Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
44 - Menerimanya


__ADS_3

Pak Anton pun kembali ke rumah untuk membicarakan ini pada Shena. Shena yang mendengar kalau Tama telah mengetahui semua nya pun hanya diam.


Benar kata ayah nya, seperti apa pun ia menyembunyikan pasti akan ketahuan juga, namun Shena tak menyangka semua akan begitu cepat di ketahui Tama.


"Shena, pikirkan tentang anak mu, dia sangat membutuhkan sosok ibu dan ayah disisi nya, coba lah untuk memberi Tama kesempatan kedua, biarkan dia belajar, Papa juga sudah melihat penyesalan nya di wajah Tama."Ucap Pak Anton mencoba memberikan pengertian dengan hati-hati dan kata yang lembut pada putri nya.


Shena tak lansung menjawab, ia terdiam sejenak sembari menatap ibu nya, Bu Ratna pun hanya diam saja, tak seperti sebelum nya yang selalu tidak suka dirinya dengan Tama.


"Baiklah, Shena akan kembali pada Tama, tapi seperti yang Papa kata kan pada nya, aku ingin tinggal di rumah yang lebih besar dan dia bekerja di kantor Papa, Aku tidak ingin hidup susah dengan orang yang tak menghargai ku pa."Ucap Shena tatapan sendu. kalimat yang amat kasar itu sebenarnya amat berat untuk ia katakan. namun ia ingin mempertegas saja kalau dirinya sudah terlanjur kecewa dengan Tama yang tak pernah menghargai diri nya yang padahal sejak awal menerima nya apa ada nya dan mengikuti semua yang Tama Inginkan, bahkan ia memohon dengan ibu nya untuk tidak ikut campur.

__ADS_1


Pak Anton dan istri nya saling melihat sebelum akhirnya, ia mengiyakan ucapan Shena.


•••


Setelah pembicaraan dengan Shena, Pak Anton pun menghubungi Pak Toni dan untuk mengatur pertemuan keluarga untuk merujukkan kedua anak mereka untuk kembali bertemu dan berdamai.


Mendengar kabar dari Ayah nya, Tama tentu saja tersenyum tipis walau ada kegundahan hati nya yang merasa telah di bohongi, tapi semakin ia menuntut kata maaf dari Shena, semakin ia memperburuk hubungan mereka, hingga Tama memilih untuk diam dan mengikuti semua nya agar ia dapat bertemu lagi dengan anak nya yang ia sudah dengar berjenis kelamin perempuan itu.


•••

__ADS_1


Kak Brams yang keluar dari kamar melihat Tama duduk di teras rumah, ia pun segera menghampiri. menepuk pundak nya dan duduk di samping sang adik.


"Melamun saja."Ucap Brams. Tama melirik namun ia tak menjawab ucapan sang kakak.


"Kau masih galau saja, hei Tama, aku perlu mengklarifikasi sesuatu pada mu, meski kau tahu tentang perasaan ku dulu pada Shena, seharusnya sekarang kau tahu kalau Shena bagiku saat ini hanya seorang adik ipar, dia adalah istri mu, Aku tak mungkin menyukai istri mu diam-diam, tapi aku sayang pada nya, seperti aku menyayangi mu."Ucap Brams.


Brams lalu melihat ke langit-langit yang di penuhi bintang-bintang cerah, membuat hati yang memandang terasa damai saat itu.


"Shena itu wanita yang baik dan ceria, siapa pun yang bersama nya akan merasa suasana begitu ramai, Tapi kau lihat bagaimana perubahan diri nya setelah menikah dengan mu, itu yang membuat ku sempat marah pada mu tam, tapi setelah aku melihat kau kini sudah menyesali perbuatan mu, aku jadi ikut terharu, ternyata kau sudah dewasa."lanjut Brams.

__ADS_1


"Meski Shena bukan cinta mu, tapi aku tahu kau pasti sayang pada nya, entah sebagai istri, teman atau pun lain nya. karena kalau kau tak sayang pada nya, tak mungkin kau begitu sabar selama ini menjadi teman nya. meski Shena terus mengusik mu, tapi kau tetap menerima wanita itu sebagai teman mu, dengan sabar menerima kehadiran nya setiap hari."Ucap Brams.


Hati Tama gundah, tak ada kata yang bisa ia ucapkan saat ini untuk membalas ucapan brams selain sunggingan senyuman pada sang kakak.


__ADS_2