Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
38 - Penyesalan


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, selama itu juga Shena merindukan buah hati nya, hanya Pak Anton dan Ratna saja yang bolak balik melihat cucu nya.


Shena hanya duduk di tempat tidur, melihat keluar jendela merindukan putri kecil nya di rumah sakit.


Entah kapan ia bisa bertemu, namun yang kini Shena tekad kan adalah segera pulih agar ia pun bisa melihat sang buah hati nya.


Shena pun sudah tidak sabar bisa menyusui anak nya, karena asi nya hanya di ambil melalui alat dan di bawa kerumah sakit oleh Orang tua nya.


Bu Ratna masuk ke dalam kamar Shena yang tersenyum saat ibu nya datang, Bu Ratna senang karena putri nya sudah bisa tersenyum saat ini, Tekad ingin Pulih Shena benar-benar sudah muncul.


"Di luar Ada Tama dan keluarga nya, Apa kamu mau bicara dengan nya?." Tanya Bu Ratna.


"Maaf Ma, tapi Shena belum mau bertemu dengan nya, Suruh dia pulang saja."Ucap Shena.


"Baik lah, Oh ya sayang, coba kamu lihat ini mama Video in buat kamu."Ucap Bu Ratna sembari memperlihatkan rekaman anak Shena yang terlihat seperti bayi pada Umum nya, Shena tersenyum bahagia hingga menitikkan air mata.


"Mama kenapa bisa mendapatkan video ini?." tanya Shena sembari menyekat air mata nya.

__ADS_1


"Mama izin sayang, tapi ga bisa lama-lama." Balas Bu Ratna.


Shena lansung memeluk Ibu nya. "Makasih Ya Ma."Bu Ratna tersenyum mengelus kepala putri nya itu.


•••


Sementara di luar.


Tama begitu gelisah, sesekali ia melirik ke arah kamar Shena berada. Tama benar-benar tidak di beri hak oleh Pak Anton dan Bu Ratna untuk menemui Shena.


Tama sangat ingin bertemu dengan Shena dan membicarakan tentang pernikahan mereka, Meski di awal Tama tak ingin pernikahan ini terjadi, tapi Tama juga tidak menginginkan pernikahan mereka berakhir seperti ini.


•••


Tama tampak duduk di teras rumah memikirkan Shena.


Bu Sisil dan Pak Toni pun sedih melihat kondisi putra mereka yang tampak murung.

__ADS_1


"Kasian Tama Pa, dia seperti nya sedih karena berpisah dengan Shena." Ucap Bu Sisil.


"Entah lah Ma, Papa gak ngerti dengan jalan pikiran anak itu." Balas Pak Toni.


Pak Toni dan Bu Sisil merasa sedih karena perubahan sikap Tama yang makin pendiam, kenapa Tama harus sesedih itu, kalau memang ia sejak awal tidak menginginkan pernikahan ini, apa Tama sudah mencintai Shena?, atau ia kasihan dengan wanita itu?.


Brams yang baru saja pulang bekerja menghampiri Tama dan duduk di samping nya.


"Tumben udah di rumah aja, gak lembur lagi?." Tanya Brams.


"Tidak."


Brams menepuk pundak sang adik. "Kelihatan nya ada yang menyesal ya?." Tanya Brams. Tama diam.


"Penyesalan itu selalu datang belakangan Tam, tapi meski begitu kita masih bisa memperbaiki kesalahan itu, aku percaya kau bisa mendapatkan hati Shena lagi."Ucap Brams.


Tama menyungging kan senyum kecil mengelengkan kepala nya. "Sekarang kau sudah semakin bijak."Ucap Tama.

__ADS_1


"Aku dari dulu selalu bijak, kau saja tidak tahu."Balas Brams.


Malam itu, Hubungan Tama dan Brams yang kemarin sempat dingin pun mulai merenggang ketika Brams mulai mengajak nya bicara lebih dulu, Brams pun sangat kasian mengingat kondisi Shena, dan melihat ada raut penyesalan di adik nya, membuat Brams berharap hubungan Tama dan Shena akan kembali baik-baik saja.


__ADS_2