
"Kau jelek sekali muka murung begitu." Kika menghampiri Shena yang duduk di teras rumah.
"Ki, Aku takut Ki.." Ucap Shena dengan sendu.
"Takut?, takut apa?." Tanya Kika heran.
"Soal Tama, bagaimana kalau nanti dia selingkuh Ki?, balikan sama Yuna contoh nya, apa lagi aku sekarang di rumah Mama, makin leluasa kan dia." Tutur Shena.
Kika mendengar mengelengkan kepala nya.
"She, Untuk apa sih di pikirkan itu, dokter kan udah bilang kamu ga boleh terlalu stres, lagian Tama kalau memang menganggap pernikahan kalian itu ada, dia ga akan berani selingkuhi kamu."Ucap Kika.
"Tapi Ki, kamu sendiri kan tahu, Tama memang gak mau pernikahan ini."Ucap Shena dengan sedih.
"Kalau dia berani selingkuh, berarti dia bukan yang terbaik untuk kamu, sekarang fokus ke anak kamu aja, kasian dia ikutan stres sama mama nya."Balas Kika.
Shena cemberut, namun setelah itu ia tersenyum dan mengandeng tangan Kika yang duduk di samping nya.
menjalani LDR dengan Tama tentu saja membuat Shena sedih, terlebih ia mengkhawatirkan Tama akan kembali pada Yuna, seperti foto mereka makan di sebuah restoran.
Namun Shena tak bisa melakukan apa pun selain fokus pada kehamilan nya. Sesekali Shena menghubungi Tama untuk menghilangkan kecemasan nya, namun seperti biasa Tama tidak pernah mengangkat telefon dari nya.
__ADS_1
•••
"Papa dan Mama sangat kecewa dan malu Shena sampai kembali ke rumah orang tua nya."Ucap Bu Sisil. Tama hanya diam saja saat kedua orang tua nya datang untuk memarahi nya perihal kepulangan Shena kerumah orang tua nya.
"Kamu itu suami nya, kenapa bersikap seperti itu pada Shena, Dia itu gadis yang baik Tama..., Kalian sudah mengenal sejak kecil, masak seperti itu saja kamu tidak bisa mengerti Shena. terlepas apa yang membuat kalian bisa menikah, Kamu jangan melupakan tanggung jawab kamu."Lanjut Pak Toni.
"Dengar ga Tam.." Tegas Brams.
"Hm." balas Tama.
"Nanti aku akan coba bicara lagi sama Kedua orang tua Shena."Balas Tama.
"Heran Papa sama kamu itu, seperti anak kecil saja, tidak di ingatkan tidak tahu apa-apa, atau memang kamu sengaja tidak mau tahu?." Tama kembali diam mendengar ucapan ayah nya.
Meski sudah berkata seperti itu, Tama tidak melakukan apa pun, ia tetap tidak mengajak bicara orang tua Shena, membiarkan Shena berada di rumah orang tua sampai Shena melahirkan nanti.
seperti janji nya pada Shena, Tama akan datang setiap hari Sabtu dan menginap disana 1 hari.
•••
Hari itu. di hari Sabtu malam.
__ADS_1
Tama datang ke rumah orang tua Shena. Shena yang melihat Tama datang pun begitu semangat lansung memeluk laki-laki itu.
Tama hanya diam dan merangkul Shena untuk berjalan masuk, saat melihat Kedua orang tua Shena tengah melihat ke arah mereka.
Pak Anton pun tersenyum melihat putri nya yang murung setiap hari ini, kini tersenyum lebar menyambut kedatangan suami nya.
"Ayo duduk Tama, Mama sudah siapkan makan malam untuk kita semua." Kata Bu Ratna.
"Baik Ma." Balas Tama.
"Bagaimana kerjaan kamu tama?." Tanya Pak Anton.
"Baik Pa."
"Shena, Ini Susu, habis makan jangan lupa di minum."Bu Ratna memberikan minuman susu untuk Shena.
Tama pun melihat pemandangan di depan nya, Shena di rumah orang tua nya seperti putri di layani dengan baik, sementara di rumah mereka, Shena berusaha melayani suaminya dengan baik setiap hari, walau sering di acuhkan oleh Tama.
Bahkan luka di tangan Shena karena tersentuh kuali panas masih membekas saat ia mengangkat sendok untuk makan.
•••
__ADS_1
Bantu Like dan Vote nya ya Teman-teman. Biar Author tambah semangat buat Update setiap hari. tinggalkan komentar kalian, Supaya Author tahu ni kalian suka dengan cerita ini.
Terima kasih banyak ya 🤗🙏