Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
21 - Dimarahi


__ADS_3

Sore hari saat Shena pulang, ia melihat Motor Tama sudah terparkir di halaman rumah, Shena melihat jam di pergelangan tangan nya, melihat jam yang baru saja pukul 4 sore.


Shena pun segera turun dengan belanjaan di tangan nya.


Shena masuk dengan semangat dan melihat Tama tengah duduk di ruang tamu. "Tama, Kau sudah pul...." "Dari mana saja?." Tama Memotong ucapan Shena.


Nada bicara dan raut wajah Tama yang tampak buruk membuat Shena menelan Saliva nya. suasana hati Tama seolah terbaca Oleh Shena seperti ia tengah melakukan kesalahan besar.


"Aku kan sudah bilang aku mau ke mall dengan Kika."Jawab Shena ragu-ragu.


Tama berdiri dari duduk nya. berjalan mendekati Shena yang berdiri mematung di ambang pintu.


"Apa kau sudah gila?, Kau belanja sebanyak ini dengan kartu yang ku berikan?." Ucap Tama.


"Maaf Tam." Suara Shena mulai terbata bata, ia merasa takut saat Tama membentak nya. tatapan itu sangat dingin penuh kemarahan.


"Dengar Shena, dengan kau menikah dengan ku, berarti kau sudah tahu kalau aku bukan orang kaya seperti mu yang bisa belanja sesuka mu."Ucap Tama.

__ADS_1


"Aku minta maaf Tam, Aku ganti uang mu." jawab Shena.


"Iya, Mengembalikan uang ku dengan uang ayah mu untuk mempermalukan ku begitu?." Ucap Tama.


Shena pun semakin di buat salah terus ketika berkata, Ia binggung apa lagi yang ingin ia katakan.


"Lain kali, belanja pake otak mu."Ucap Tama. sembari berjalan pergi.


"Kenapa sih Tam, harus semarah ini pada ku, aku hanya belanja sedikit, Kenapa semarah itu."Ucap Shena.


Tama mendengar membuang nafas kesal, mengelengkan kepala nya dan berjalan pergi keluar untuk kembali ke kantor.


Tiba-tiba Pak Toni dan istri nya datang, membuat Shena yang tengah menangis terkejut. ia lekas menyekat air mata nya, namun Bu Ratna dan Pak Anton sudah melihat nya lebih dulu, barang-barang yang berserakan di lantai membuat Bu Ratna semakin khawatir.


"Mama, Papa."


"Kenapa Shena, Kenapa menangis?."Tanya Bu Ratna.

__ADS_1


"Apa Tama menyakiti mu?." Tanya Nya lagi. Shena mengelengkan kepala nya.


"Lalu kenapa?."Tangan Bu Ratna penuh ke ingin Tahuan.


"Tama memberikan ku kartu ATM nya, saat dia dengar aku ingin belanja, Aku membeli mereka." Mata Shena melihat kebarang-barang yang berserakan di lantai.


"Dan dia marah karena aku mengunakan nya terlalu banyak."lanjut nya.


Mendengar hal itu, Pak Anton mengelengkan kepala nya, Begitu juga dengan Bu Ratna.


"Kalau dia marah kenapa tidak kembalikan saja, kamu kan ada yang yang Mama papa kasih tiap bulan, sama Istri sendiri aja perhitungan."Ucap Bu Ratna. Shena hanya diam, Ia tak mungkin memberitahu ibu nya kalau Tama tak ingin mengembalikan dengan uang ayah nya.


"Jangan bicara seperti itu juga ma, Tama itu anak yang mandiri, tidak pernah menyusahkan orang tua, dia pasti tidak ingin Shena menyusahkan kita, karena Shena kini adalah tanggung jawab nya."Ucap Pak Anton.


"Setahu Papa, Tama itu memiliki 1 tabungan sejak ia mulai kuliah sambil bekerja, Siapa tahu itu uang yang di berikan pada kamu, kamu habiskan begitu saja hanya untuk belanja baju-baju yang tidak penting ini, tentu saja dia kecewa. kalau Papa jadi dia, Papa juga akan marah Sama Mama."Kata Pak Anton dengan tegas.


Mendengar kata-kata ayah nya, Shena pun merasa sangat bersalah pada Tama, Bagaimana kalau itu benar, itu tabungan Tama selama ini.

__ADS_1


Di atas motor menuju ke tempat kerja, Tama memijit kening nya dengan kesal. yang di katakan pak Anton itu benar, semua tabungan nya selama ini, sejak ia masih kuliah habis begitu saja, Ia sangat kesal karena Shena masih tidak paham atas kemarahan nya. Bagi Shena yang memiliki banyak uang mungkin itu jumlah yang sedikit, Tapi Bagi Tama itu sangat sulit di kumpulkan sedikit demi sedikit. kini malah habis tak bersisa.


Shena yang sudah terbiasa berbelanja dengan uang ayah nya tidak memikirkan semua itu dari awal. kini ia sangat menyesal perbuatan nya.


__ADS_2