Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
36 - Menangis


__ADS_3

Di dalam kamar Shena menangis sesegukan, Shena tak bisa menahan dirinya untuk menangis setelah apa yang terjadi pada buah hati nya.


Bu Ratna dan Bu Sisil hanya bisa mencoba menenangkan Shena untuk jangan terlalu bersedih. perlahan obat bius yang ada pada tubuh nya membuat nya kembali tertidur.


"Pa, Mama tidak tahan melihat keadaan Shena sekarang."Ucap Bu Ratna menangis di pelukan Suami nya.


"Maafkan saya Mbak, Saya belum bisa menjadi Orang tua yang baik, sampai Tama memperlakukan Shena tidak baik." Ucap Pak Toni.


"Tidak perlu minta maaf Ton, belum tentu Tama melakukan kesalahan, Kondisi Shena memang sedang tidak stabil." Ucap Pak Anton. Pak Toni mengangguk kecil.


Tiba-tiba Suster datang mengatakan kalau Jam besuk telah habis, hanya 2 orang yang boleh menjaga Shena disini.


"Mari kita pulang Toni, biar kan Tama yang menjaga Shena." Ucap Pak Anton.


"Pa.." Lirih Bu Ratna yang tidak setuju Tama yang menjaga Shena, karena takut Shena akan kembali menangis. terlebih Bu Ratna takut Tama akan menyakiti Shena karena Shena ingin bercerai.


"Baiklah, Dan kau Tama, Jaga Shena disini, jangan mengatakan apa pun yang akan membuat dia menangis, sudah cukup kau buat dia seperti ini."Tegas Pak Toni. Tama menganggukan kepala.


"Brams, kau temani Tama disini." Kata Pak Toni lagi.

__ADS_1


"Baik Pa."Balas Brams.


•••


Setelah semua pulang.


Tama menatap Shena yang tertidur, Ia tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi, ia bahkan tidak mengerti kenapa Shena mengajak nya bercerai.


Tama sedih ketika mengingat Buah hati mereka telah tiada, meski ia tidak perduli selama ini bukan karena ia tidak sayang, tapi karena ia tidak tahu harus melakukan apa.


"Shena itu wanita yang baik, dia juga mencintai kamu, kamu terlalu menyia-yiakan nya Tam. sekarang bukan hanya kehilangan Shena, kau juga kehilangan bayi mu karena keegoisan mu."ucap Brams.


"Terkadang nasehat orang perlu sedikit untuk di dengar, jangan di tolak mentah-mentah."Ucap Brams.


Brams menghela nafas berat, lalu keluar untuk membeli kopi.


Saat Brams pergi, Air Mata Tama jatuh tanpa siapa pun tahu.


Meski ia kecewa dengan pernikahan ini, tapi ia juga tidak menolak tentang bayi mereka, tapi kini ia kehilangan, hati Tama benar-benar patah saat ini, mengingat Shena pun akan meninggalkan nya. Bukan perceraian yang ia inginkan dari pernikahan ini.

__ADS_1


3 hari pun berlalu, Di dalam 3 hari itu Juga, Shena tidak sama sekali mengatakan apa pun, Saat Tama disisi nya, Shena memilih memalingkan wajah nya, bahkan saat ia di haruskan untuk belajar duduk dan berjalan sebelum pulang, Shena pun tak ingin di bantu oleh Tama, Ia meminta Brams yang membantu nya.


Tama seperti patung yang tidak berguna, karena Shena tak ingin bantuan nya sama sekali.


"Pa..."Ucap Shena.


Mendengar panggilan putri nya, pak Anton seperti mengerti.


Iya menatap Tama dan Brams. "Besok Shena akan pulang, Biar Shena pulang ke rumah kami dulu, dan kamu Tama, sementara jangan temui Shena dulu sampai ia benar-benar pulih."Ucap Pak Anton.


"Tapi Pa."


"Tolong pengertian nya kalo ini Tama."Ucap Pak Anton membuat Tama pun tak bisa berkata apa pun lagi.


Semua yang di katakan pak Anton atas permintaan putri nya, sebagai seorang ayah yang menyayangi putri nya, tentu saja apa yang Shena alami saat ini sangat melukai hati nya juga sebagai ayah Shena, namun ia berusaha bersikap baik dengan Tama, selain mengingat Tama adalah anak yang baik, Pak Anton juga mengingat pertemanan nya dengan Pak Toni.


•••


Bantu Like dan Vote nya ya Teman-teman. Biar Author tambah semangat buat Update setiap hari. tinggalkan komentar kalian, Supaya Author tahu ni kalian suka dengan cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih banyak ya 🤗🙏


__ADS_2