Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
50 - Rumah Baru


__ADS_3

Pagi ini, Shena dan Tama pun akan pindah ke rumah baru mereka. Dengan mengendong Thalia mereka masuk ke dalam rumah itu.


"Shena." Tama memegangi tangan Shena. Shena melihat tangan nya di pegang Tama, ia menarik tangan nya agak kasar. mengingatkan Tama kalau ia tidak ingin di sentuh oleh nya.


"Istirahat lah, Aku akan menjaga Thalia."Ucap Tama. Shena menatap Tama dengan Dingin tanpa mengatakan apa pun.


Shena masuk ke dalam kamar. Tama melihat Shena yang bukan lagi Shena yang dulu, selalu bermanja dan bersikap manis pada nya, Kini ia melihat sosok Shena yang sangat berbeda, yang keras dan pemarah. tapi Tama tidak mengapa, karena ini semua karena ulah diri nya.


Saat hari sudah sore.


Shena menyiapkan makan malam untuk mereka, Dengan perasaan kacau dan di lema, Shena memasak makanan untuk mereka.


Saat ia menghidangkan Pun ia ragu Tama akan menyukai nya, tapi kekecewaan kemarin membuat ia menekan hati nya kalau Tama harus menyukai masakan nya, kalau sikap Tama masih sama, maka ia tak lagi akan memasak.


Saat makanan sudah siap, ia berjalan ke ruangan kerja Tama dan memberitahu nya.


"Makanan sudah siap."Ucap Shena dengan datar pada Tama yang tengah menatap laptop nya. bergumul dengan pekerjaan nya.

__ADS_1


Mendengar kalau Shena masih memanggilnya, Tama tersenyum kecil. ia lekas berdiri dari duduk dan menghampiri Shena yang duduk di meja makan.


Shena yang melihat Tama benar datang ke meja makan, tidak seperti awal awal mereka menikah, Tama yang terus menghindari nya.


Tama pun mulai mengambil nasi dan lauk nya, Saat menyicipi nya. Tama lalu makan seperti biasa ia makan dengan lahap nya, Sementara Shena memperhatikan ekpresi Tama, Apakah ia suka.


Shena pun mencicipi nya, namun ia lansung memuntahkan nya. Tama mengerutkan kening menatap Shena.


"Kau baik-baik saja?." Tanya Tama.


"Apa kau tidak bisa jujur sedikit pada ku Tam, Kalau kau tidak suka, kau seharusnya mengatakan nya, Aku benci dengan sikap pun yang selalu berpura-pura baik baik saja."Shena memarahi Tama, Tama pun hanya menatap nya dengan diam. bertanya kenapa Shena bereaksi seperti itu.


Tama pun menatap wanita itu pergi, lalu mata nya menatap ke sayuran. Rasa nya memang terasa agak asin, tapi menurut Tama itu bukan masalah yang besar, ia belajar untuk menghargai apa yang Shena kerjakan, namun hal itu pun ternyata Salah di mata Shena.


Shena menangis di kamar, Lagi-lagi air mata nya harus jatuh ketika bersama Tama.


"Pantas kalau kau tidak pernah menerima ku, karena aku memang tidak bisa apa-apa, bahkan memasak saja rasa nya tidak ada enak nya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat di kamar, Tama pun tak menyusul Shena ke kamar, hal itu membuat Shena berfikir kalau Tama masih sama seperti dulu.


Namun setengah jam kemudian, Tama masuk ke dalam kamar dan menghampiri Shena.


"Ayo makan."Ajak Tama. Shena hanya diam saja. bahkan memalingkan wajah nya ke arah lain.


Tama memegangi tangan Shena dan menarik nya untuk keluar dari kamar.


"Tama, lepas kan, apa kau Gila, makanan itu tidak enak dan kau mau memaksa ku memakan nya?." Marah Shena. Namun Tama tidak peduli, ia tetap memegangi tangan Shena sampai di meja makan.


Shena tercengang saat Tama setengah jam di belakang ternyata memasakkan untuk nya.


"Ayo duduk dan makan."Ucap Tama.


dengan ragu Shena duduk di meja makan. Tama pun mengambilkan makanan untuk nya, namun Shena menahan nya. "Aku bisa sendiri."Ucap Shena.


Tama pun mengangguk, dan kembali duduk, melanjutkan makanan yang di masak oleh Shena. Shena yang melihat pun ingin bertanya kenapa kau makan selahap itu. tapi gengsi Shena masih tinggi, ia pun tanpa memikirkan apa pun memakan makanan nya.

__ADS_1


.


__ADS_2