
Beberapa bulan pun berlalu, seperti biasa Tama datang di hari libur kerjanya untuk menemani Shena. Shena yang kini perutnya sudah semakin besar pun mulai sering kelelahan.
Selama Shena tinggal di rumah orang tua nya, ia meminta seseorang untuk mengawasi Tama untuk nya, Shena merasa sangat senang karena tak pernah terdengar kabar Tama jalan dengan Yuna, Shena mulai melonggarkan rasa khawatir suami akan berselingkuh dengan wanita lain atau pun dengan sang mantan.
Meski Tama masih dingin pada nya, Shena merasa Tama kini mulai lebih lembut pada nya, entah lah karena Shena ada di rumah orang tua nya atau memang itu tulus dari Tama.
Sesekali Tama membawakan makanan kesukaan Shena saat ia datang Sabtu malam.
•••
Di dalam kamar.
Shena menyisir rambut nya di depan meja rias, sementara Tama tampak menatap layar laptop sembari bersandar di tempat tidur.
Tiba-tiba Tama mendapatkan pesan dari Yuna. "Tam, Besok aku boleh minta tolong sama kamu gak antar aku ke dokter, aku lagi sakit."Isi Pesan Yuna.
Tama tercenung, ia melihat Shena yang duduk tidak jauh posisi nya dari diri nya.
"Tama, Aku tidak lama akan melahirkan, Hanya tinggal 3 bulan lagi, Aku boleh ya ikut kamu pulang?." Tanya Shena.
"Untuk apa?, disini saja. Disini ada Mama papa yang menjaga mu."Balas Tama.
"Tapi aku kangen rumah."Alasan Shena. Tama menyunggingkan senyum tipis di bibirnya mendengar hal itu.
"Besok kita ke rumah sakit kan?, Aku ada jadwal cek kandungan." Ucap Shena.
__ADS_1
Tama terdiam. "Aku besok ada Meeting penting dengan Bos."Balas Tama.
"Ya sudah, biar aku sama Mama saja nanti."Balas Shena.
"Hm."
Shena pun tersenyum kecut, padahal ia sangat ingin Tama melihat perkembangan sang buah Hati, tapi Tama selalu punya alasan untuk tidak mengantar ny bertemu dokter.
"Tam, Apa tidak boleh kau memberiku sedikit waktu, kau bahkan tak pernah mengelus perut ku."Ucap Shena.
"Apa ini harus jadi masalah?, Aku bekerja untuk siapa kau pikir?." Balas Tama.
"Turunkan nada bicara mu Tam, aku bicara dengan suara pelan, bagaimana kalau di dengan Mama Papa." Shena merasa berontak saat ia mendengar nada bicara Tama yang rasa nya tidak enak.
"Tapi Tam..."
"Sudah lah, aku mau tidur." Potong Tama. menutup laptopnya dengan kasar dan menaruh nya di atas meja.
Shena menghela nafas berat dengan perasaan sedih.
•••
Keesokan pagi nya. Tama kembali mengacuhkan Shena, saat Shena akan membantu nya merapihkan Dasi, Tama memilih untuk melakukan sendiri. menghiraukan wanita itu begitu saja.
Shena pun tahu kalau Tama masih marah pada nya perihal kemarin.
__ADS_1
"Apa salah nya aku menuntun sedikit waktu dari seorang suami, dia malah mengacuhkan ku begitu saja."Batin Shena.
Setelah sarapan bersama,Tama pun ke kantor tempat kerja nya mengunakan mobil Shena, karena permintaan Pak Anton. untuk menghargai orang tua, Tama pun menyetujui meski sebenarnya enggan.
"Hati-hati Tama." Shena yang mengantarnya sampai teras rumah. Tama Tidak menyahuti ucapan Shena. Shena pun hanya bisa menelan kepahitan hati menerima acuhan yang ia terima selama beberapa bulan setelah menikah dengan Tama.
•••
Dalam perjalanan ia mendengar ponsel nya berdering. Tama pun meraih dan melihat Nomor Yuna menghubungi nya.
"Iya Yuna."
"Tama, Aku pikir kau tidak mau mengangkat telefon ku." ucap Yuna. Tama terdiam.
"Tam, Aku sedang sakit, boleh aku minta tolong pada mu, semalam aku mengirimi mu pesan, tapi kau tidak membalas nya." Ujar Yuna dengan suara terdengar lirih.
"Apa tidak ada yang bisa mengantar mu?." Tanya Tama.
"Kalau ada aku tidak mungkin menghubungi mu Tam, Aku di rumah sendirian."Balas Yuna.
•••
Bantu Like dan Vote nya ya Teman-teman. Biar Author tambah semangat buat Update setiap hari. tinggalkan komentar kalian, Supaya Author tahu ni kalian suka dengan cerita ini.
Terima kasih banyak ya 🤗🙏
__ADS_1