Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
37 - Kesedihan Shena


__ADS_3

Brams pun membawa Tama pulang, sementara di rumah sakit tinggal Shena dan keluarga nya.


"Pa, Ma, Aku mau lihat dia."Ucap Shena.


"Papa sudah minta perawat untuk menjaga nya sampai nanti bisa di bawa pulang." ucap Pak Anton.


"Iya Shena, kamu kan masih lemah, Kata Dokter 1 atau 2 Minggu sudah bisa di bawa pulang, nanti Papa sudah minta perawat yang profesional lanjut mengurusnya di rumah."Ucap Bu Ratna.


"Papa dan Mama pasti akan setiap hari datang kesini menjenguknya."Lanjut Bu Ratna.


"Engak pa, Shena mau lihat anak Shena sekali lagi."Ucap Shena.


Shena baru sekali melihat buah hati nya saat selesai operasi, Setelah beberapa hari di rumah sakit, Shena tidak bisa melihat bayi nya karena Ada Tama dan Brams.


Pak Anton menatap Istri nya, Istri nya pun mengangguk tanda setuju. pak Anton membawa Shena jalan perlahan keruangan dimana Bayi Shena di rawat.


Karena bayi Shena lahir Prematur, Bayi Shena pun harus masuk ke dalam kotak khusus. Shena sangat terluka dengan apa yang di alami oleh buah hati nya.

__ADS_1


Bukan menyalakan Tama, ia menyalakan diri nya sendiri karena terlalu bodoh mencintai Tama hingga melupakan kalau ada nyawa yang berharga di dalam Tubuh nya.


Dari balik Kaca, Shena melihat putri nya di ruang NICU, Air mata Shena mengalir ketika melihat buah hati nya yang terbaring di dalam Inkubator.


wajah yang begitu hangat terlihat tertidur membuat Shena rasa ingin mendekap nya.


•••


Setelah dari ruangan NICU. Shena pun di bawa pulang oleh Pak Anton dan Bu Ratna untuk pemulihan nya. Hati Shena tidak tenang ketika mengingat Buah hati nya seorang putri kecil masih tertinggal di rumah sakit.


"Pa, Shena gak mau pulang, Shena mau di sana saja temani anak Shena Pa, Ma, Kita Sewa kamar saja untuk sampai bayi Shena bisa pulang."Ucap Shena.


Sebelum Operasi di lakukan, Shena meminta ayah dan ibu nya untuk tidak mengatakan pada Tama kalau kalau bayi mereka telah lahir, ia hanya ingin Tama tahu kalau anak nya telah meninggal. Karena Shena tak lagi ingin berhubungan lagi dengan Tama.


Pak Anton dan Bu Ratna hanya bisa mengiyakan permintaan putri mereka, Meski itu berarti mereka juga berbohong dengan besan mereka.


"Ma, Apa kita melakukan hal yang benar membohongi keluarga Tama?." Tanya Pak Anton.

__ADS_1


"Itu kan permintaan Shena, lagi pula kalau mereka benar-benar bercerai, sudah tidak ada hubungan lagi kita dengan mereka Pa."Balas Bu Ratna.


"Jangan ngomong begitu juga dong Ma, bagaimana pun Toni itu sahabat ku."Balas Pak Anton.


"Iya, tapi putra mereka sudah menyakiti anak kita."Ucap Bu Ratna.


Sementara di kamar, Shena memeluk bantal, Mengingat rasa sakit yang ia rasakan karena mencintai Tama, bahkan putri mereka harus sendirian di ruangan khusus untuk bisa tubuh dengan baik.


Shena pun menangis sendu, memikirkan buah hati nya. "Maafkan Mama sayang." Ucap nya lirih.


Tiba-tiba Ponsel Shena berbunyi, Ia melihat itu telefon dari Tama. Untuk pertama kali nya setelah menikah Tama menghubungi nya. Shena menghiraukan telefon dari Tama, menaruh nya di samping diri nya tengah berbaring. air mata Shena terus mengalir tanpa henti.


Bu Ratna yang datang melihat Shena menangis, dengan cepat menyekat air mata itu dengan Tissu.


"Jangan seperti ini Shena, kamu tidak boleh stres, kamu kan masih masa pemulihan, bagaimana mau cepat pulih kalau terus menangis." Ucap Bu Ratna agak marah, namun meski begitu sebenarnya Bu Ratna sedih. hanya berusaha tegas untuk putri nya.


"Anak Shena ma."

__ADS_1


"Kalau kamu cepat pulih, Kamu bisa ke rumah sakit untuk melihat nya, kalau kamu terus menangis dan lemah bagaimana bisa kamu kerumah sakit."Ucap Bu Ratna.


Ucapan ibu nya membuat Shena menatap ibu nya, yang di katakan ibu nya ada benarnya, ia harus pulih dulu.


__ADS_2