Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
35 - Meninggal!?


__ADS_3

Saat Shena tersadar, ada Tama duduk di samping nya menatap Diri nya. Shena sangat tidak suka saat orang yang ia lihat pertama kali bangun adalah Tama.


"Shena, kau sudah sadar." Ucap Tama.


Shena menatap Tama dengan dingin, Lalu memalingkan wajah nya ke pintu keluar.


"Ma..."


"Pa..." Shena memanggil kedua orang tua nya dengan dirinya yang masih lemas.


"Papa dan Mama pulang sebentar, kamu mau apa?, biar ku bantu." Ucap Tama.


"Aku gak perlu bantuan kamu, sebaiknya kamu pergi." Ucap Shena.


"Apa maksud kamu Shena?."


"Aku rasa perkataan sudah jelas Tama, Bayi kita sudah tidak, Alasan kita menikah adalah Dia, sekarang kau bisa bebas melakukan apa saja yang kau mau."Ucap Shena.


Meski kepala nya terasa pusing, namun ia mencoba kuat untuk menuturkan apa yang ada di hati nya.


"Kami sedih karena kehilangan anak kita, kamu pikir aku tidak sedih?."


Shena menitikkan air mata dengan segera ia memalingkan wajah nya.


"Kau yang membuat kita kehilangan dia, kau memang laki-laki yang jahat." Ucap Shena, dengan suara pelan dan lembut namun sangat menusuk.


"Aku tak melakukan apa pun."


"Selama ini kau tidak pernah disaat aku membutuhkan mu, kau juga tak pernah sekalipun bertanya bagaimana kondisi dia?, kau bahkan tidak Sudi mengantarku ku ke dokter." kata Shena.

__ADS_1


"Benar, Yang kau katakan itu benar, Kamu memang tidak melakukan apa pun." LANJUT Shena.


•••


Pak Anton dan Ratna pun sampai di rumah sakit bersama Pak Toni dan Bu Sisil.


Mereka semua terdiam saat melihat Shena menangis di atas tempat tidur.


"Shena, kamu harus sabar sayang, Jangan menangis seperti ini, kamu belum pulih betul."Ucap Bu Sisil.


"Kamu harus kuat Shena." Kata Kak Brams pada Shena.


Shena mengangguk dengan sedih nya, menyekat Air mata dengan tissu yang di berikan ibu nya. Tama terdiam penuh kesedihan dan penyesalan.


Tama mengakui ia memang tidak pernah memberikan Shena waktu selama Shena di rumah orang tua nya, Ia juga hanya datang dan tidur di sana saat hari libur kerja.


Belum ada kesiapan


"Ma, Pa." Shena menatap kedua orang tua dan juga orang tua Tama. tatapan Shena sendu, kedua mata berkaca kaca melihat orang tua di depan nya.


Tama pun ikut menatap Shena saat Shena seolah akan membicarakan sesuatu.


"Iya sayang."


"Aku dan Tama....,akan bercerai setelah aku keluar dari rumah sakit."Ucap Shena.


Semua sangat terkejut begitu pun Tama.


"Apa yang kamu bicarakan Shena." Pak Anton membentak Shena. Pak Toni menahan Pak Anton untuk berhenti bicara.

__ADS_1


"Ada Apa Shena?, Apa Tama menyakiti mu?." Tanya Pak Toni.


Tama ingin bertanya ada apa,tapi sudah terwakilkan oleh ayah nya.


"Aku rasa kami tidak cocok saja Pa, kami sudah sama-sama berusaha."Ucap Shena singkat.


Pak Toni menatap Tama yang terdiam, dengan geram penuh kecewa ia nyakin Putra nya telah melakukan sesuatu hingga membuat Shena ingin bercerai.


"Tidak usah bahas ini dulu, nanti saja setelah kamu sudah pulih."Ucap Bu Ratna.


Pak Toni lalu mengajak Tama keluar, menarik tangan putra nya, mencengkram nya dengan kuat. Pak Anton dan Brams pun menyusul Pak Toni dan menantu nya.


"Plak."


Sebuah tamparan melayang di pipi Tama.


"Apa kau sudah dengar kata istri mu, Sekarang kata kan, Apa yang membuat nya sampai berfikir seperti itu?." Tanya Pak Toni.


"Aku tidak tahu."


Pak Toni kembali mengangkat tangan nya untuk melayangkan 1 tamparan lagi, Namun Pak Anton lebih dulu menahan nya, mencoba menenangkan pak Toni untuk duduk bicara dengan tenang.


Tama yang mengingat Shena mengajak nya bercerai mengepalkan tangan nya.


•••


Bantu Like dan Vote nya ya Teman-teman. Biar Author tambah semangat buat Update setiap hari. tinggalkan komentar kalian, Supaya Author tahu ni kalian suka dengan cerita ini.


Terima kasih banyak ya 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2