oleh wangi masakan yang sudah merata di 1 rumah itu. Tama terpaku sejenak saat ia mencium aroma masakan yang berseluyuran di hidung nya.


"Tama, kau sudah pulang. Ayo makan, aku sudah siapkan masakan spesial untuk mu."Ucap Shena.


"Aku sudah makan." balas Tama sembari berjalan masuk.


"Tapi aku sudah masak untuk mu tam, coba lah dulu sedikit."Shena terus mengikuti langkah Tama yang begitu cepat.


Tiba-tiba saja Tama menghentikan langkah nya, membuat Shena terkejut dan tak sempat mengerem langkah nya, Itu tubuh kecil Shena menabrak tubuh kekar Tama.


"Au, Maaf Tam." Reflek Shena meminta maaf.


Tama membalikan tubuh nya dan menatap Shena.


"Seharusnya aku dengar kata Yuna, kalau kau ada maksud lain dengan ku selama ini Shena, Dengarkan aku!, Jangan berusaha terlalu keras, karena aku tidak akan menerima kehadiran mu dan bayi mu." Di akhir kalimat nya, ia melihat perut Shena, Shena pun merasa sangat sedih dengan ucapan laki-laki itu.

__ADS_1


"Apa aku benar-benar tidak akan mendapatkan kesempatan memiliki hati mu Tama?, Aku mencintai mu sejak dulu, apa sesusah itu kau menerima ku Tam." Gumam Shena dalam hati melihat pria itu melangkah pergi dari hadapan nya saat ini.


__ADS_2