Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
18 - Dihiraukan Tama


__ADS_3

Setelah kepulangan orang tua Tama, Shena merasa sangat takut untuk menghadap laki-laki itu.


Tama tampak duduk di meja makan sembari menatap layar laptop nya, sementara Shena sedang mencuci piring.


"Shena, ayo lah, Kau harus bicara dengan nya, kalau kau akan pergi besok dengan kak Brams."Batin Shena menyakinkan diri nya untuk meminta izin pada Tama.


Shena menghela nafas, mencoba untuk membuka mulut yang tiba-tiba saja membeku dan susah untuk berbicara.


Hingga malam semakin larut, Shena masih belum membuka mulut nya untuk bicara, kejadian saat melihat Tama di marahi orang tua nya membuat Shena sangat nyakin suasana Hati Tama sedang tidak baik-baik saja.


"Tama, kau ingin teh?." Tanya Shena dengan lembut.


"Tidak." Jawab nya begitu singkat.


"Em, Tama, maaf soal hari ini, aku tidak bermaksud membuat kamu dimarahi Mama."Ucap Shena, Tapi Tama tidak menjawab nya, ia hanya diam menatap layar monitor nya. Shena pun tampak cemberut di hiraukan oleh Tama.


"Tam..."

__ADS_1


Tiba-tiba Tama mengangkat wajah nya, saat Shena ingin bicara lagi. sontak membuat Shena menelan Saliva nya.


"Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk, pergi lah istirahat." ucap nya dengan kasar, terasa oleh Shena, namun lagi-lagi ia hanya bisa menelan bulat-bulat perlakuan itu.


Shena pun lalu masuk ke dalam kamar, duduk di kamar menunggu Tama juga masuk, namun lagi-lagi, hari semakin larut Tama masih belum juga muncul.


Shena membuka pintu kamar mengintip Tama, apa masih sibuk dengan laptop nya atau tidak. namun Tama tampak tidak ada lagi di meja makan, menyadari hal itu, ia pun berjalan keluar dan mencari.


Iya melihat Tama tampak berbaring di sofa ruang tamu, ia pun tampak kecapean dan tertidur pulas. Shena menghela nafas sesak melihat nya, namun perlahan ia tersenyum saat melihat wajah Tama yang terlihat damai saat tidur.


Shena lalu masuk kembali ke kamar, lalu keluar lagi sembari membawa selimut, ia pun dengan hati-hati dan pelan, tanpa membangunkan laki-laki itu, menyelimuti nya dengan hati-hati agar tidak terusik.


•••


Keesokan hari nya.


Shena terbangun dan menyadari kalau jam sudah sangat siang, ia bahkan belum memasak, sontak ia lansung loncat turun dari tempat tidur nya. melupakan sejenak kalau ia tengah mengandung.

__ADS_1


Tapi sayang nya, Tama sudah tidak terlihat, ia sudah berangkat bekerja. Shena menghela nafas berat, duduk di kursi menyesali diri nya yang tidak biasa bangun pagi.


"Bagaimana cara nya minta izin sama Tama ya?, dia pagi sekali suruh berangkat ke kantor. Shena lalu menghubungi Tama dengan ponsel nya, tapi lagi-lagi Tama menghiraukan nya, tidak mengangkat telefon dari shena.


Setelah Shena sudah siap, ia pun duduk di teras rumah nya, menunggu Brams datang menjemput nya.


"Shena, apa sudah siap?." Tanya Kak Brams saat sampai.


"em, Aku sudah ,tapi aku belum memberitahu Tama kak." Ujarnya.


"Coba kau telefon lagi dia." Ucap Brams. Shena mengiyakan, dan menghubungi Tama, dengan hasil yang sama, Tama tidak mengangkat telefon nya.


Brams pun lalu berinisiatif menghubungi Tama, hanya dalam hitungan detik, Tama mengangkat telefon nya, Brama pun melihat wajah kekecewaan Shena.


"Ada apa kak?." tanya Tama.


"Aku ingin bilang, hari ini aku Shena akan ke tempat teman ku yg seorang chef, kata nya Shena ingin belajar, kami minta izin."Kata Brams.

__ADS_1


"Iya."Balas Tama singkat saja.


__ADS_2